Home » Kebiasaan Anak, Perkembangan Emosi

Anak Pertama Susah Diatur

27 October 2010 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

IS wrote:

salam kenal konsultasi psikologi anak.
saya ibu dari dua anak 4 tn dan 17 bln. anak pertama saya laki2 dan kedua perempuan. anak laki2 saya ini sangat susah diatur, suka maintangan jika lagi marah, dan semua keinginannya harus dipenuhi. tapi di sekolahnya tingkahnya ini berbeda 180 derajat dengan yang dirumah. yang ingin saya tanyakan kenapa bisa seperti itu dan apa yang harus saya lakukan untuk merubah sifat anak saya yang
tidak baik itu?

terimakasih


One Comment »

  1. Yth. Ibu IS,

    Kami bisa memahami bagaimana ibu berusaha sebaik mungkin agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya. Anak-anak memang sangat membutuhkan kesabaran dan perhatian yang sangat besar dari kedua orang tuanya dalam tumbuh kembangnya.

    Pada umumnya, anak-anak di usia 4 tahun yang sudah memasuki usia sekokah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

    a. Anak akan belajar untuk mengambil inisiatif terhadap segala sesuatu di sekitarnya.

    b. Anak sudah mulai berpikir akan adanya konsep, baik itu yang dilihatnya melalui gambar ataupun hukum sebab-akibat yang telah dialaminya.

    c. Anak akan melihat moralitas dari segi apakah ia akan mendapat penghargaan, hukuman, kesenangan, atau konsekuensi lainnya, contohnya: “ Aku diem kok ga nakal, jadi aku boleh pinjem mainannya” atau juga disebut dengan Tahap Menghindari Hukuman.

    d. Perkembangan fisiknya mulai berkembang kuat sehingga aktivitas yang paling disukainya adalah “bermain”

    e. Pemikirannya masih pada tahap simbolik dan sifat egosentris yang mendominasi.

    f. Pemikiran anak yang masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik dan pengamatannya sendiri, sekalipun apa yang ada dalam pikirannya tidak selalu ditampilkan lewat tingkah laku nyata.

    Berkaitan dengan permasalahan yang sedang ibu hadapi, yaitu susah diatur dan semua keinginannya harus segera dipenuhi. Hal ini bisa disebabkan karena sifat anak yang keinginannya ingin segera dipenuhi dan sifat egosentris yang masih mendominasi sehingga membuat anak menjadi tampak sulit untuk diarahkan.

    Akan tetapi, pada usia ini, mereka sudah mulai berpikir akan adanya konsep ataupun hukum sebab-akibat yang telah dialaminya. Ketika ia melakukan sesuatu yang menyenangkan menurutnya, namun, pada saat itu, ia dilarang, maka yang terjadi ia akan marah, menolak jika larangan yang dilakukan padanya tidak disertai dengan alasan-alasan mengapa ia tidak boleh melakukannya.

    Anak sudah mulai bisa merasakan hukum sebab-akibat, ketika ia melakukan sesuatu dan merasa sakit maka ia tidak akan mengulangi lagi. Mungkin juga penolakan yang ia lakukan karena ia ingin merasakan terlebih dahulu sesuatu yang baru bagi dia.

    Untuk itu beberapa langkah yang ibu bisa lakukan diantarnya adalah:

    1. Batasan Perilaku

    Perilaku apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Apakah anak bisa memenuhi sesuai dengan kemampuannya dan tidak membatasi keingin tahuan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Karena dengan bereksplorasi dia akan belajar untuk mengembangkan kreatifitasnya.

    2. Menetapkan toleransi pada anak

    Agar anak belajar untuk mematuhi peraturan, terlebih dahulu anak dijelasakan mengapa ia tidak boleh melakukannya. Atau mengapa ia harus melakukan sesuatu yang baginya kurang menyenangkan. Kemudian bersama dengan anak menentukan apakah ia setuju jika melanggar peraturan maka ia mendapatkan hukuman yang tidak menyenangkan (misalnya tidak dibelikan mainan, tidak diajak pergi, tidak boleh menonton film kesukaannya, dll). Hindari bentakan dan hukuman fisik, karena perilaku ini tidak membuat anak jera tetapi bisa membuat anak semakin ingin melakukan perbuatan yang ia tidak boleh. Tetapi jika anak diberi penjelasan, pengertian dan sabar menghadapi perilakunya. Secara perlahan ia akan lebih mudah menerima daripada ia dibentak, dimarahi dan harus melakukan perbuatan tersebut.

