<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Konsultasi Psikologi Anak</title>
	<atom:link href="http://www.psikoanak.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikoanak.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Aug 2011 07:55:46 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>Comment on Anak saya  16 bulan belum bisa bicara by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-saya-16-bulan-belum-bisa-bicara/#comment-34</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 07:55:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=280#comment-34</guid>
		<description>Yth Bu In,

Pengenalan kata dan kemampuan bicara (terutama kata-kata dalam bahasa ibu) memang sangat penting sekali untuk distimulasi sejak dini. Dan memang, kata-kata pertama yang dapat diucapkan hanya sejauh “Bah”, “da da”, “auh”, dan sejenisnya di sekitaran usia rata-rata antara 9 bulan sampai 12 bulan (meskipun ada kasus istimewa anak-anak kategori gifted yang sudah mampu di usia yang lebih muda).

Di usia yang mulai menginjak 12 bulan sampai dengan 18 bulan, secara umum, seharusnya, anak sudah mulai mampu mengungkapkan keinginan walaupun secara sederhana sekali.

Namun demikian, bukan tidak mungkin ada faktor-faktor tertentu yang menghambat kemampuan berbicara anak. 

Untuk kasus anak ibu, kami mencoba menelusuri dari berbagai sumber referensi yang dapat menjelaskan penyebab dari keterlambatan anak ibu.

Berikut ini rangkuman  referensi yang kami peroleh dan kami rasa cukup lengkap dan jelas yang diposting oleh Sdri. Indriani Budi Utami (sumber: http://coolmama-mamagaul.blogspot.com/2011/01/pengalaman-menghadapi-dan-mengajari.html?zx=1915e312e2197751), yaitu:

1. Hambatan pendengaran

Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.

2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

3. Masalah keturunan

Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. 

Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

5. Faktor Televisi

Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

Nah, dari ke-5 faktor yang tersebut, ibu dapat mengamati, yang mana dari faktor-faktor tersebut yang berperan. Mungkin bisa ibu mulai dari deteksi fisik terlebih dulu, yaitu “Pendengaran”. Apakah anak ibu mampu memberi respon pada saat namanya dipanggil, seperti menoleh, mencari sumber suara, dan sebagainya?

Memang untuk kasus-kasus semacam ini, pengamatan langsung oleh profesional yang ahli di bidangnya, akan lebih mudah mendeteksi jenis faktor yang mungkin menghambat sekaligus jenis terapi yang sesuai (bila memang faktornya terkait dengan fisik). Maka, kami sarankan ibu untuk berkonsultasi secara langsung kepada dokter anak yang ibu percayai.

Sedangkan untuk masalah gerah dan nyamuk, pada dasarnya, itu adalah masalah penyesuaian diri. 

Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa memang, gangguan gigitan nyamuk cukup mengganggu bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Bukan saja karena kenyenyakan tidur jadi terganggu, melainkan juga potensi bahaya demam berdarah. 

Sebisa mungkin, ibu bisa meminimalkan dampaknya dengan memberikan kelambu pada tempat tidur anak ibu. 

Dan untuk gerahnya, kami sangat meyakini bahwa udara alam lebih sehat daripada udara buatan. Maka, kami yakin, lebih baik menggunakan kipas angin daripada menggunakan AC. Karena selain lebih sehat, lebih ramah lingkungan, juga, sirkulasi udara lebih mudah berganti. Apalagi bila jendela kamar tidur cukup memadai untuk perpindahan udara setiap saat.

Ibu bisa meminimalkan dampak kipas angin dengan mengecilkan kekuatan kipas angin ke level terendah dan mengarahkannya ke bagian yang lain sehingga tidak langsung mengena ke tempat tidur anak. Biarkan anak menerima angin sepoi-sepoi hasil dari pantulan kipas angin. Dengan begitu, fisik anak lebih mudah mentolerir terpaan angin yang lembut dan ramah.

Demikian beberapa saran kami. Kami harap, informasi kami cukup memadai untuk mendukung ibu dalam mengatasi permasalahan ibu.

Tentu seperti sebelumnya, kami dengan senang hati berdiskusi lebih lanjut, bila ada pemikiran lain dari ibu untuk menghadapi permasalahan ibu.

Salam hangat dan Selamat menjadi orang tua berbahagia, bu!!

Hormat kami,

Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Bu In,</p>
<p>Pengenalan kata dan kemampuan bicara (terutama kata-kata dalam bahasa ibu) memang sangat penting sekali untuk distimulasi sejak dini. Dan memang, kata-kata pertama yang dapat diucapkan hanya sejauh “Bah”, “da da”, “auh”, dan sejenisnya di sekitaran usia rata-rata antara 9 bulan sampai 12 bulan (meskipun ada kasus istimewa anak-anak kategori gifted yang sudah mampu di usia yang lebih muda).</p>
<p>Di usia yang mulai menginjak 12 bulan sampai dengan 18 bulan, secara umum, seharusnya, anak sudah mulai mampu mengungkapkan keinginan walaupun secara sederhana sekali.</p>
<p>Namun demikian, bukan tidak mungkin ada faktor-faktor tertentu yang menghambat kemampuan berbicara anak. </p>
<p>Untuk kasus anak ibu, kami mencoba menelusuri dari berbagai sumber referensi yang dapat menjelaskan penyebab dari keterlambatan anak ibu.</p>
<p>Berikut ini rangkuman  referensi yang kami peroleh dan kami rasa cukup lengkap dan jelas yang diposting oleh Sdri. Indriani Budi Utami (sumber: <a href="http://coolmama-mamagaul.blogspot.com/2011/01/pengalaman-menghadapi-dan-mengajari.html?zx=1915e312e2197751" rel="nofollow">http://coolmama-mamagaul.blogspot.com/2011/01/pengalaman-menghadapi-dan-mengajari.html?zx=1915e312e2197751</a>), yaitu:</p>
<p>1. Hambatan pendengaran</p>
<p>Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.</p>
<p>2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor</p>
<p>Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.</p>
<p>3. Masalah keturunan</p>
<p>Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.</p>
<p>4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua</p>
<p>Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. </p>
<p>Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.</p>
<p>5. Faktor Televisi</p>
<p>Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.</p>
<p>Nah, dari ke-5 faktor yang tersebut, ibu dapat mengamati, yang mana dari faktor-faktor tersebut yang berperan. Mungkin bisa ibu mulai dari deteksi fisik terlebih dulu, yaitu “Pendengaran”. Apakah anak ibu mampu memberi respon pada saat namanya dipanggil, seperti menoleh, mencari sumber suara, dan sebagainya?</p>
<p>Memang untuk kasus-kasus semacam ini, pengamatan langsung oleh profesional yang ahli di bidangnya, akan lebih mudah mendeteksi jenis faktor yang mungkin menghambat sekaligus jenis terapi yang sesuai (bila memang faktornya terkait dengan fisik). Maka, kami sarankan ibu untuk berkonsultasi secara langsung kepada dokter anak yang ibu percayai.</p>
<p>Sedangkan untuk masalah gerah dan nyamuk, pada dasarnya, itu adalah masalah penyesuaian diri. </p>
<p>Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa memang, gangguan gigitan nyamuk cukup mengganggu bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Bukan saja karena kenyenyakan tidur jadi terganggu, melainkan juga potensi bahaya demam berdarah. </p>
<p>Sebisa mungkin, ibu bisa meminimalkan dampaknya dengan memberikan kelambu pada tempat tidur anak ibu. </p>
<p>Dan untuk gerahnya, kami sangat meyakini bahwa udara alam lebih sehat daripada udara buatan. Maka, kami yakin, lebih baik menggunakan kipas angin daripada menggunakan AC. Karena selain lebih sehat, lebih ramah lingkungan, juga, sirkulasi udara lebih mudah berganti. Apalagi bila jendela kamar tidur cukup memadai untuk perpindahan udara setiap saat.</p>
<p>Ibu bisa meminimalkan dampak kipas angin dengan mengecilkan kekuatan kipas angin ke level terendah dan mengarahkannya ke bagian yang lain sehingga tidak langsung mengena ke tempat tidur anak. Biarkan anak menerima angin sepoi-sepoi hasil dari pantulan kipas angin. Dengan begitu, fisik anak lebih mudah mentolerir terpaan angin yang lembut dan ramah.</p>
<p>Demikian beberapa saran kami. Kami harap, informasi kami cukup memadai untuk mendukung ibu dalam mengatasi permasalahan ibu.</p>
<p>Tentu seperti sebelumnya, kami dengan senang hati berdiskusi lebih lanjut, bila ada pemikiran lain dari ibu untuk menghadapi permasalahan ibu.</p>
<p>Salam hangat dan Selamat menjadi orang tua berbahagia, bu!!</p>
<p>Hormat kami,</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Anak saya sebaiknya ikut neneknya atau orangtuanya? by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-saya-sebaiknya-ikut-neneknya-atau-orangtuanya/#comment-33</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 10:58:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=270#comment-33</guid>
		<description>Yth Bu In,

Terima kasih atas kepercayaan ibu terhadap kami dalam memberikan saran untuk permasalahan ibu dan anak ibu.

Pada dasarnya, selama orang tua masih menjadi sosok yang berperan penting secara aktif dalam hidup anak, maka tetap yang terbaik untuknya adalah hidup bersama orang tua, terutama di masa-masa balita di mana masa ini adalah masa keemasan anak untuk menerima berbagai informasi serta nilai-nilai normatif tanpa disaring.

Karena itulah, bila anak diasuh oleh orang lain yang jauh dari jangkauan orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mendapatkan nilai-nilai yang kurang sesuai dengan yang akan diterapkan oleh orang tua. 

Pada saat anak kembali diasuh oleh orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mengalami kebingungan bila antara pola asuh orang tua dengan pola asuh yang terbiasa ia terima berbeda. Dan akibatnya, bisa jadi, ia akan menjadi anak yang &quot;tampak&quot; bermasalah di hadapan orang tua.

Untuk itu, bila memang masih memungkinkan, maka lebih baik anak, tinggal bersama orang tua sebagai figur paling penting dalam hidupnya.

Lantas, bagaimana untuk meminimalisirkan dampak dari kesibukan orang tua terhadap anak seperti permasalahan ibu?

Seperti sebuah pepatah kuno yang mengatakan, &quot;Ada banyak jalan menuju Roma.&quot; Maka kami-pun optimis, kita selalu memiliki alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. 

