Home » Kasus Unik, Kebiasaan Anak, Seksualitas

Anak Masturbasi

28 August 2010 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

Dear Psikologi Anak,

Perkenalkan, nama saya D, saya mohon sarannya mengenai anak laki saya. Dia saat ini baru berusia 12 tahun, tapi saya pernah tanpa sengaja memergokinya memainkan kemaluan di kamarnya sampai ada bercak sperma. Begitu saya masuk, dia langsung terkejut tapi belum sempat memakai celananya kembali. Saya kuatir dengan masalah ini. Perlu diketahui, anak saya itu pendiam dan tertutup.

Dia lebih suka menghabiskan waktu di kamar bermain komputer sehingga jarang bergaul dengan teman-teman sebaya. Bagaimana cara mengatasinya?

Salam,

D


One Comment »

  1. Yth Bu D,

    Fase pubertas memang merupakan fase yang seringkali membuat orang tua di budaya timur, cenderung kuatir akan perilaku anaknya dalam hal seksual. Namun, fase ini tidak dapat dihindari, bahkan alamiah karena di saat-saat inilah, anak perlahan-lahan mulai berkembang memasuki masa dewasa yang lebih matang.

    Pergaulan maupun perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat berbagai informasi semakin mudah dijangkau, terutama dengan semakin murahnya akses internet beserta peralatan yang mendukung.

    Pada fase ini, terlihat bahwa orang tua tidak lagi berperan dominan seperti di masa-masa sebelumnya, melainkan sudah ada factor lingkungan yang dapat dijadikan acuan oleh anak.

    Agar tercapai keseimbangan pada fase ini, dan bukannya semakin menekan dorongan alamiah tersebut (karena bila semakin menekan, akan semakin mudah meledak) atau justru kebablasan, maka peran orang tua sebagai figure sahabat (tempat curahan hati yang bebas dari penghakiman atau gertakan, sekaligus sumber informasi yang paling terpercaya dibandingkan yang lain) menjadi sangat vital.

    Kami simpulkan, ada 2 masalah utama yang dialami oleh putra ibu, yaitu:

    1. Masalah Pengalaman Seksual dalam Fase Pubertas

    Kuncinya sebenarnya sederhana, yaitu Komunikasi antara orang tua dengan anak tentang perkembangan seksual. Mungkin pada awalnya akan terkesan canggung bila dilakukan seperti layaknya seorang hakim kepada terdakwa. Oleh sebab itu, memposisikan diri sebagai sahabat yang mencintai, akan lebih mudah diterima. Hal ini sebenarnya bukan hanya pada anak saja, bahkan orang dewasa sekalipun, tentu akan lebih nyaman diperlakukan sebagai sahabat dibandingkan sebagai terdakwa. Ibu dapat mengikuti tips-tips teknis seperti yang kami uraikan dalam artikel “Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak” di http://www.infoanak.com

    2. Masalah Pergaulan Sosial, terutama dengan teman sebaya

    - Di sini peran orang tua untuk mendorong anak lebih berani berpendapat dan terus diajak

    berkomunikasi secara win-win solution (artinya, anak-pun diajarkan untuk mencari solusi yang
    sama-sama enaknya bagi keluarga), akan memunculkan kepercayaan diri dalam dirinya, bahwa
    dia sudah dianggap dewasa dan dianggap dapat memberikan kontribusi.
    - Tentu hal ini perlu dilakukan secara konsisten oleh orang tua dan diarahkan secara bijak
    (bukan keras apalagi ancaman), bila anak kebablasan di mata orang tua. Kebanyakan problem
    orang tua dengan karakter anak remaja yang tertutup disebabkan karena ketidaktegasan
    dan ketidakkonsistenan orang tua sendiri. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa orang tua
    cenderung keras ketika anak masih kecil, namun, menjadi tidak tegas ketika menginjak remaja,
    yang pada akhirnya menjadikan anak seakan lepas kendali akibat dari perasaan terkekang
    semasa kecil.
    - Aktif mengajak anak dalam pergaulan-pergaulan social yang diikuti orang tua, di mana ada
    bagian anak muda di dalamnya. Bila hubungan antara orang tua dan anak berada dalam
    kondisi yang sehat/ dekat, maka aktivitas semacam ini akan menyenangkan bagi anak dan
    menenangkan orang tua, karena baik anak maupun orang tua sama-sama nyaman dengan
    medan yang sedang diikuti. Namun, bila hubungan anak dengan orang tua kurang bagus, maka,
    orang tua, dalam hal ini ibu dan suami ibu, perlu melakukan rekonsiliasi terlebih dulu dengan
    anak, karena anak akan cenderung menolak orang tua beserta pergaulannya.
    - Membebaskan anak bergaul dengan kontrol yang terpadu, artinya, pada saat hubungan emosi
    antara anak dan orang tua sehat/ dekat, anak akan cenderung mudah menjaga kehormatan dan
    kepercayaan orang tua, sehingga bila ibu dan suami sering mengucapkan, “Ayah dan Ibu percaya
    bahwa engkau tidak menyalahgunakan kepercayaan kami”, maka tidak tertutup kemungkinan,
    kata-kata itu melekat di anak. (catatan: tentu akan efektif bila hubungan orang tua dan anak
    terjalin dengan baik terlebih dulu).

    Seperti pepatah mengatakan,”Tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dengan fase perkembangan
    manusia, terutama anak. Setiap tahapan memiliki segi positif maupun segi negative masing-masing.
    Namun, dengan komitmen dan konsistensi orang tua, maka lebih memungkinkan bagi anak untuk
    menjalani setiap fase dengan baik sehingga dia kelak tumbuh sebagai pribadi dewasa yang terarah dan
    seimbang.

    Demikian saran yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat bagi putra ibu yang terkasih.

    Salam hangat

    Tim Psikologi Anak

Have your say!

You must be logged in to post a comment.