Home » Seksualitas

Anak memegang kemaluan sepupu perempuannya

10 February 2011 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

Saya  sudah menikah hampir 15 tahun, memiliki 2 anak laki-laki, yang pertama 14 tahun Kelas 2 SMP dan yang kedua 10 tahun kelas 5 SD.

2 hari lalu (Selasa), adik kandung saya (laki-laki) kebetulan rumah kami berdekatan beda 6 rumah saja, datang ke kantor saya (bilangnya sih ada urusan ke klien), kami makan siang bersama dan pas sudah selesai makan dengan hati-hati dia bilang kalo mau ngomong sesuatu ke saya tentang Mas (anak sulung saya). Katanya kemarin, anak perempuannya 5 tahun (baru 1 anaknya, dan sekarang adik ipar saya lagi hamil lagi 3 bulan), waktu dicebokin mamanya tiba-tiba bilang “ih mama jorok pegang-pegang “kimo” aku. Kayak Mas aja”.  Kasarnya gitu deh, saya tidak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan adik saya. Adik ipar saya (istri adik saya) langsung menginterogasi anaknya, bahkan direkam sedikit, dan kata keponakan saya itu kimonya pernah dipegang mas sekali di rumah saya. Di rekaman terdengar adik ipar saya Tanya ke keponakan saya “dipegangnya diluar celana atau di dalam ?!” keponakan saya bilang “di dalam”.  Lalu dibilang “sakit”. Dan kata adik saya sih keponakan saya merasa sakit sampai sekarang, “makanya kemarin saya ajak jalan-jalan biar tenang” gitu kata adik saya.

Adik saya itu waktu hari Seninnya itu sengaja pulang siang karena katanya adik ipar saya nelpon dia, nangis-nangis histeris  nyuruh adik saya pulang. Adik saya pikir anaknya jatuh atau ada apa. Sorenya pulang kantor saya kebetulan mampir ke rumah adik saya nganterin sesuatu, waktu itu adik ipar saya lagi tertawa-tawa ngobrol sama ibunya (kebetulan ibu mertua adik saya lagi nginep dirumahnya). Adik saya memang kelihatan diam saja waktu saya datang itu, beda sama istri dan mertuanya yang terlihat senang2 aja.  Saya juga agak curiga koq adik saya udah pulang kantor lagi siang-siang.

Terus terang Bu, saya walaupun diam saja ketika adik saya bicara, tapi saya seperti orang linglung, ngga tahu arus ngapain, sesek nafas saya. Saya hanya berusaha menenangkan diri agar tidak panic, karena malu juga waktu itu kan lagi di tempat makan. Adik saya bilang, ini jadi pelajaran buat semuanya, harus hati2 apalagi anak2 saya laki-laki sudah besar (kebetulan anak2 saya adalah hanya cucu lelaki ibu saya, cucunya yang lain perempuan semua) dia dan istrinya Setelah berpisah, saya jalan ke kantor saya lagi, pikiran saya kemana-mana, bertanya-tanya apakah benar yang saya dengar, kapan kejadian itu terjadi, di bagian mana rumah saya dia melakukannya ?! Saya ingin menangis rasanya, tapi dikuat-kuatkan.  Saya sms suami, suami tidak berkomentar banyak.

Setelah di rumah, saya dan suami ngobrol panjang lebar, nyusur-nyususr kemungkinan anak saya melakukan itu, tapi koq hati saya merasa tidak menerima ya, merasa tidak mungkin melakuakn itu, rasanya ingin mengatakan bahwa ini ngga mungkin dan tidak benar, karena saya lihat anak saya itu polos banget, dia katanya sih belum pernah mimpi, saya dan suami memang sering ngobrol sama anak-anak, kami terbuka, bahkan wanti–wanti tentang mimpi. Kami katakan itu adalah suatu hal yang wajar, tidak perlu malu, yang ingin mama dan papa tekankan kalo Mas dan Ade sudah pernah mimpi, harus mandi besar, dan kami ajarkan mandi besar kepada mereka.

Anak saya itu pemalu, boro-bor mau negur temannya yang perempuan, yang laki-laki aja kalo tidak saya suruh tegor ya suka pura-pura ngga kenal aja.

Dari hasil obrolan saya dan suami :