Untuk itu, kami coba mengajukan tips dari dua kebutuhan anak yang essential, yaitu: &quot;Keamanan&quot; dan &quot;Pengalaman&quot;, yaitu:

1. Menekankan &quot;Kualitas&quot; dan bukan &quot;Kuantitas&quot;

Artinya adalah orang tua tidak perlu kuatir bahwa sangat sedikitnya waktu bersama anak, akan menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah bagaimana kualitas waktu bersama anak dan bagaimana anak merasakan cinta orang tua dalam wujud yang sesungguhnya (bukan sekedar ada bersama anak, melainkan hadir bersama anak).

Nah, beda antara &quot;ada bersama anak&quot; dengan &quot;hadir bersama anak&quot; terletak dari bahasa tubuh. Kita mampu mengendalikan kata-kata kita, namun, sulit untuk mengendalikan bahasa tubuh. Bila kita mengucapkan &quot;cinta&quot;, sedangkan pikiran kita adalah &quot;jengkel&quot;, maka, bahasa tubuh kita-pun akan cenderung kaku dan berjarak. 

Sedangkan anak-anak adalah pengamat yang sangat bagus dalam menangkap pesan-pesan dari perilaku. Lebih mudah bagi anak-anak untuk mengamati perilaku daripada mendengarkan kata-kata, sehingga bila anak hanya diberitahu bahwa dia dicintai, namun, bahasa tubuh tidak menunjukkan hal itu, maka, sulit bagi anak untuk memahami dengan jelas.

Pelimpahan materi, seperti yang ditekankan oleh kebanyakan orang tua pada umumnya, hanya merupakan faktor penunjang, bukan faktor utama. Ada banyak kasus di mana keterlimpahan materi bukannya mendukung perkembangan jiwa anak, namun, justru membuat anak terjerumus.

2. Cintai anak secara positif

Untuk membuat waktu berkualitas menjadi maksimal di tengah jadwal orang tua yang padat, maka, selalu pastikan bahwa orang tua tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita sehari-hari anak, menyediakan hati untuk bermain bersama/ membacakan cerita/ menjalankan hobby bersama, serta yang paling penting adalah memeluk ketika anak sedih, bangga ketika anak bahagia. 

Membuat anak menjadi merasa berharga sama pentingnya dengan menjaga keselamatan jiwanya. Kebanyakan kasus anak-anak bermasalah, ternyata bersumber dari orang tua yang bermasalah karena selalu mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah, akibat faktor rendah diri orang tua yang telah terpupuk sejak kecil dan tanpa disadari, ketika dewasa, dialihkan ke anak dengan tuntutan agar anak menjadi sempurna.

Maka, sebisa mungkin hindari kata-kata &quot;kamu anak nakal&quot;, &quot;gak tau sudah susah payah orang tua besarkan dirimu&quot;, &quot;pemalas&quot;, dll. 

Bukan berarti kami menyarankan untuk memanjakan, justru sebaliknya, orang tua harus mendidik karakter anak untuk mandiri melalui kata-kata positif dan membesarkan hati bila anak mengalami kegagalan (seperti nilai jelek atau tidak sengaja memecahkan gelas, dan sebagainya) 

3. Percayai anak untuk turut bertanggung jawab

Artinya adalah memberi kepercayaan pada anak bahwa dia juga bisa diandalkan, walaupun serba terbatas, seperti misalkan membersihkan meja sehabis makan (walaupun tidak bisa bersih) dan sebagainya. 

Banyak orang tua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua sehingga anak cenderung terpenuhi semuanya oleh pembantu, atau mungkin orang tua mengerjakan sendiri karena tidak sabar dengan anak. 

Dengan begitu, orang tua akan sekaligus mengajarkan anak tentang kemandirian, tanggung jawab, dan juga kepedulian terhadap rumah tangga.

4. Menggunakan Jasa Pengasuh yang terpercaya

Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh orang tua yang memiliki jadwal padat. Peran pengasuh sangat penting bagi terjaminnya keselamatan jiwa maupun terarahkannya perkembangan jiwa anak sejak usia dini. Pengasuh yang sulit dikendalikan atau dikontrol oleh orang tua akan memungkinkan munculnya dualisme kepemimpinan dalam diri anak, terutama bila orang tua berada di rumah. 

Banyak kasus yang terjadi di mana anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orang tua, atau anak yang takut dengan pengasuh tapi tidak berani mengungkapkan karena orang tua jarang di rumah, ataupun anak yang mendapat pengaruh buruk dari pengasuh. 

Dengan memastikan bahwa anak berada bersama dengan pengasuh yang memahami visi misi orang tua terhadap anak dan mampu memastikan tanggung jawabnya untuk keselamatan anak, maka, ibu-pun akan mampu bekerja dengan tenang.

Hal ini tentu selama point no. 1 mendapat perhatian yang utama sebagai dasar dari terbentuknya hubungan emosional yang efektif antara orang tua dan anak di tengah-tengah jadwal yang padat.



Demikian beberapa tips yang dapat kami sampaikan saat ini. Tentu, tidak tertutup kemungkinan ibu ada pertimbangan-pertimbangan lain sehingga ada alternatif yang dapat didiskusikan lebih lanjut. Dengan senang hati, kami mencoba mendukung sebaik mungkin.

Kami sangat meyakini bahwa &quot;Kebahagiaan Orang Tua&quot;, merupakan dasar dari tercapainya kebahagiaan anak. Bila orang tua bahagia, maka, akan terpancar dalam bahasa tubuh sehingga anak-pun akan turut bahagia.

So, selamat menjadi orang tua yang berbahagia, ibu!! ^_^

Semoga bermanfaat!

Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Bu In,</p>
<p>Terima kasih atas kepercayaan ibu terhadap kami dalam memberikan saran untuk permasalahan ibu dan anak ibu.</p>
<p>Pada dasarnya, selama orang tua masih menjadi sosok yang berperan penting secara aktif dalam hidup anak, maka tetap yang terbaik untuknya adalah hidup bersama orang tua, terutama di masa-masa balita di mana masa ini adalah masa keemasan anak untuk menerima berbagai informasi serta nilai-nilai normatif tanpa disaring.</p>
<p>Karena itulah, bila anak diasuh oleh orang lain yang jauh dari jangkauan orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mendapatkan nilai-nilai yang kurang sesuai dengan yang akan diterapkan oleh orang tua. </p>
<p>Pada saat anak kembali diasuh oleh orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mengalami kebingungan bila antara pola asuh orang tua dengan pola asuh yang terbiasa ia terima berbeda. Dan akibatnya, bisa jadi, ia akan menjadi anak yang &#8220;tampak&#8221; bermasalah di hadapan orang tua.</p>
<p>Untuk itu, bila memang masih memungkinkan, maka lebih baik anak, tinggal bersama orang tua sebagai figur paling penting dalam hidupnya.</p>
<p>Lantas, bagaimana untuk meminimalisirkan dampak dari kesibukan orang tua terhadap anak seperti permasalahan ibu?</p>
<p>Seperti sebuah pepatah kuno yang mengatakan, &#8220;Ada banyak jalan menuju Roma.&#8221; Maka kami-pun optimis, kita selalu memiliki alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. </p>
<p>Untuk itu, kami coba mengajukan tips dari dua kebutuhan anak yang essential, yaitu: &#8220;Keamanan&#8221; dan &#8220;Pengalaman&#8221;, yaitu:</p>
<p>1. Menekankan &#8220;Kualitas&#8221; dan bukan &#8220;Kuantitas&#8221;</p>
<p>Artinya adalah orang tua tidak perlu kuatir bahwa sangat sedikitnya waktu bersama anak, akan menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah bagaimana kualitas waktu bersama anak dan bagaimana anak merasakan cinta orang tua dalam wujud yang sesungguhnya (bukan sekedar ada bersama anak, melainkan hadir bersama anak).</p>
<p>Nah, beda antara &#8220;ada bersama anak&#8221; dengan &#8220;hadir bersama anak&#8221; terletak dari bahasa tubuh. Kita mampu mengendalikan kata-kata kita, namun, sulit untuk mengendalikan bahasa tubuh. Bila kita mengucapkan &#8220;cinta&#8221;, sedangkan pikiran kita adalah &#8220;jengkel&#8221;, maka, bahasa tubuh kita-pun akan cenderung kaku dan berjarak. </p>
<p>Sedangkan anak-anak adalah pengamat yang sangat bagus dalam menangkap pesan-pesan dari perilaku. Lebih mudah bagi anak-anak untuk mengamati perilaku daripada mendengarkan kata-kata, sehingga bila anak hanya diberitahu bahwa dia dicintai, namun, bahasa tubuh tidak menunjukkan hal itu, maka, sulit bagi anak untuk memahami dengan jelas.</p>
<p>Pelimpahan materi, seperti yang ditekankan oleh kebanyakan orang tua pada umumnya, hanya merupakan faktor penunjang, bukan faktor utama. Ada banyak kasus di mana keterlimpahan materi bukannya mendukung perkembangan jiwa anak, namun, justru membuat anak terjerumus.</p>
<p>2. Cintai anak secara positif</p>
<p>Untuk membuat waktu berkualitas menjadi maksimal di tengah jadwal orang tua yang padat, maka, selalu pastikan bahwa orang tua tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita sehari-hari anak, menyediakan hati untuk bermain bersama/ membacakan cerita/ menjalankan hobby bersama, serta yang paling penting adalah memeluk ketika anak sedih, bangga ketika anak bahagia. </p>
<p>Membuat anak menjadi merasa berharga sama pentingnya dengan menjaga keselamatan jiwanya. Kebanyakan kasus anak-anak bermasalah, ternyata bersumber dari orang tua yang bermasalah karena selalu mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah, akibat faktor rendah diri orang tua yang telah terpupuk sejak kecil dan tanpa disadari, ketika dewasa, dialihkan ke anak dengan tuntutan agar anak menjadi sempurna.</p>
<p>Maka, sebisa mungkin hindari kata-kata &#8220;kamu anak nakal&#8221;, &#8220;gak tau sudah susah payah orang tua besarkan dirimu&#8221;, &#8220;pemalas&#8221;, dll. </p>
<p>Bukan berarti kami menyarankan untuk memanjakan, justru sebaliknya, orang tua harus mendidik karakter anak untuk mandiri melalui kata-kata positif dan membesarkan hati bila anak mengalami kegagalan (seperti nilai jelek atau tidak sengaja memecahkan gelas, dan sebagainya) </p>
<p>3. Percayai anak untuk turut bertanggung jawab</p>
<p>Artinya adalah memberi kepercayaan pada anak bahwa dia juga bisa diandalkan, walaupun serba terbatas, seperti misalkan membersihkan meja sehabis makan (walaupun tidak bisa bersih) dan sebagainya. </p>
<p>Banyak orang tua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua sehingga anak cenderung terpenuhi semuanya oleh pembantu, atau mungkin orang tua mengerjakan sendiri karena tidak sabar dengan anak. </p>
<p>Dengan begitu, orang tua akan sekaligus mengajarkan anak tentang kemandirian, tanggung jawab, dan juga kepedulian terhadap rumah tangga.</p>
<p>4. Menggunakan Jasa Pengasuh yang terpercaya</p>
<p>Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh orang tua yang memiliki jadwal padat. Peran pengasuh sangat penting bagi terjaminnya keselamatan jiwa maupun terarahkannya perkembangan jiwa anak sejak usia dini. Pengasuh yang sulit dikendalikan atau dikontrol oleh orang tua akan memungkinkan munculnya dualisme kepemimpinan dalam diri anak, terutama bila orang tua berada di rumah. </p>
<p>Banyak kasus yang terjadi di mana anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orang tua, atau anak yang takut dengan pengasuh tapi tidak berani mengungkapkan karena orang tua jarang di rumah, ataupun anak yang mendapat pengaruh buruk dari pengasuh. </p>
<p>Dengan memastikan bahwa anak berada bersama dengan pengasuh yang memahami visi misi orang tua terhadap anak dan mampu memastikan tanggung jawabnya untuk keselamatan anak, maka, ibu-pun akan mampu bekerja dengan tenang.</p>
<p>Hal ini tentu selama point no. 1 mendapat perhatian yang utama sebagai dasar dari terbentuknya hubungan emosional yang efektif antara orang tua dan anak di tengah-tengah jadwal yang padat.</p>
<p>Demikian beberapa tips yang dapat kami sampaikan saat ini. Tentu, tidak tertutup kemungkinan ibu ada pertimbangan-pertimbangan lain sehingga ada alternatif yang dapat didiskusikan lebih lanjut. Dengan senang hati, kami mencoba mendukung sebaik mungkin.</p>
<p>Kami sangat meyakini bahwa &#8220;Kebahagiaan Orang Tua&#8221;, merupakan dasar dari tercapainya kebahagiaan anak. Bila orang tua bahagia, maka, akan terpancar dalam bahasa tubuh sehingga anak-pun akan turut bahagia.</p>
<p>So, selamat menjadi orang tua yang berbahagia, ibu!! ^_^</p>
<p>Semoga bermanfaat!</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Anak saya sebaiknya ikut neneknya atau orangtuanya? by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-saya-sebaiknya-ikut-neneknya-atau-orangtuanya-2/#comment-32</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 10:58:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=272#comment-32</guid>
		<description>Yth Bu In,

