Home » Psikologi Anak Usia Dini

Anak saya 16 bulan belum bisa bicara

4 August 2011 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

Dear psiko anak,

Anak saya 16 bulan belum bisa bicara, giginya sudah tumbuh 4 di atas, 2 di bawah sejak usia 1 tahun belum nambah juga. Bisa berjalan usia 14 bulan. Saya tinggal kerja dari pagi hingga sore. Sebenarnya sudah bisa bicara pada umur satu tahun “Bah” dan “da da”, karena diasuh neneknya sendiri. Mulai usia 1 tahun dititipkan tetangga, karena neneknya pulang kampung,jadi sering diam ketika saya pulang kerja, hanya melihat saja dan sekarang hanya bisa bicara “uh ah”. Saya sudah berusaha sering mengajaknya bicara, menjelaskan banyak nama benda, dia sedang/ingin apa (maem, pipis, BAB), mempertontonkan CD anak-anak, pengasuhnya juga cukup cerewet, tetap saja hingga kini tidak ada kemajuan (masih “uh ah”). Apa yang harus saya lakukan supaya anak saya bisa segera bicara mengungkapkan keinginannya. Ingin pipis, bilang “pis”, maem, bilang “mam”, “bobo”, dan sbagainya. Bagaimana kalo sampai 2 tahun, dia belum bisa bicara juga? Saya sedih rasanya…. O, ya, apakah rewel di malam hari (tidur tidak nyenyak karena gerah & nyamuk) berpengaruh terhadap psikisnya juga? (karena kalo pake kipas angin, dia bisa masuk angin)

Trima kasih atas jawabannya…..


One Comment »

  1. Yth Bu In,

    Pengenalan kata dan kemampuan bicara (terutama kata-kata dalam bahasa ibu) memang sangat penting sekali untuk distimulasi sejak dini. Dan memang, kata-kata pertama yang dapat diucapkan hanya sejauh “Bah”, “da da”, “auh”, dan sejenisnya di sekitaran usia rata-rata antara 9 bulan sampai 12 bulan (meskipun ada kasus istimewa anak-anak kategori gifted yang sudah mampu di usia yang lebih muda).

    Di usia yang mulai menginjak 12 bulan sampai dengan 18 bulan, secara umum, seharusnya, anak sudah mulai mampu mengungkapkan keinginan walaupun secara sederhana sekali.

    Namun demikian, bukan tidak mungkin ada faktor-faktor tertentu yang menghambat kemampuan berbicara anak.

    Untuk kasus anak ibu, kami mencoba menelusuri dari berbagai sumber referensi yang dapat menjelaskan penyebab dari keterlambatan anak ibu.

    Berikut ini rangkuman referensi yang kami peroleh dan kami rasa cukup lengkap dan jelas yang diposting oleh Sdri. Indriani Budi Utami (sumber: http://coolmama-mamagaul.blogspot.com/2011/01/pengalaman-menghadapi-dan-mengajari.html?zx=1915e312e2197751), yaitu:

    1. Hambatan pendengaran

    Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.

    2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

    Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

    3. Masalah keturunan

    Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

    4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

    Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat.

    Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

    5. Faktor Televisi

    Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

    Nah, dari ke-5 faktor yang tersebut, ibu dapat mengamati, yang mana dari faktor-faktor tersebut yang berperan. Mungkin bisa ibu mulai dari deteksi fisik terlebih dulu, yaitu “Pendengaran”. Apakah anak ibu mampu memberi respon pada saat namanya dipanggil, seperti menoleh, mencari sumber suara, dan sebagainya?

    Memang untuk kasus-kasus semacam ini, pengamatan langsung oleh profesional yang ahli di bidangnya, akan lebih mudah mendeteksi jenis faktor yang mungkin menghambat sekaligus jenis terapi yang sesuai (bila memang faktornya terkait dengan fisik). Maka, kami sarankan ibu untuk berkonsultasi secara langsung kepada dokter anak yang ibu percayai.

    Sedangkan untuk masalah gerah dan nyamuk, pada dasarnya, itu adalah masalah penyesuaian diri.

    Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa memang, gangguan gigitan nyamuk cukup mengganggu bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Bukan saja karena kenyenyakan tidur jadi terganggu, melainkan juga potensi bahaya demam berdarah.

    Sebisa mungkin, ibu bisa meminimalkan dampaknya dengan memberikan kelambu pada tempat tidur anak ibu.

    Dan untuk gerahnya, kami sangat meyakini bahwa udara alam lebih sehat daripada udara buatan. Maka, kami yakin, lebih baik menggunakan kipas angin daripada menggunakan AC. Karena selain lebih sehat, lebih ramah lingkungan, juga, sirkulasi udara lebih mudah berganti. Apalagi bila jendela kamar tidur cukup memadai untuk perpindahan udara setiap saat.

    Ibu bisa meminimalkan dampak kipas angin dengan mengecilkan kekuatan kipas angin ke level terendah dan mengarahkannya ke bagian yang lain sehingga tidak langsung mengena ke tempat tidur anak. Biarkan anak menerima angin sepoi-sepoi hasil dari pantulan kipas angin. Dengan begitu, fisik anak lebih mudah mentolerir terpaan angin yang lembut dan ramah.

    Demikian beberapa saran kami. Kami harap, informasi kami cukup memadai untuk mendukung ibu dalam mengatasi permasalahan ibu.

    Tentu seperti sebelumnya, kami dengan senang hati berdiskusi lebih lanjut, bila ada pemikiran lain dari ibu untuk menghadapi permasalahan ibu.

    Salam hangat dan Selamat menjadi orang tua berbahagia, bu!!

    Hormat kami,

    Tim Psikologi Anak

Have your say!

You must be logged in to post a comment.