    3. Membimbing dan mengarahkan

    Pada umumnya orang tua dalam merubah sikap dan perilaku anak ingin segera baik atau dengan instan anak bisa menjadi lebih baik. Namun hal ini sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan karena perubahan perilaku anak yang tidak tahu berubah menjadi harus tahu membutuhkan proses mengapa ia tidak boleh dan latihan untuk merubah perilaku tersebut. Disinilah proses membimbing dan mengarahkan anak harus selalu dilakukan. Jika kekerasan yang ia dapatkan maka ia akan belajar dengan kekerasan juga (misalnya: mengatasi perilaku anak dengan marah maka anak akan meniru dengan marah juga)

    4. Berdamai dengan anak

    Berdamai yang berperan adalah hati. Jika orang tua selalu mengingat dan merasakan kesenangan dan kebahagiaan karena ditelah diberi karunia yang luar biasa yaitu anak-anak yang lucu dan menggemaskan maka akan lebih mudah untuk menerima segala perilaku anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak dengan perilakunya yang luar biasa adalah sesuatu pengalaman yang luar biasa juga bagi orang tua. Untuk itu sebagai orang tua hendaknya bisa menerima dan berdamai bahwa anak melakukannya karena ia ingin tahu dan ia belum tahu, sehingga ketika kita mengarahkan akan lebih mudah karena kita mengarahkannya dengan hati yang tenang, sabar dan berdamai.

    Berkaitan dengan perilaku anak yang main tangan jika anak sedang marah, kemungkinan besar perilaku ini adalah secara tidak langsung ia peroleh dari lingkungan sekitarnya. Anak sangat mudah sekali untuk meniru, terutama figur-figur terdekat bagi anak yaitu orang tua atau orang yang merawatnya selain orang tua. Ketika anak-anak memukul, terlebih dahulu kita bisa mencari tahu, mengapa anak memukul. Marilah kita amati terlebih dahulu, mengapa anak demikian:

    1. Apakah karena keinginannya yang tidak terpenuhi?

    Anak marah, jengkel atau tidak senang karena dilarang adalah wajar atau normal. Jangankan anak-anak orang dewasapun kadang jika dilarang juga bisa marah-marah. Untuk itu perlu strategi supaya anak-anak tidak marah jika dilarang. Misalnya dengan cara berikut ini:

    a. Mencari tahu penyebabnya

    Jika kita mengetahui si kakak marah-marah dengan adiknya sampai memukulnya, perlahan-lahan kita dekati dan kita tanyakan “kenapa kakak tadi memukul adik”. Cobalah untuk tidak segera bertindak dengan memotong kompas tetapi dengan bertahap kita mencari tahu apa penyebab kemarahannya.

    b. Mendengarkan alasan atau keluh kesahnya

    Setelah kita mendekati dan berusaha untuk menggalinya agar anak mau menceritakan alasan kemarahannya selanjutnya adalah mendengarkan. Dengan mendengarkan anak akan merasa dihargai daripada ia langsung dimarahi yang mungkin ia tidak salah atau karena ia ingin membela diri ia melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Untuk itu dengarkanlah terlebih dahulu mengapa “kakak memukul adiknya”

    c. Membicarakan bersama dan mencari solusinya

    Setelah mengetahui penyebabnya dan mendengarkan alasan anak langkah selanjutnya adalah mencari penyelesaiannya. Bahwa ketika ia berbuat sesuatu pasti ada resikonya. “Ketika kakak memukul adik yang dirasakan adik adalah sakit kemudian adik menangis”. Cara yang dilakukan kakak tidak baik karena menyakiti adik, coba bagaimana kalau kakak tidak suka dengan perilaku adik, kakak bicara dulu dengan adik? Bagaimana, kakak senang dan pintar karena sudah menjaga dan berbagi dengan adik dan adik juga senang dijaga dan tidak disakiti kakak. Gimana, lain kali kakak mau ya mencoba cara tersebut “. Dengan mengajaknya berkomunikasi, maka anak akan belajar akan perilaku-perilakunya yang kurang baik. Dan juga ia akan mendapatkan kepuasan jawaban dari ketidakbolehannya perilaku tersebut dilakukan.

    2. Apakah cara yang anak gunakan sama dengan cara orang-orang disekitar memperlakukan anak?

    Bila anak melihat sosok di sekitarnya yang penuh perlindungan dan nyaman, maka ia akan merasakan kedamaian tersebut. Cara-cara ia diperlakukan juga mempengaruhi bagaimana ia belajar berperilaku. Bila ia diperlakukan denngan kedamaian maka ia akan belajar untuk mengembangkan kedamaian. Sebaliknya, jika ia diperlakukan dengan emosi, maka ia akan belajar mengembangkan perilaku emosi dan diperparah, jika ia diperlakukan dengan kekerasan, maka ia akan belajar juga menghadapi lingkungannya dengan kekerasan. Dengan demikian orang tua hendaknya harus waspada bagaimana lingkungan dan orang –orang terdekatnya memperlakukan anak. Karena dari situlah anak akan belajar.

    Demikianlah saran dari kami, semoga dapat mendukung ibu dalam menangani perilaku anak.

    Menurut kami, dalam menangani anak yang terpenting adalah dengan hati yang senang dan mau berdamai dengan anak. Kemarahan tidak akan menyelesaikan permasalahan, karena yang dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan cinta kasih.

    Kesabaran dan kelembutan akan memudahkan keberhasilan dalam pembentuka perilaku anak. Dengan memberikan contoh yang baik, maka mereka secara tidak langsung akan meniru juga periku-perilaku dari orang sekitarnya, terutama orang tua.

    Selamat berbahagia, bu!

    Tim Psikologianak.co.id

Have your say!

You must be logged in to post a comment.