Terima kasih atas kepercayaan ibu terhadap kami dalam memberikan saran untuk permasalahan ibu dan anak ibu.

Pada dasarnya, selama orang tua masih menjadi sosok yang berperan penting secara aktif dalam hidup anak, maka tetap yang terbaik untuknya adalah hidup bersama orang tua, terutama di masa-masa balita di mana masa ini adalah masa keemasan anak untuk menerima berbagai informasi serta nilai-nilai normatif tanpa disaring.

Karena itulah, bila anak diasuh oleh orang lain yang jauh dari jangkauan orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mendapatkan nilai-nilai yang kurang sesuai dengan yang akan diterapkan oleh orang tua. 

Pada saat anak kembali diasuh oleh orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mengalami kebingungan bila antara pola asuh orang tua dengan pola asuh yang terbiasa ia terima berbeda. Dan akibatnya, bisa jadi, ia akan menjadi anak yang &quot;tampak&quot; bermasalah di hadapan orang tua.

Untuk itu, bila memang masih memungkinkan, maka lebih baik anak, tinggal bersama orang tua sebagai figur paling penting dalam hidupnya.

Lantas, bagaimana untuk meminimalisirkan dampak dari kesibukan orang tua terhadap anak seperti permasalahan ibu?

Seperti sebuah pepatah kuno yang mengatakan, &quot;Ada banyak jalan menuju Roma.&quot; Maka kami-pun optimis, kita selalu memiliki alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. 

Untuk itu, kami coba mengajukan tips dari dua kebutuhan anak yang essential, yaitu: &quot;Keamanan&quot; dan &quot;Pengalaman&quot;, yaitu:

1. Menekankan &quot;Kualitas&quot; dan bukan &quot;Kuantitas&quot;

Artinya adalah orang tua tidak perlu kuatir bahwa sangat sedikitnya waktu bersama anak, akan menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah bagaimana kualitas waktu bersama anak dan bagaimana anak merasakan cinta orang tua dalam wujud yang sesungguhnya (bukan sekedar ada bersama anak, melainkan hadir bersama anak).

Nah, beda antara &quot;ada bersama anak&quot; dengan &quot;hadir bersama anak&quot; terletak dari bahasa tubuh. Kita mampu mengendalikan kata-kata kita, namun, sulit untuk mengendalikan bahasa tubuh. Bila kita mengucapkan &quot;cinta&quot;, sedangkan pikiran kita adalah &quot;jengkel&quot;, maka, bahasa tubuh kita-pun akan cenderung kaku dan berjarak. 

Sedangkan anak-anak adalah pengamat yang sangat bagus dalam menangkap pesan-pesan dari perilaku. Lebih mudah bagi anak-anak untuk mengamati perilaku daripada mendengarkan kata-kata, sehingga bila anak hanya diberitahu bahwa dia dicintai, namun, bahasa tubuh tidak menunjukkan hal itu, maka, sulit bagi anak untuk memahami dengan jelas.

Pelimpahan materi, seperti yang ditekankan oleh kebanyakan orang tua pada umumnya, hanya merupakan faktor penunjang, bukan faktor utama. Ada banyak kasus di mana keterlimpahan materi bukannya mendukung perkembangan jiwa anak, namun, justru membuat anak terjerumus.

2. Cintai anak secara positif

Untuk membuat waktu berkualitas menjadi maksimal di tengah jadwal orang tua yang padat, maka, selalu pastikan bahwa orang tua tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita sehari-hari anak, menyediakan hati untuk bermain bersama/ membacakan cerita/ menjalankan hobby bersama, serta yang paling penting adalah memeluk ketika anak sedih, bangga ketika anak bahagia. 

Membuat anak menjadi merasa berharga sama pentingnya dengan menjaga keselamatan jiwanya. Kebanyakan kasus anak-anak bermasalah, ternyata bersumber dari orang tua yang bermasalah karena selalu mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah, akibat faktor rendah diri orang tua yang telah terpupuk sejak kecil dan tanpa disadari, ketika dewasa, dialihkan ke anak dengan tuntutan agar anak menjadi sempurna.

Maka, sebisa mungkin hindari kata-kata &quot;kamu anak nakal&quot;, &quot;gak tau sudah susah payah orang tua besarkan dirimu&quot;, &quot;pemalas&quot;, dll. 

Bukan berarti kami menyarankan untuk memanjakan, justru sebaliknya, orang tua harus mendidik karakter anak untuk mandiri melalui kata-kata positif dan membesarkan hati bila anak mengalami kegagalan (seperti nilai jelek atau tidak sengaja memecahkan gelas, dan sebagainya) 

3. Percayai anak untuk turut bertanggung jawab

Artinya adalah memberi kepercayaan pada anak bahwa dia juga bisa diandalkan, walaupun serba terbatas, seperti misalkan membersihkan meja sehabis makan (walaupun tidak bisa bersih) dan sebagainya. 

Banyak orang tua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua sehingga anak cenderung terpenuhi semuanya oleh pembantu, atau mungkin orang tua mengerjakan sendiri karena tidak sabar dengan anak. 

Dengan begitu, orang tua akan sekaligus mengajarkan anak tentang kemandirian, tanggung jawab, dan juga kepedulian terhadap rumah tangga.

4. Menggunakan Jasa Pengasuh yang terpercaya

Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh orang tua yang memiliki jadwal padat. Peran pengasuh sangat penting bagi terjaminnya keselamatan jiwa maupun terarahkannya perkembangan jiwa anak sejak usia dini. Pengasuh yang sulit dikendalikan atau dikontrol oleh orang tua akan memungkinkan munculnya dualisme kepemimpinan dalam diri anak, terutama bila orang tua berada di rumah. 

Banyak kasus yang terjadi di mana anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orang tua, atau anak yang takut dengan pengasuh tapi tidak berani mengungkapkan karena orang tua jarang di rumah, ataupun anak yang mendapat pengaruh buruk dari pengasuh. 

Dengan memastikan bahwa anak berada bersama dengan pengasuh yang memahami visi misi orang tua terhadap anak dan mampu memastikan tanggung jawabnya untuk keselamatan anak, maka, ibu-pun akan mampu bekerja dengan tenang.

Hal ini tentu selama point no. 1 mendapat perhatian yang utama sebagai dasar dari terbentuknya hubungan emosional yang efektif antara orang tua dan anak di tengah-tengah jadwal yang padat.



Demikian beberapa tips yang dapat kami sampaikan saat ini. Tentu, tidak tertutup kemungkinan ibu ada pertimbangan-pertimbangan lain sehingga ada alternatif yang dapat didiskusikan lebih lanjut. Dengan senang hati, kami mencoba mendukung sebaik mungkin.

Kami sangat meyakini bahwa &quot;Kebahagiaan Orang Tua&quot;, merupakan dasar dari tercapainya kebahagiaan anak. Bila orang tua bahagia, maka, akan terpancar dalam bahasa tubuh sehingga anak-pun akan turut bahagia.

So, selamat menjadi orang tua yang berbahagia, ibu!! ^_^

Semoga bermanfaat!

Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Bu In,</p>
<p>Terima kasih atas kepercayaan ibu terhadap kami dalam memberikan saran untuk permasalahan ibu dan anak ibu.</p>
<p>Pada dasarnya, selama orang tua masih menjadi sosok yang berperan penting secara aktif dalam hidup anak, maka tetap yang terbaik untuknya adalah hidup bersama orang tua, terutama di masa-masa balita di mana masa ini adalah masa keemasan anak untuk menerima berbagai informasi serta nilai-nilai normatif tanpa disaring.</p>
<p>Karena itulah, bila anak diasuh oleh orang lain yang jauh dari jangkauan orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mendapatkan nilai-nilai yang kurang sesuai dengan yang akan diterapkan oleh orang tua. </p>
<p>Pada saat anak kembali diasuh oleh orang tua, tidak tertutup kemungkinan, ia akan mengalami kebingungan bila antara pola asuh orang tua dengan pola asuh yang terbiasa ia terima berbeda. Dan akibatnya, bisa jadi, ia akan menjadi anak yang &#8220;tampak&#8221; bermasalah di hadapan orang tua.</p>
<p>Untuk itu, bila memang masih memungkinkan, maka lebih baik anak, tinggal bersama orang tua sebagai figur paling penting dalam hidupnya.</p>
<p>Lantas, bagaimana untuk meminimalisirkan dampak dari kesibukan orang tua terhadap anak seperti permasalahan ibu?</p>
<p>Seperti sebuah pepatah kuno yang mengatakan, &#8220;Ada banyak jalan menuju Roma.&#8221; Maka kami-pun optimis, kita selalu memiliki alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. </p>
<p>Untuk itu, kami coba mengajukan tips dari dua kebutuhan anak yang essential, yaitu: &#8220;Keamanan&#8221; dan &#8220;Pengalaman&#8221;, yaitu:</p>
<p>1. Menekankan &#8220;Kualitas&#8221; dan bukan &#8220;Kuantitas&#8221;</p>
<p>Artinya adalah orang tua tidak perlu kuatir bahwa sangat sedikitnya waktu bersama anak, akan menjadi masalah. Karena yang terpenting adalah bagaimana kualitas waktu bersama anak dan bagaimana anak merasakan cinta orang tua dalam wujud yang sesungguhnya (bukan sekedar ada bersama anak, melainkan hadir bersama anak).</p>
<p>Nah, beda antara &#8220;ada bersama anak&#8221; dengan &#8220;hadir bersama anak&#8221; terletak dari bahasa tubuh. Kita mampu mengendalikan kata-kata kita, namun, sulit untuk mengendalikan bahasa tubuh. Bila kita mengucapkan &#8220;cinta&#8221;, sedangkan pikiran kita adalah &#8220;jengkel&#8221;, maka, bahasa tubuh kita-pun akan cenderung kaku dan berjarak. </p>
<p>Sedangkan anak-anak adalah pengamat yang sangat bagus dalam menangkap pesan-pesan dari perilaku. Lebih mudah bagi anak-anak untuk mengamati perilaku daripada mendengarkan kata-kata, sehingga bila anak hanya diberitahu bahwa dia dicintai, namun, bahasa tubuh tidak menunjukkan hal itu, maka, sulit bagi anak untuk memahami dengan jelas.</p>
<p>Pelimpahan materi, seperti yang ditekankan oleh kebanyakan orang tua pada umumnya, hanya merupakan faktor penunjang, bukan faktor utama. Ada banyak kasus di mana keterlimpahan materi bukannya mendukung perkembangan jiwa anak, namun, justru membuat anak terjerumus.</p>
<p>2. Cintai anak secara positif</p>
<p>Untuk membuat waktu berkualitas menjadi maksimal di tengah jadwal orang tua yang padat, maka, selalu pastikan bahwa orang tua tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita sehari-hari anak, menyediakan hati untuk bermain bersama/ membacakan cerita/ menjalankan hobby bersama, serta yang paling penting adalah memeluk ketika anak sedih, bangga ketika anak bahagia. </p>
<p>Membuat anak menjadi merasa berharga sama pentingnya dengan menjaga keselamatan jiwanya. Kebanyakan kasus anak-anak bermasalah, ternyata bersumber dari orang tua yang bermasalah karena selalu mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah, akibat faktor rendah diri orang tua yang telah terpupuk sejak kecil dan tanpa disadari, ketika dewasa, dialihkan ke anak dengan tuntutan agar anak menjadi sempurna.</p>
<p>Maka, sebisa mungkin hindari kata-kata &#8220;kamu anak nakal&#8221;, &#8220;gak tau sudah susah payah orang tua besarkan dirimu&#8221;, &#8220;pemalas&#8221;, dll. </p>
<p>Bukan berarti kami menyarankan untuk memanjakan, justru sebaliknya, orang tua harus mendidik karakter anak untuk mandiri melalui kata-kata positif dan membesarkan hati bila anak mengalami kegagalan (seperti nilai jelek atau tidak sengaja memecahkan gelas, dan sebagainya) </p>
<p>3. Percayai anak untuk turut bertanggung jawab</p>
<p>Artinya adalah memberi kepercayaan pada anak bahwa dia juga bisa diandalkan, walaupun serba terbatas, seperti misalkan membersihkan meja sehabis makan (walaupun tidak bisa bersih) dan sebagainya. </p>
<p>Banyak orang tua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua sehingga anak cenderung terpenuhi semuanya oleh pembantu, atau mungkin orang tua mengerjakan sendiri karena tidak sabar dengan anak. </p>
<p>Dengan begitu, orang tua akan sekaligus mengajarkan anak tentang kemandirian, tanggung jawab, dan juga kepedulian terhadap rumah tangga.</p>
<p>4. Menggunakan Jasa Pengasuh yang terpercaya</p>
<p>Hal ini tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh orang tua yang memiliki jadwal padat. Peran pengasuh sangat penting bagi terjaminnya keselamatan jiwa maupun terarahkannya perkembangan jiwa anak sejak usia dini. Pengasuh yang sulit dikendalikan atau dikontrol oleh orang tua akan memungkinkan munculnya dualisme kepemimpinan dalam diri anak, terutama bila orang tua berada di rumah. </p>
<p>Banyak kasus yang terjadi di mana anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orang tua, atau anak yang takut dengan pengasuh tapi tidak berani mengungkapkan karena orang tua jarang di rumah, ataupun anak yang mendapat pengaruh buruk dari pengasuh. </p>
<p>Dengan memastikan bahwa anak berada bersama dengan pengasuh yang memahami visi misi orang tua terhadap anak dan mampu memastikan tanggung jawabnya untuk keselamatan anak, maka, ibu-pun akan mampu bekerja dengan tenang.</p>
<p>Hal ini tentu selama point no. 1 mendapat perhatian yang utama sebagai dasar dari terbentuknya hubungan emosional yang efektif antara orang tua dan anak di tengah-tengah jadwal yang padat.</p>
<p>Demikian beberapa tips yang dapat kami sampaikan saat ini. Tentu, tidak tertutup kemungkinan ibu ada pertimbangan-pertimbangan lain sehingga ada alternatif yang dapat didiskusikan lebih lanjut. Dengan senang hati, kami mencoba mendukung sebaik mungkin.</p>
<p>Kami sangat meyakini bahwa &#8220;Kebahagiaan Orang Tua&#8221;, merupakan dasar dari tercapainya kebahagiaan anak. Bila orang tua bahagia, maka, akan terpancar dalam bahasa tubuh sehingga anak-pun akan turut bahagia.</p>
<p>So, selamat menjadi orang tua yang berbahagia, ibu!! ^_^</p>
<p>Semoga bermanfaat!</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Anak susah konsentrasi dan tidak merasa takut by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-susah-konsentrasi-dan-tidak-merasa-takut/#comment-26</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 00:58:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=259#comment-26</guid>
		<description>Yth. Ibu t001

Sebuah pepatah kuno dari Jerman mengatakan, &quot;Kita dapat melakukan apapun bersama anak-anak, hanya bila kita bermain bersama mereka.&quot; 

Dunia anak-anak memang dunia yang penuh dengan imajinasi sehingga tidak mengherankan bila banyak ahli pendidikan yang mengajarkan metode fun learning atau bermain sambil belajar. 

Sama halnya dalam kasus anak ibu. Pada awal ibu memberikan support berupa hadiah, mungkin sekali anak ibu merasa menemukan permainan baru yang menantang untuk ditaklukkan. Namun dalam perjalanannya, bukan tidak mungkin, bila dia menemukan rutinitas yang membosankan baginya sehingga mudah teralihkan dengan teman-temannya.

Sayang sekali, ada banyak data yang belum kami pahami dari kasus ibu, seperti misalkan, apakah ada kesepakatan jadwal belajar dan bermain untuk anak, apakah dia belajar di tempat khusus tersendiri atau di tempat yang mudah teralihkan, dan sebagainya. Namun demikian, beberapa tips berikut ini kami coba ajukan:

1. Tumbuhkan kepercayaan diri anak apapun hasil pelajarannya.

Salah satu faktor yang dapat mengurangi minat anak untuk mencapai prestasi yang baik adalah kurangnya kepercayaan diri. Hal ini muncul karena apapun hasilnya, ujung-ujungnya adalah tekanan (untuk mempertahankan prestasi sehingga anak menjadi stress) atau celaan (untuk meningkatkan prestasi sehingga anak menjadi stress pula). Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi yang stressful, tapi di antara berbagai cara tersebut, sebenarnya hanya dibagi dua bentuk saja, yaitu &quot;Fight (menghadapi) atau Flight (lari). Oleh sebab itu, membesarkan hati anak dengan kata-kata seperti &quot;ibu yakin adik bisa&quot;, &quot;ibu percaya bahwa adik dapat dipercaya untuk bertanggung jawab&quot; dan sebagainya, adalah salah satu metode motivasi yang mampu melekatkan ikatan emosi anak dan orang tua.

2. Jadwal yang disepakati bersama

Mengajak anak untuk menyepakati jadwal belajar bersama dapat melatih anak untuk berlatih tanggung jawab. Selain itu, ibu-pun juga lebih mudah dalam memberikan supervisi sehingga anak-pun tidak merasa selalu dikejar-kejar dengan kewajiban belajar.

3. Waktu bermain

Penjadwalan bersama bermanfaat untuk membebaskan anak dalam menentukan waktu bermain yang dia sukai. Dengan begitu, anak-pun akan belajar disiplin melakukan kewajibannya sekaligus juga rileks karena dia tahu bahwa dia dapat bermain sepuas hati di jam-jam yang disepakati

4. Tempat belajar yang khusus dan sepi

Sebisa mungkin, bila memang kondisi dapat disesuaikan, yaitu anak mendapatkan tempat khusus untuk belajar dengan gangguan sesedikit mungkin (seperti dekat dengan televisi dan sebagainya). Hal ini juga melatih anak untuk berkonsentrasi penuh selama jam belajar

5. Pendampingan yang fun

Ada kalanya anak kesulitan mengerjakan soal-soal tertentu. Pada kebanyakan kasus yang terjadi, orang tua menyerahkan tugas pendampingan ini kepada guru les ataupun orang lain. Hal ini berpotensi menimbulkan pesimisme pada anak bahwa orang tuanya sendiri juga tidak mampu. Memberikan hadiah merupakan salah satu metode untuk menumbuhkan gairah anak, namun, akan kurang efektif bila anak berada dalam tekanan untuk mendapatkan hadiah tersebut. Oleh sebab itu, orang tua perlu sesekali meluangkan waktu untuk mendampingi anak secara fun dan tanpa tekanan, sehingga anak nyaman dan mempercayai orang tuanya.