  • Anak saya pendiam, cenderung pemalu, tidak PD
  • Suami saya kerja di rumah, hampir setiap hari ada di rumah.
  • Kami sudah 3 bulan tidak punya pembantu yang nginap di rumah, yang ada hanya yang bantu-bantu datang jam 7.30, jam 10.00 pulang.
  • Jika keponakan saya ke rumah, selalu dengan ibunya, jarang main berdua atau bertiga saja
  • Anak-anak saya dengan keponakan saya tidak akur, selalu ada saja yang jadi bahan berantem
  • Jarang sekali keponakan saya dititipkan, apalagi dengan waktu yang lama.
  • Kalaupun keponakan saya dititipin di rumah, selalu ada suami saya, atau ketika ada saya
  • Pernah sih saya lihat sekali-kali kalau lagi akur, saya suka lihat anak saya pangku keponakan saya di depan TV sambil digoyang-goyang kayak naik kuda.
  • Pernah juga sambil lihat TV di kamar mereka ber-3 tertawa-tawa, pintu kamar terbuka, pas saya masuk lihat si Mas lagi goyang-goyang badan keponakan saya.  Mereka tertawa-tawa.
  • Jika sampai pegang di dalam celana berarti membutuhkan waktu dan membutuhkan rencana, pasti dalam kondisi sepi
  • Jika keponakan merasa sakit, pasti nangis, keponakan saya itu sangat cengeng, nah kalau nangis pasti yang ada di rumah tahu.
  • Kalau keponakan saya lagi ada di rumah cenderungnya saya dan suami lebih memperhatikan keponakan, kami yang ngajak keponakan main, nawarin ini itu.  Anak-anak saya malah ngga care sama keponakan saya, anak-anak saya malah suka kesel karena keponakan saya sepertinya jadi pengganggu mereka. Intinya sangat jarang akur.
  • Kalau anak saya les di rumah adik saya,kebetulan adik ipar saya ngelesin bahasa inggris di rumahnya untuk beberapa anak. Kalo melakukan “itu” di rumah tentunya ada adik ipar saya.

Sungguh Bu, saya seperti linglung, mana kerjaan di kantor banyak, dalam setiap gerak saya, “hal” itu selalu berkelebatan di dalam pikiran saya.  Kalau lagi sholat ingin rasanya menagis tersedu-sedu, tapi baik di rumah, apalagi di kantor, selalu saya kuat-kuatkan, tidak boleh menangis. Saya harus kuat.

Saya hanya ingin masalah ini diselesaikan. Karena sangat mengganggu konsentrasi saya.  Saya juga jadi canggung kalo ketemu adik saya, walopun adik saya bilang, setelah ini ngga usah jadi beda, tapi bagi saya tentu tidak bisa, saya tidak mau munafik, saya pasti ada sikap yang beda ke keluarga adik saya, karena saya tentunya ketika melihat keponakan saya pasti ingat itu donk, pasti saya jadi takut nanti anak saya ngapa-ngapain keponakan saya, makanya saya usahakan diajuhin deh.

Bagaimana caranya saya bertanya kepada anak saya, karena bagaimanapun saya ingin tahu kebenarannya, kalo memang benar anak saya yang melakukan itu, berarti saya harus lebih benar2 lagi “jaga” anak saya dan harus memperbaiki anak saya yang sudah melakukan hal yang salah.

Kalau tidak benar, hal ini harus diluruskan biar saya tidak selalu kebayang-bayang, tidak jadi kaku dengan keluarga adik saya, biar saya juga tidak was-was terus kalau nanti anak saya ketemu keponakan saya, atau dengan anak-anak perempuan lainnya. Setidaknya berita itu cepet dilupakan jangan sampai dibawa sampai nanti.

Saya bukannya ingin memungkiri, bukan cari pembenaran (sebenarnya memang cari pembenaran sih). Kadang adik ipar saya juga suka lebay sikapnya. Saya jadi takut apakah ini juga karena kelebayan adik ipar saya.  Walopun kalo saya jadi adik ipar saya juga pasti shock, tapi kalo saya mungkin akan menimbang-nimbang karena saya termasuk orang yang sangat sungkanan bahkan ke suami sekalipun, kalau ada kekesalan saya mending menyimpan.

Untuk sementara gitu aja Bu.  Saya hanya ingin mengetahui bagaimana caranya saya bertanya ke anak saya, atau mungkin boleh ngga saya tanya ke keponakan saya juga.  Apa yang harus saya dan suami lakukan menghadapi peristiwa yang sangat membuat saya shock ini. Mohon advicenya. Tks.


One Comment »

  1. Ibu An yang kami hormati, kami sangat memahami kebingungan yang sedang ibu alami saat ini. Semua orang tua pasti tidak ingin mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan berkenaan dengan anak-anak. Namun pengalaman ini hendaknya menjadi suatu proses pembelajaran pendidikan bagi orang tua untuk anak-anaknya. Beberapa orang tua juga ada yang mengalami seperti yang dialami oleh ibu berkaitan perihal anaknya. Jadi yang terpenting ibu tidak sendirian karena diluar sana juga ada yang mengalami hal yang sama, yang utamanya adalah dari orang tua itu sendiri untuk mengatasi kejadian tersebut.

    Mengingat usia anak ibu yang pertama sudah memasuki usia remaja atau masa adolescence di usia 12 sampai ± 18 tahun. Pada tahap ini ditandai dengan masa pubertas yaitu tumbuhnya organ-organ sexual dan mengalami kematangan. Perkembangan sexual anak disertai juga dengan pertumbuhan perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Secara fisik menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan begitu juga secara psikologis anak. Anak mulai tertarik dengan lawan jenis, jatuh cinta, eksplorasi diri, ego yang kuat, dan lain sebagainya. Pertumbuhan dan perubahan-perubahan pada anak, orang tua hendaknya harus waspada dan sangat memberikan perhatian pada anak serta mendampinginya untuk melewati masa-masa tersebut. Agar nantinya anak-anak tumbuh menjadi individu yang siap memasuki lingkungan dewasa dan menerima tanggung jawab.

