Anak Saya Mudah Sekali Akrab dengan Orang Baru
![]() |
Kasus 1: Mudah akrab
Yth. Psikologi Anak
Saya mohon sarannya. Mungkin ini bukan masalah besar, hanya saja sebagai orang tua, saya ingin
mendapatkan kepastian tentang perilaku anak saya. Begini, saya memiliki anak perempuan yang saat
ini hampir genap empat tahun. Sebenarnya, anak saya tumbuh normal dan sehat, hanya saja, saya
mencemaskan cara bergaulnya. Ia hanya suka bermain dengan anak laki-laki dan tidak takut pada siapa
saja, bahkan sampai penjual bakso di depan rumah, ia minta gendong dan langsung akrab.
Pertanyaan saya: apa ini wajar? Apa ada solusinya?
Karena membaca tentang penculikan anak di koran dan televisi,
membuat saya cemas sekali bila tidak ada yang mengawasi anak saya, apalagi dia perempuan. Mohon
sarannya.
Terima kasih (SSN)



Yth Bu SSN yang berbahagia,
Pertama-tama, kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan ibu kepada kami. Tentu saja, dengan
senang hati, kami akan selalu membantu ibu, apapun permasalahan yang ibu hadapi, karena kami yakin,
semua permasalahan anak penting dan perlu ditangani secara serius demi perkembangan yang sehat.
Hari-hari belakangan ini, memang kasus penculikan cukup mengkuatirkan. Beberapa tips praktis sudah
pernah kami tampilkan melalui artikel “Menemukan Anak Hilang di Keramaian”, yang dapat ibu akses di InfoAnak.com
Pada dasarnya, kami asumsikan bahwa kelebihan utama pendidikan keluarga ibu terletak dalam hal
keterbukaan dan dorongan terhadap kemandirian anak sehingga anak ibu mampu mengembangkan
sikap social yang relative aktif dan supel. Hal ini merupakan sisi positif dari perkembangan mental dasar
untuk masa depannya kelak (terutama dalam konteks pekerjaan).
Namun, demikian, agar sisi positif ini dapat berkembang sesuai jalur dan tidak sampai menimbulkan
trauma psikis anak kelak (bila terjadi permasalahan seperti kekuatiran ibu), maka ada beberapa
informasi tambahan yang mungkin perlu kami telusuri lebih lanjut, yaitu:
1. Apakah anak ibu lebih dekat dengan ayah atau dengan ibu?
Keterangan:
- Kedekatan ini penting sebagai figure identifikasi anak. Dalam hal ini, “Dekat” berarti secara
emosional, menjadi figure yang hangat, ramah dan pelindung bagi anak/ sosok yang dikagumi.
- Bukan hal yang aneh bila sosok yang rutin dihadapi, walaupun bermaksud baik, namun, karena
gaya pendekatan cenderung menekan anak, membuat anak menjadi tidak nyaman. Bila
kemudian, figure ayah (yang lebih jarang ditemui karena bekerja), dirasakan sebagai sosok hero yang melindungi anak (terutama bila ada ketidakkonsistenan penegakan disiplin antara ayah dan
ibu semasa pendidikan anak), maka tidak heran, bila anak akan merasa figure seperti ayahnya,
lebih menyamankan diri dibandingkan sebaliknya.
Saran: Pendekatan yang lebih dinamis terhadap anak dan konsisten antara ayah dan ibu. Artinya,
kedua orang tua memiliki kesepakatan yang sama dalam proses pengasuhan anak dengan tetap
menjadi figure yang dekat secara emosional. Ibu dapat mengajak anak sering menemani ibu saat
memasak, jalan-jalan ataupun aktivitas yang terkait dengan perempuan, sambil mengajarkan
kenyamanan menjalankan peran sebagai wanita. Namun, dengan tetap, tidak melupakan peran
penting ayah dalam waktu yang bersamaan.
2. Apakah anak ibu anak perempuan tunggal dalam keluarga?
Keterangan:
- Bila anak ibu adalah satu-satunya anak perempuan tunggal di antara saudara-saudaranya, bisa
jadi ia memang terbiasa dengan pola pergaulan ala laki-laki, apalagi bila ia adalah anak bungsu.
Saran:
Untuk itu, bila memang memungkinkan, ibu dapat mengajak anak-anak perempuan dari
kerabat, tetangga, maupun teman ibu, untuk kerap berkumpul sambil bermain bersama. Hal ini
sekaligus juga dapat ibu gunakan untuk mengajarkan kepada anak agar saling berbagi kepada
teman sesama jenis karena bentuk permainan maupun peralatan yang digunakan, relative sama.
Kondisi dari kedua informasi di atas, yang dapat lebih menentukan identifikasi jenis kelamin dan
kenyamanan anak perempuan ibu terhadap figure yang berjenis kelamin sama maupun berbeda.
Tips:
Mengajarkan kepada anak perempuan ibu mengenai perbedaan jenis kelamin tersebut dengan
menyebutkan kata “Cinta”, seperti Cinta orang tua kepada anak, sehingga anak dapat belajar mengenai
fungsi kelamin dan tidak mudah dimanfaatkan orang lain. Dapat ibu akses di artikel “Media Massa,
Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak” di http://www,infoanak.com
Namun, pada intinya, kami cenderung melihat bahwa perkembangan social anak ibu relative cukup baik.
Untuk mencegah agar tidak menimbulkan trauma psikis kelak, ibu dapat mengikuti saran kami yang
kami muat di artikel “Menemukan Anak Hilang di Keramaian” di http://www.infoanak.com
Demikian saran-saran yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat!
Salam hangat
Tim Psikologi Anak
28 August 2010 at 11:01 am