Demikian beberapa tips yang coba kami ajukan. Bila ada informasi yang ingin ibu sampaikan, dengan senang hati kami akan berdiskusi bersama ibu.

Semoga bermanfaat! ^_^



Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Ibu t001</p>
<p>Sebuah pepatah kuno dari Jerman mengatakan, &#8220;Kita dapat melakukan apapun bersama anak-anak, hanya bila kita bermain bersama mereka.&#8221; </p>
<p>Dunia anak-anak memang dunia yang penuh dengan imajinasi sehingga tidak mengherankan bila banyak ahli pendidikan yang mengajarkan metode fun learning atau bermain sambil belajar. </p>
<p>Sama halnya dalam kasus anak ibu. Pada awal ibu memberikan support berupa hadiah, mungkin sekali anak ibu merasa menemukan permainan baru yang menantang untuk ditaklukkan. Namun dalam perjalanannya, bukan tidak mungkin, bila dia menemukan rutinitas yang membosankan baginya sehingga mudah teralihkan dengan teman-temannya.</p>
<p>Sayang sekali, ada banyak data yang belum kami pahami dari kasus ibu, seperti misalkan, apakah ada kesepakatan jadwal belajar dan bermain untuk anak, apakah dia belajar di tempat khusus tersendiri atau di tempat yang mudah teralihkan, dan sebagainya. Namun demikian, beberapa tips berikut ini kami coba ajukan:</p>
<p>1. Tumbuhkan kepercayaan diri anak apapun hasil pelajarannya.</p>
<p>Salah satu faktor yang dapat mengurangi minat anak untuk mencapai prestasi yang baik adalah kurangnya kepercayaan diri. Hal ini muncul karena apapun hasilnya, ujung-ujungnya adalah tekanan (untuk mempertahankan prestasi sehingga anak menjadi stress) atau celaan (untuk meningkatkan prestasi sehingga anak menjadi stress pula). Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi yang stressful, tapi di antara berbagai cara tersebut, sebenarnya hanya dibagi dua bentuk saja, yaitu &#8220;Fight (menghadapi) atau Flight (lari). Oleh sebab itu, membesarkan hati anak dengan kata-kata seperti &#8220;ibu yakin adik bisa&#8221;, &#8220;ibu percaya bahwa adik dapat dipercaya untuk bertanggung jawab&#8221; dan sebagainya, adalah salah satu metode motivasi yang mampu melekatkan ikatan emosi anak dan orang tua.</p>
<p>2. Jadwal yang disepakati bersama</p>
<p>Mengajak anak untuk menyepakati jadwal belajar bersama dapat melatih anak untuk berlatih tanggung jawab. Selain itu, ibu-pun juga lebih mudah dalam memberikan supervisi sehingga anak-pun tidak merasa selalu dikejar-kejar dengan kewajiban belajar.</p>
<p>3. Waktu bermain</p>
<p>Penjadwalan bersama bermanfaat untuk membebaskan anak dalam menentukan waktu bermain yang dia sukai. Dengan begitu, anak-pun akan belajar disiplin melakukan kewajibannya sekaligus juga rileks karena dia tahu bahwa dia dapat bermain sepuas hati di jam-jam yang disepakati</p>
<p>4. Tempat belajar yang khusus dan sepi</p>
<p>Sebisa mungkin, bila memang kondisi dapat disesuaikan, yaitu anak mendapatkan tempat khusus untuk belajar dengan gangguan sesedikit mungkin (seperti dekat dengan televisi dan sebagainya). Hal ini juga melatih anak untuk berkonsentrasi penuh selama jam belajar</p>
<p>5. Pendampingan yang fun</p>
<p>Ada kalanya anak kesulitan mengerjakan soal-soal tertentu. Pada kebanyakan kasus yang terjadi, orang tua menyerahkan tugas pendampingan ini kepada guru les ataupun orang lain. Hal ini berpotensi menimbulkan pesimisme pada anak bahwa orang tuanya sendiri juga tidak mampu. Memberikan hadiah merupakan salah satu metode untuk menumbuhkan gairah anak, namun, akan kurang efektif bila anak berada dalam tekanan untuk mendapatkan hadiah tersebut. Oleh sebab itu, orang tua perlu sesekali meluangkan waktu untuk mendampingi anak secara fun dan tanpa tekanan, sehingga anak nyaman dan mempercayai orang tuanya.</p>
<p>Demikian beberapa tips yang coba kami ajukan. Bila ada informasi yang ingin ibu sampaikan, dengan senang hati kami akan berdiskusi bersama ibu.</p>
<p>Semoga bermanfaat! ^_^</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on anak suka melempar2 barang by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-suka-melempar2-barang/#comment-25</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 15:24:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=251#comment-25</guid>
		<description>Yth Ibu E

Pertama-tama, kami ucapkan selamat berbahagia atas pernikahan ibu. Semoga ibu dengan keluarga baru ibu diberkati dengan kebahagiaan dan cinta sejati yang abadi hingga hari tua nanti.

Menjadi ibu tiri memang dalam beberapa bentuk ikatan emosional, agak sedikit berbeda dengan ibu kandung. Namun, tidak tertutup kemungkinan, ikatan emosional secara lekat mampu terjalin dengan baik seperti yang dialami oleh ibu. Dan itu merupakan tanda yang sangat positif karena berarti ibu berada dalam posisi yang bagus untuk menanamkan nilai-nilai luhur seperti layaknya ibu kandung sendiri.

Namun ada beberapa informasi yang belum sepenuhnya kami pahami seperti misalkan, bagaimana status duda suami ibu terdahulu, sejak kapan perkenalan ibu dengan si Ade, apakah ibu bekerja ataukah menjadi ibu rumah tangga, apakah Ade anak tunggal dari suami ibu di perkawinan terdahulu ataukah ada saudara lain yang tinggal bersama mantan istri, dan beberapa informasi detil lainnya.

Meskipun demikian,  kami coba memberikan penjelasan beserta saran berdasarkan data sementara yang telah ibu sampaikan, yaitu:

1. Berpegang teguh pada niat luhur tanpa dikuatirkan dengan “Labelling” orang lain. Maksudnya adalah: Ibu tetap berpegang teguh bahwa ibu adalah ibu dari Ade, baik dengan label “Tiri” ataupun “Kandung”. Dengan begitu, ibu dapat lebih mudah berdamai dengan diri ibu sendiri, yang pada akhirnya, dapat yakin bahwa segala keputusan yang ibu ambil adalah betul-betul demi kebaikan Ade sebagai anak yang ibu kasihi dengan sepenuh hati ibu.
2. Berdiskusi dengan suami ibu untuk menyepakati pola pengasuhan bersama-sama secara konsisten. Hal ini amat sangat penting sekali sebagai dasar untuk pengambilan sikap yang saling melengkapi dan saling mendukung sehingga anak menjadi focus terhadap perilaku yang diharapkan oleh kedua orang tua, bukan sekedar takut terhadap salah satu figure orang tua saja
3. Mencoba memahami Ade dengan keinginannya yang masih balita. Seharusnya sesuai tahapan perkembangan, usia 4 tahun sudah melewati fase kebutuhan menyusu.  Di sini yang perlu ibu telusuri adalah apakah ada fase yang belum terpuaskan selama masa menyusui ataukah karena ada ketertarikan secara seksual terhadap lawan jenis (fase terbentuk Oedipus dan electra complex pada anak).  Sumber informasinya tentu dari suami ibu sebagai ayah kandung dari Ade maupun pengalaman ibu sendiri selama 1 tahun ini. Seperti misalkan, apakah Ade sempat melalui masa menyusui, siapa yang mengasuhnya sehari-hari , bagaimana eksplorasi jenis kelamin yang dilalui Ade, bagaimana lingkungan tempat Ade berada saat ini.
4. Bila informasi di atas, diketahui, maka penanaman nilai-nilai normative yang lebih memadai akan mampu diatasi secara bersama-sama tanpa harus membuat Ade trauma (yang ujung-ujungnya malah akan menjadi masalah)
5. Satu hal yang harus kita ingat, anak balita masih belum mampu berpikir secara rasional seperti orang dewasa. Namun, bukan berarti anak balita tidak mampu memahami baik dan buruk. Konsistensi adalah kunci yang utama untuk menjadikan anak balita mencontoh, bukan sekedar mendengarkan larangan
6. Membacakan dongeng-dongeng tentang perilaku baik dan perilaku buruk, pada umumnya sangat efektif terhadap anak-anak, terutama balita. Hal ini bisa sekaligus ibu gunakan untuk menelusuri dari hati ke hati, kenapa Ade sampai melempar-lempar barang. Bisa jadi itu merupakan pencarian perhatian, atau kebiasaan selalu diturut, atau malah, dianggap wajar karena perilakunya dianggap lucu oleh ayah.
7. Apapun hasil penelusuran ibu, tetap ibu perlu kembali ke saran yang nomer 2, yaitu berdiskusi dengan suami
8. Minimalkan atau kurangi “Melarang”, karena rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi. Hal ini malah dapat memicu usaha untuk mencari tahu dengan cara sendiri, yang dapat berakibat lebih parah

Pada dasarnya, secara garis besar, kami optimis bahwa hubungan ibu dengan Ade sudah berada dalam jalur yang positif.  Tinggal bagaimana ibu dan suami memolesnya sedemikian rupa, sehingga kualitas hubungan yang sudah terbentuk ini, menjadi kekuatan yang saling menumbuhkan antara ibu, suami dan Ade. 

Kami akan sangat terbuka bila ada informasi lebih lanjut yang dapat kita diskusikan bersama-sama sehingga kita sama-sama dapat saling belajar dan saling berkembang sebagai pribadi yang luar biasa, bagi keluarga, anak-anak dan masyarakat kita.

Tetap semangat!


Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Ibu E</p>
<p>Pertama-tama, kami ucapkan selamat berbahagia atas pernikahan ibu. Semoga ibu dengan keluarga baru ibu diberkati dengan kebahagiaan dan cinta sejati yang abadi hingga hari tua nanti.</p>
<p>Menjadi ibu tiri memang dalam beberapa bentuk ikatan emosional, agak sedikit berbeda dengan ibu kandung. Namun, tidak tertutup kemungkinan, ikatan emosional secara lekat mampu terjalin dengan baik seperti yang dialami oleh ibu. Dan itu merupakan tanda yang sangat positif karena berarti ibu berada dalam posisi yang bagus untuk menanamkan nilai-nilai luhur seperti layaknya ibu kandung sendiri.</p>
<p>Namun ada beberapa informasi yang belum sepenuhnya kami pahami seperti misalkan, bagaimana status duda suami ibu terdahulu, sejak kapan perkenalan ibu dengan si Ade, apakah ibu bekerja ataukah menjadi ibu rumah tangga, apakah Ade anak tunggal dari suami ibu di perkawinan terdahulu ataukah ada saudara lain yang tinggal bersama mantan istri, dan beberapa informasi detil lainnya.</p>
<p>Meskipun demikian,  kami coba memberikan penjelasan beserta saran berdasarkan data sementara yang telah ibu sampaikan, yaitu:</p>
<p>1. Berpegang teguh pada niat luhur tanpa dikuatirkan dengan “Labelling” orang lain. Maksudnya adalah: Ibu tetap berpegang teguh bahwa ibu adalah ibu dari Ade, baik dengan label “Tiri” ataupun “Kandung”. Dengan begitu, ibu dapat lebih mudah berdamai dengan diri ibu sendiri, yang pada akhirnya, dapat yakin bahwa segala keputusan yang ibu ambil adalah betul-betul demi kebaikan Ade sebagai anak yang ibu kasihi dengan sepenuh hati ibu.<br />
2. Berdiskusi dengan suami ibu untuk menyepakati pola pengasuhan bersama-sama secara konsisten. Hal ini amat sangat penting sekali sebagai dasar untuk pengambilan sikap yang saling melengkapi dan saling mendukung sehingga anak menjadi focus terhadap perilaku yang diharapkan oleh kedua orang tua, bukan sekedar takut terhadap salah satu figure orang tua saja<br />
3. Mencoba memahami Ade dengan keinginannya yang masih balita. Seharusnya sesuai tahapan perkembangan, usia 4 tahun sudah melewati fase kebutuhan menyusu.  Di sini yang perlu ibu telusuri adalah apakah ada fase yang belum terpuaskan selama masa menyusui ataukah karena ada ketertarikan secara seksual terhadap lawan jenis (fase terbentuk Oedipus dan electra complex pada anak).  Sumber informasinya tentu dari suami ibu sebagai ayah kandung dari Ade maupun pengalaman ibu sendiri selama 1 tahun ini. Seperti misalkan, apakah Ade sempat melalui masa menyusui, siapa yang mengasuhnya sehari-hari , bagaimana eksplorasi jenis kelamin yang dilalui Ade, bagaimana lingkungan tempat Ade berada saat ini.<br />
4. Bila informasi di atas, diketahui, maka penanaman nilai-nilai normative yang lebih memadai akan mampu diatasi secara bersama-sama tanpa harus membuat Ade trauma (yang ujung-ujungnya malah akan menjadi masalah)<br />
5. Satu hal yang harus kita ingat, anak balita masih belum mampu berpikir secara rasional seperti orang dewasa. Namun, bukan berarti anak balita tidak mampu memahami baik dan buruk. Konsistensi adalah kunci yang utama untuk menjadikan anak balita mencontoh, bukan sekedar mendengarkan larangan<br />
6. Membacakan dongeng-dongeng tentang perilaku baik dan perilaku buruk, pada umumnya sangat efektif terhadap anak-anak, terutama balita. Hal ini bisa sekaligus ibu gunakan untuk menelusuri dari hati ke hati, kenapa Ade sampai melempar-lempar barang. Bisa jadi itu merupakan pencarian perhatian, atau kebiasaan selalu diturut, atau malah, dianggap wajar karena perilakunya dianggap lucu oleh ayah.<br />
7. Apapun hasil penelusuran ibu, tetap ibu perlu kembali ke saran yang nomer 2, yaitu berdiskusi dengan suami<br />
8. Minimalkan atau kurangi “Melarang”, karena rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi. Hal ini malah dapat memicu usaha untuk mencari tahu dengan cara sendiri, yang dapat berakibat lebih parah</p>
<p>Pada dasarnya, secara garis besar, kami optimis bahwa hubungan ibu dengan Ade sudah berada dalam jalur yang positif.  Tinggal bagaimana ibu dan suami memolesnya sedemikian rupa, sehingga kualitas hubungan yang sudah terbentuk ini, menjadi kekuatan yang saling menumbuhkan antara ibu, suami dan Ade. </p>
<p>Kami akan sangat terbuka bila ada informasi lebih lanjut yang dapat kita diskusikan bersama-sama sehingga kita sama-sama dapat saling belajar dan saling berkembang sebagai pribadi yang luar biasa, bagi keluarga, anak-anak dan masyarakat kita.</p>
<p>Tetap semangat!</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Anak memegang kemaluan sepupu perempuannya by rini</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/anak-memegang-kemaluan-sepupu-perempuannya/#comment-24</link>
		<dc:creator>rini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 03:18:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=238#comment-24</guid>
		<description>Ibu An yang kami hormati, kami sangat memahami kebingungan yang sedang ibu alami saat ini. Semua orang tua pasti tidak ingin mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan berkenaan dengan anak-anak. Namun pengalaman ini hendaknya menjadi suatu proses pembelajaran pendidikan bagi orang tua untuk anak-anaknya. Beberapa orang tua juga ada yang mengalami seperti yang dialami oleh ibu berkaitan perihal anaknya. Jadi yang terpenting ibu tidak sendirian karena diluar sana juga ada yang mengalami hal yang sama, yang utamanya adalah dari orang tua itu sendiri untuk mengatasi kejadian tersebut.

Mengingat usia anak ibu yang pertama sudah memasuki usia remaja atau masa adolescence di usia 12 sampai ± 18 tahun. Pada tahap ini ditandai dengan masa pubertas yaitu tumbuhnya organ-organ sexual dan mengalami kematangan. Perkembangan sexual anak disertai juga dengan pertumbuhan perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Secara fisik menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan begitu juga secara psikologis anak. Anak mulai tertarik dengan lawan jenis, jatuh cinta, eksplorasi diri, ego yang kuat, dan lain sebagainya. Pertumbuhan dan perubahan-perubahan pada anak, orang tua hendaknya harus waspada dan sangat memberikan perhatian pada anak serta mendampinginya untuk melewati masa-masa tersebut. Agar nantinya anak-anak tumbuh menjadi individu yang siap memasuki lingkungan dewasa dan menerima tanggung jawab.

Pendidikan sex untuk anak sedini mungkin adalah sangat penting untuk perkembangan seksual anak. Banyak orang tua yang melalaikan tugas penting ini, karena dianggap tabu untuk membicarakan pada anak. Dalam pendidikan sex, penjelasan bahasa disesuaikan dengan perkembangan kognitif/berpikir anak. Tugas orang tua adalah harus meluangkan waktu bersama dengan anak, untuk mengobrol dan berdiskusi mengenai pendidikan sex pada anak. Pendidikan sex itu sangatlah luas karena tidak hanya membahas seputar organ sex tetapi secara nilai dan moral dalam pergaulan juga sangat penting untuk diungkap dan didiskusikan mengingat dampak-dampak yang akan terjadi jika melakukan penyimpangan. 
Berkaitan dengan pertanyaan ibu mengenai “bagaimana saya bertanya ke anak saya”, tindakan awal yang bisa dilakukan adalah mulai memperkenalkan pendidikan sex pada anak. Nilai,  moral dan dampaknya sudah mulai diperkenalkan pada anak jika melakukan sesuatu yang tidak benar.

Setelah anak paham, mulailah orang tua untuk bertanya berkaitan dengan kejadian tersebut. Orang tua harus tenang, tidak panik dan yang paling utama tidak menunjukkan ekspresi kemarahan yang berlebihan karena bisa berdampak trauma pada anak, apalagi jika anak merasa di intrograsi dengan paksaan agar mengaku. Pada saat bertanya pada anak gunakanlah bahasa yang tidak menyudutkan agar anak mau berbicara dan berkomunikasi dengan baik. 

Untuk bertanya pada keponakan ibu, menurut kami tindakan ini perlu dibicarakan lebih lanjut dengan orang tuanya karena cara yang dilakukan oleh orang tua dalam memecahkan masalah anak sangatlah berbeda-beda.
Ibu, bisa melihat dan mengamati perubahan yang terjadi pada keduanya, anak ibu dan keponakan. Biasanya jika anak benar melakukan ada tanda-tanda yang ditunjukkan, seperti : ketika keduanya dipertemukan menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bahkan bisa menarik diri masing-masing. Bisa juga menjadi malu untuk saling mendekat. Atau bahkan si perempuan menolak untuk bermain bersama. Selain itu bisa juga terlihat Adanya perubahan drastis pada anak-anak, misalnya si perempuan menjadi murung, tidak ceria, malu, menggigit jari seperti waktu anak-anak, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan anak laki-laki, menunjukkan adanya perubahan drastis, seperti lebih suka mengurung diri, tidak mau berbicara, dan menolak untuk bermain. 

Akan tetapi bisa juga tanda-tanda yang ditunjukkan adalah sebaliknya karena memang si anak masih belum paham akan kejadian tersebut, seperti: 
tidak ada penolakan untuk bermain bersama, hubungan mereka biasa-biasa saja seperti sedia kala. Namun jika diperhatikan sungguh-sungguh ada saja perilaku yang ditunjukkan, seperti lebih akrab, selalu bermain berdua, rasa senang jika bertemu dan sebagainya. Perilaku-perilaku tersebut ditunjukkan tidak seperti biasanya atau berbeda bahkan berlebihan. Hal ini perlu pengamatan dan pengawasan lebih lanjut, karena pada masing-masing anak perilaku yang ditunjukkan tidaklah sama. Namun biasanya perubahan perilaku pada anak bisa menjadi indikasi awal adanya suatu kejadian.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua :
1.Pentingnya pendidikan sex pada anak. Ajarkan pendidikan seks sedini mungkin pada anak-anak. Ajarkan anak agar tidak mengijinkan seorang pun untuk menyentuh daerah pribadi mereka. Ajarkan juga untuk mengatakan “tidak” pada orang yang ingin memeluk atau menyentuhnya dengan cara apapun apabila mereka tidak nyaman. Pastikan anak menyadari bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.
2.Jangan memerintahkan anak untuk mencium dan memeluk orang lain, meskipun itu saudaranya sendiri. Biarkan anak mengekspresikan dirinya menurut cara yang paling nyaman baginya.
3.Luangkanlah waktu untuk berdiskusi dengan  anak dan jalinlah komunikasi yang berkualitas dengan anak Anda. Hanya dengan komunikasi yang bagus, Anda dapat mengetahui hal-hal apa saja yang menimpa anak Anda. Biarkan anak Anda tahu bahwa dia bisa menceritakan segala hal pada Anda.