    Pendidikan sex untuk anak sedini mungkin adalah sangat penting untuk perkembangan seksual anak. Banyak orang tua yang melalaikan tugas penting ini, karena dianggap tabu untuk membicarakan pada anak. Dalam pendidikan sex, penjelasan bahasa disesuaikan dengan perkembangan kognitif/berpikir anak. Tugas orang tua adalah harus meluangkan waktu bersama dengan anak, untuk mengobrol dan berdiskusi mengenai pendidikan sex pada anak. Pendidikan sex itu sangatlah luas karena tidak hanya membahas seputar organ sex tetapi secara nilai dan moral dalam pergaulan juga sangat penting untuk diungkap dan didiskusikan mengingat dampak-dampak yang akan terjadi jika melakukan penyimpangan.
    Berkaitan dengan pertanyaan ibu mengenai “bagaimana saya bertanya ke anak saya”, tindakan awal yang bisa dilakukan adalah mulai memperkenalkan pendidikan sex pada anak. Nilai, moral dan dampaknya sudah mulai diperkenalkan pada anak jika melakukan sesuatu yang tidak benar.

    Setelah anak paham, mulailah orang tua untuk bertanya berkaitan dengan kejadian tersebut. Orang tua harus tenang, tidak panik dan yang paling utama tidak menunjukkan ekspresi kemarahan yang berlebihan karena bisa berdampak trauma pada anak, apalagi jika anak merasa di intrograsi dengan paksaan agar mengaku. Pada saat bertanya pada anak gunakanlah bahasa yang tidak menyudutkan agar anak mau berbicara dan berkomunikasi dengan baik.

    Untuk bertanya pada keponakan ibu, menurut kami tindakan ini perlu dibicarakan lebih lanjut dengan orang tuanya karena cara yang dilakukan oleh orang tua dalam memecahkan masalah anak sangatlah berbeda-beda.
    Ibu, bisa melihat dan mengamati perubahan yang terjadi pada keduanya, anak ibu dan keponakan. Biasanya jika anak benar melakukan ada tanda-tanda yang ditunjukkan, seperti : ketika keduanya dipertemukan menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bahkan bisa menarik diri masing-masing. Bisa juga menjadi malu untuk saling mendekat. Atau bahkan si perempuan menolak untuk bermain bersama. Selain itu bisa juga terlihat Adanya perubahan drastis pada anak-anak, misalnya si perempuan menjadi murung, tidak ceria, malu, menggigit jari seperti waktu anak-anak, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan anak laki-laki, menunjukkan adanya perubahan drastis, seperti lebih suka mengurung diri, tidak mau berbicara, dan menolak untuk bermain.

    Akan tetapi bisa juga tanda-tanda yang ditunjukkan adalah sebaliknya karena memang si anak masih belum paham akan kejadian tersebut, seperti:
    tidak ada penolakan untuk bermain bersama, hubungan mereka biasa-biasa saja seperti sedia kala. Namun jika diperhatikan sungguh-sungguh ada saja perilaku yang ditunjukkan, seperti lebih akrab, selalu bermain berdua, rasa senang jika bertemu dan sebagainya. Perilaku-perilaku tersebut ditunjukkan tidak seperti biasanya atau berbeda bahkan berlebihan. Hal ini perlu pengamatan dan pengawasan lebih lanjut, karena pada masing-masing anak perilaku yang ditunjukkan tidaklah sama. Namun biasanya perubahan perilaku pada anak bisa menjadi indikasi awal adanya suatu kejadian.

    Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua :
    1.Pentingnya pendidikan sex pada anak. Ajarkan pendidikan seks sedini mungkin pada anak-anak. Ajarkan anak agar tidak mengijinkan seorang pun untuk menyentuh daerah pribadi mereka. Ajarkan juga untuk mengatakan “tidak” pada orang yang ingin memeluk atau menyentuhnya dengan cara apapun apabila mereka tidak nyaman. Pastikan anak menyadari bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.
    2.Jangan memerintahkan anak untuk mencium dan memeluk orang lain, meskipun itu saudaranya sendiri. Biarkan anak mengekspresikan dirinya menurut cara yang paling nyaman baginya.
    3.Luangkanlah waktu untuk berdiskusi dengan anak dan jalinlah komunikasi yang berkualitas dengan anak Anda. Hanya dengan komunikasi yang bagus, Anda dapat mengetahui hal-hal apa saja yang menimpa anak Anda. Biarkan anak Anda tahu bahwa dia bisa menceritakan segala hal pada Anda.

    Demikianlah beberapa informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan bagi kita sebagai orang tua dalam menghadapi berbagai pelik permasalahan dengan anak yang bisa membuat kita sebagai orang tua lebih dewasa dalam sikap dan tindakan terhadap anak.

    Terima kasih.
    Salam hangat dari kami :
    Tim Psikologi Anak.

Have your say!

You must be logged in to post a comment.