Demikianlah beberapa informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan bagi kita sebagai orang tua dalam menghadapi berbagai pelik permasalahan dengan anak yang bisa membuat kita sebagai orang tua lebih dewasa dalam sikap dan tindakan terhadap anak. 

Terima kasih. 
Salam hangat dari kami :
Tim Psikologi Anak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu An yang kami hormati, kami sangat memahami kebingungan yang sedang ibu alami saat ini. Semua orang tua pasti tidak ingin mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan berkenaan dengan anak-anak. Namun pengalaman ini hendaknya menjadi suatu proses pembelajaran pendidikan bagi orang tua untuk anak-anaknya. Beberapa orang tua juga ada yang mengalami seperti yang dialami oleh ibu berkaitan perihal anaknya. Jadi yang terpenting ibu tidak sendirian karena diluar sana juga ada yang mengalami hal yang sama, yang utamanya adalah dari orang tua itu sendiri untuk mengatasi kejadian tersebut.</p>
<p>Mengingat usia anak ibu yang pertama sudah memasuki usia remaja atau masa adolescence di usia 12 sampai ± 18 tahun. Pada tahap ini ditandai dengan masa pubertas yaitu tumbuhnya organ-organ sexual dan mengalami kematangan. Perkembangan sexual anak disertai juga dengan pertumbuhan perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Secara fisik menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan begitu juga secara psikologis anak. Anak mulai tertarik dengan lawan jenis, jatuh cinta, eksplorasi diri, ego yang kuat, dan lain sebagainya. Pertumbuhan dan perubahan-perubahan pada anak, orang tua hendaknya harus waspada dan sangat memberikan perhatian pada anak serta mendampinginya untuk melewati masa-masa tersebut. Agar nantinya anak-anak tumbuh menjadi individu yang siap memasuki lingkungan dewasa dan menerima tanggung jawab.</p>
<p>Pendidikan sex untuk anak sedini mungkin adalah sangat penting untuk perkembangan seksual anak. Banyak orang tua yang melalaikan tugas penting ini, karena dianggap tabu untuk membicarakan pada anak. Dalam pendidikan sex, penjelasan bahasa disesuaikan dengan perkembangan kognitif/berpikir anak. Tugas orang tua adalah harus meluangkan waktu bersama dengan anak, untuk mengobrol dan berdiskusi mengenai pendidikan sex pada anak. Pendidikan sex itu sangatlah luas karena tidak hanya membahas seputar organ sex tetapi secara nilai dan moral dalam pergaulan juga sangat penting untuk diungkap dan didiskusikan mengingat dampak-dampak yang akan terjadi jika melakukan penyimpangan.<br />
Berkaitan dengan pertanyaan ibu mengenai “bagaimana saya bertanya ke anak saya”, tindakan awal yang bisa dilakukan adalah mulai memperkenalkan pendidikan sex pada anak. Nilai,  moral dan dampaknya sudah mulai diperkenalkan pada anak jika melakukan sesuatu yang tidak benar.</p>
<p>Setelah anak paham, mulailah orang tua untuk bertanya berkaitan dengan kejadian tersebut. Orang tua harus tenang, tidak panik dan yang paling utama tidak menunjukkan ekspresi kemarahan yang berlebihan karena bisa berdampak trauma pada anak, apalagi jika anak merasa di intrograsi dengan paksaan agar mengaku. Pada saat bertanya pada anak gunakanlah bahasa yang tidak menyudutkan agar anak mau berbicara dan berkomunikasi dengan baik. </p>
<p>Untuk bertanya pada keponakan ibu, menurut kami tindakan ini perlu dibicarakan lebih lanjut dengan orang tuanya karena cara yang dilakukan oleh orang tua dalam memecahkan masalah anak sangatlah berbeda-beda.<br />
Ibu, bisa melihat dan mengamati perubahan yang terjadi pada keduanya, anak ibu dan keponakan. Biasanya jika anak benar melakukan ada tanda-tanda yang ditunjukkan, seperti : ketika keduanya dipertemukan menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bahkan bisa menarik diri masing-masing. Bisa juga menjadi malu untuk saling mendekat. Atau bahkan si perempuan menolak untuk bermain bersama. Selain itu bisa juga terlihat Adanya perubahan drastis pada anak-anak, misalnya si perempuan menjadi murung, tidak ceria, malu, menggigit jari seperti waktu anak-anak, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan anak laki-laki, menunjukkan adanya perubahan drastis, seperti lebih suka mengurung diri, tidak mau berbicara, dan menolak untuk bermain. </p>
<p>Akan tetapi bisa juga tanda-tanda yang ditunjukkan adalah sebaliknya karena memang si anak masih belum paham akan kejadian tersebut, seperti:<br />
tidak ada penolakan untuk bermain bersama, hubungan mereka biasa-biasa saja seperti sedia kala. Namun jika diperhatikan sungguh-sungguh ada saja perilaku yang ditunjukkan, seperti lebih akrab, selalu bermain berdua, rasa senang jika bertemu dan sebagainya. Perilaku-perilaku tersebut ditunjukkan tidak seperti biasanya atau berbeda bahkan berlebihan. Hal ini perlu pengamatan dan pengawasan lebih lanjut, karena pada masing-masing anak perilaku yang ditunjukkan tidaklah sama. Namun biasanya perubahan perilaku pada anak bisa menjadi indikasi awal adanya suatu kejadian.</p>
<p>Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua :<br />
1.Pentingnya pendidikan sex pada anak. Ajarkan pendidikan seks sedini mungkin pada anak-anak. Ajarkan anak agar tidak mengijinkan seorang pun untuk menyentuh daerah pribadi mereka. Ajarkan juga untuk mengatakan “tidak” pada orang yang ingin memeluk atau menyentuhnya dengan cara apapun apabila mereka tidak nyaman. Pastikan anak menyadari bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.<br />
2.Jangan memerintahkan anak untuk mencium dan memeluk orang lain, meskipun itu saudaranya sendiri. Biarkan anak mengekspresikan dirinya menurut cara yang paling nyaman baginya.<br />
3.Luangkanlah waktu untuk berdiskusi dengan  anak dan jalinlah komunikasi yang berkualitas dengan anak Anda. Hanya dengan komunikasi yang bagus, Anda dapat mengetahui hal-hal apa saja yang menimpa anak Anda. Biarkan anak Anda tahu bahwa dia bisa menceritakan segala hal pada Anda.</p>
<p>Demikianlah beberapa informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan bagi kita sebagai orang tua dalam menghadapi berbagai pelik permasalahan dengan anak yang bisa membuat kita sebagai orang tua lebih dewasa dalam sikap dan tindakan terhadap anak. </p>
<p>Terima kasih.<br />
Salam hangat dari kami :<br />
Tim Psikologi Anak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Perkembangan Emosi Sepupu yang Orang Tua Bercerai by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/perkembangan-emosi-sepupu-yang-orang-tua-bercerai/#comment-23</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 06:35:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=231#comment-23</guid>
		<description>Yth Bu SM,

Kami salut dengan kasih tulus ibu kepada sepupu ibu. Walaupun bukan saudara kandung sendiri, namun, ibu memberikan perhatian yang besar terhadap sepupu ibu sebagai pengganti dari orang tua. 

Hal ini merupakan dasar yang kuat untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri sepupu ibu bahwa ternyata ia masih memiliki seseorang yang mencintai dan memperhatikannya. 

Krisis kepercayaan diri (perasaan tertolak dari salah satu atau malah kedua orang tua) inilah yang biasanya menghinggapi anak-anak korban perceraian keluarga sehingga mereka membutuhkan waktu dan usaha yang besar untuk beradaptasi.

Memang bisa dimaklumi gejolak emosi sepupu ibu yang baru berumur 10 tahun saat ini. Di usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa orang tuanya berpisah dan tak ada satupun yang bersedia mengasuhnya. Hal ini tentu di luar kemampuan anak berusia 10 tahun untuk mampu menerima kenyataan menyakitkan semacam ini.

Namun, untuk memastikan kekuatiran ibu apakah dia mengalami kelainan jiwa, tentu prosesnya cukup panjang dan harus dengan pengamatan ahli kejiwaan secara terus menerus. 

Hanya saja, selama sepupu ibu masih mampu memberikan respon sesuai pertanyaan, seperti misalkan, ditanya A, jawabannya juga A, maka, berarti kontaknya terhadap realita masih stabil. 

Ketidak-mauannya untuk menjawab dan menceritakan perasaannya belum tentu diakibatkan kelainan jiwa, melainkan, sangat mungkin sekali karena perceraian dan penolakan kedua orang tua kandung membuatnya sulit mempercayai bahwa akan ada orang yang memperhatikan dirinya dan memahami perasaannya. 

Sedangkan ia mengurung diri dan melampiaskan kekesalan dengan memukul barang adalah wujud katarsis (yaitu suatu upaya untuk menyalurkan emosi kepada sesuatu benda). Sebenarnya, tindakan katarsis, dalam terapi psikologi merupakan hal yang wajar dan bahkan dalam kasus-kasus tertentu, justru disarankan daripada dipendam yang malah akan membuat jiwa semakin tidak stabil dan kelak, ketika meledak, akan dilampiaskan kepada orang lain secara agresif destruktif. 

Jadi, tindakan katarsis sepupu ibu, bisa jadi, sebenarnya merupakan upaya untuk menyalurkan emosi saja. Hanya saja, bila perilaku tersebut dilakukan hingga cenderung melukai diri sendiri atau berpotensi mengganggu/ melukai orang lain, maka perlu dikendalikan.

Untuk itu, agar perhatian dan kasih sayang ibu yang tulus, tidak disalah-artikan oleh sepupu ibu (karena dia masih kecil dan juga mungkin sekali, masih sedang tergoncang emosinya sehingga mungkin sekali masih belum mampu mencerna maksud baik orang lain dengan proporsional), maka berikut ini kami ajukan beberapa saran:

1. Kata kuncinya adalah &quot;Sabar&quot;. Yang dimaksud dengan kesabaran dalam kasus sepupu ibu adalah memahami gejolak emosinya yang (mungkin sekali) sedang tergoncang dan kemudian, setahap demi setahap mulai menjadi sahabat yang mampu menerimanya apa adanya.

2. Untuk itu, tantangan terbesar ibu, bisa jadi, adalah menjadi figur yang sangat digantungkan oleh sepupu ibu kelak. Menjadi figur yang digantungkan ada sisi keunggulan dan potensi kesulitannya. 

Sisi keunggulannya adalah ibu memiliki kesempatan yang lebih besar dibandingkan orang lain untuk memberikan pengaruh kepadanya. 

Namun, potensi kesulitannya adalah ibu mungkin sekali, akan menjadi figur yang paling nyaman baginya untuk menjadi sasaran emosi sekaligus kelekatan yang tinggi. Untuk itu, ketelatenan dan kesabaran ibu dalam membimbing sepupu ibu untuk tumbuh besar menjadi pria dewasa yang percaya diri dan mandiri, sangat dibutuhkan.

3. Langkah awal yang terbaik yang dapat kami sarankan adalah menjadi pendengar. Dari data yang ibu berikan, kami berasumsi bahwa sepupu ibu tidak tahu kepada siapa sebenarnya dia bisa mengungkapkan emosinya dan siapa orang yang akan memahami apa yang dia rasakan. Karena itu, dia membutuhkan seseorang yang dia yakin akan mampu mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi dia. Maka, Ibu bisa mengawali dengan kehadiran ibu dan menemaninya tanpa perlu memaksa dia mengatakan permasalahannya. 

4. Sentuhan dan pelukan yang hangat merupakan salah satu sarana terbaik yang dibutuhkan untuk membuat seseorang merasa dekat dan diterima secara emosional. Hal ini berlaku untuk segala usia, terutama ketika di masa-masa kecil. Sepupu ibu yang masih kecil dan sedang tergoncang, tentu, membutuhkan penerimaan secara emosi yang dekat. Dan pelukan, sangat berpotensi mendukung upaya ibu untuk menjalin ikatan emosi secara kuat kepadanya.

5. Berikan kesempatan padanya untuk melampiaskan emosi di hadapan ibu tanpa dihakimi. Dan, setahap demi setahap, ibu mulai memberikan pengertian ketika emosinya sudah reda dengan nada yang lembut. Pemberian cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh besar yang masa lalunya juga kurang bahagia, juga dapat mendukung munculnya inspirasi di hati sepupu ibu bahwa dia adalah makhluk yang berharga, yang layak dicintai di mata Tuhan dan di mata ibu beserta keluarga ibu.

6. Dengan begitu, perlahan namun pasti, kepercayaan dirinya akan muncul dan ia akan menemukan sosok yang mencintainya dengan tulus dari ibu beserta keluarga ibu.

7. Menjadi keluarga panutan bagi sepupu ibu, terutama setelah orang tua kandung sudah terbilang &quot;gagal&quot; dalam menjalankan peran mereka. Dengan begitu, ibu dapat memberikan inspirasi baginya untuk tetap tumbuh menjadi anak yang berbakti, walaupun ditolak orang tua dan mampu memaafkan orang tua, terutama memaafkan diri sendiri. 

8. Memperlakukan dia sebagai bagian dari keluarga sendiri sehingga dia tidak kehilangan perasaan sebagai anak dan sebagai saudara.

Demikian beberapa saran yang dapat kami ajukan berdasarkan data yang kami terima dari ibu. 

Mungkin memang penerapannya tidak semudah yang dibayangkan dan membutuhkan kesabaran yang tinggi, namun, tidak ada satu manusia-pun yang tidak membutuhkan cinta dari sesamanya. Begitu pula dengan sepupu ibu tersebut. 

Niscaya, kesabaran dan ketelatenan kita akan mendapatkan pahala yang indah, setidaknya, kita-pun mampu memahami arti kehidupan yang sesungguhnya dengan cinta yang tulus.

Semoga bermanfaat! ^_^



Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Bu SM,</p>
<p>Kami salut dengan kasih tulus ibu kepada sepupu ibu. Walaupun bukan saudara kandung sendiri, namun, ibu memberikan perhatian yang besar terhadap sepupu ibu sebagai pengganti dari orang tua. </p>
<p>Hal ini merupakan dasar yang kuat untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri sepupu ibu bahwa ternyata ia masih memiliki seseorang yang mencintai dan memperhatikannya. </p>
<p>Krisis kepercayaan diri (perasaan tertolak dari salah satu atau malah kedua orang tua) inilah yang biasanya menghinggapi anak-anak korban perceraian keluarga sehingga mereka membutuhkan waktu dan usaha yang besar untuk beradaptasi.</p>
<p>Memang bisa dimaklumi gejolak emosi sepupu ibu yang baru berumur 10 tahun saat ini. Di usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa orang tuanya berpisah dan tak ada satupun yang bersedia mengasuhnya. Hal ini tentu di luar kemampuan anak berusia 10 tahun untuk mampu menerima kenyataan menyakitkan semacam ini.</p>
<p>Namun, untuk memastikan kekuatiran ibu apakah dia mengalami kelainan jiwa, tentu prosesnya cukup panjang dan harus dengan pengamatan ahli kejiwaan secara terus menerus. </p>
<p>Hanya saja, selama sepupu ibu masih mampu memberikan respon sesuai pertanyaan, seperti misalkan, ditanya A, jawabannya juga A, maka, berarti kontaknya terhadap realita masih stabil. </p>
<p>Ketidak-mauannya untuk menjawab dan menceritakan perasaannya belum tentu diakibatkan kelainan jiwa, melainkan, sangat mungkin sekali karena perceraian dan penolakan kedua orang tua kandung membuatnya sulit mempercayai bahwa akan ada orang yang memperhatikan dirinya dan memahami perasaannya. </p>
<p>Sedangkan ia mengurung diri dan melampiaskan kekesalan dengan memukul barang adalah wujud katarsis (yaitu suatu upaya untuk menyalurkan emosi kepada sesuatu benda). Sebenarnya, tindakan katarsis, dalam terapi psikologi merupakan hal yang wajar dan bahkan dalam kasus-kasus tertentu, justru disarankan daripada dipendam yang malah akan membuat jiwa semakin tidak stabil dan kelak, ketika meledak, akan dilampiaskan kepada orang lain secara agresif destruktif. </p>
<p>Jadi, tindakan katarsis sepupu ibu, bisa jadi, sebenarnya merupakan upaya untuk menyalurkan emosi saja. Hanya saja, bila perilaku tersebut dilakukan hingga cenderung melukai diri sendiri atau berpotensi mengganggu/ melukai orang lain, maka perlu dikendalikan.</p>
<p>Untuk itu, agar perhatian dan kasih sayang ibu yang tulus, tidak disalah-artikan oleh sepupu ibu (karena dia masih kecil dan juga mungkin sekali, masih sedang tergoncang emosinya sehingga mungkin sekali masih belum mampu mencerna maksud baik orang lain dengan proporsional), maka berikut ini kami ajukan beberapa saran:</p>
<p>1. Kata kuncinya adalah &#8220;Sabar&#8221;. Yang dimaksud dengan kesabaran dalam kasus sepupu ibu adalah memahami gejolak emosinya yang (mungkin sekali) sedang tergoncang dan kemudian, setahap demi setahap mulai menjadi sahabat yang mampu menerimanya apa adanya.</p>
<p>2. Untuk itu, tantangan terbesar ibu, bisa jadi, adalah menjadi figur yang sangat digantungkan oleh sepupu ibu kelak. Menjadi figur yang digantungkan ada sisi keunggulan dan potensi kesulitannya. </p>
<p>Sisi keunggulannya adalah ibu memiliki kesempatan yang lebih besar dibandingkan orang lain untuk memberikan pengaruh kepadanya. </p>
<p>Namun, potensi kesulitannya adalah ibu mungkin sekali, akan menjadi figur yang paling nyaman baginya untuk menjadi sasaran emosi sekaligus kelekatan yang tinggi. Untuk itu, ketelatenan dan kesabaran ibu dalam membimbing sepupu ibu untuk tumbuh besar menjadi pria dewasa yang percaya diri dan mandiri, sangat dibutuhkan.</p>
<p>3. Langkah awal yang terbaik yang dapat kami sarankan adalah menjadi pendengar. Dari data yang ibu berikan, kami berasumsi bahwa sepupu ibu tidak tahu kepada siapa sebenarnya dia bisa mengungkapkan emosinya dan siapa orang yang akan memahami apa yang dia rasakan. Karena itu, dia membutuhkan seseorang yang dia yakin akan mampu mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi dia. Maka, Ibu bisa mengawali dengan kehadiran ibu dan menemaninya tanpa perlu memaksa dia mengatakan permasalahannya. </p>
<p>4. Sentuhan dan pelukan yang hangat merupakan salah satu sarana terbaik yang dibutuhkan untuk membuat seseorang merasa dekat dan diterima secara emosional. Hal ini berlaku untuk segala usia, terutama ketika di masa-masa kecil. Sepupu ibu yang masih kecil dan sedang tergoncang, tentu, membutuhkan penerimaan secara emosi yang dekat. Dan pelukan, sangat berpotensi mendukung upaya ibu untuk menjalin ikatan emosi secara kuat kepadanya.</p>
<p>5. Berikan kesempatan padanya untuk melampiaskan emosi di hadapan ibu tanpa dihakimi. Dan, setahap demi setahap, ibu mulai memberikan pengertian ketika emosinya sudah reda dengan nada yang lembut. Pemberian cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh besar yang masa lalunya juga kurang bahagia, juga dapat mendukung munculnya inspirasi di hati sepupu ibu bahwa dia adalah makhluk yang berharga, yang layak dicintai di mata Tuhan dan di mata ibu beserta keluarga ibu.</p>
<p>6. Dengan begitu, perlahan namun pasti, kepercayaan dirinya akan muncul dan ia akan menemukan sosok yang mencintainya dengan tulus dari ibu beserta keluarga ibu.</p>
<p>7. Menjadi keluarga panutan bagi sepupu ibu, terutama setelah orang tua kandung sudah terbilang &#8220;gagal&#8221; dalam menjalankan peran mereka. Dengan begitu, ibu dapat memberikan inspirasi baginya untuk tetap tumbuh menjadi anak yang berbakti, walaupun ditolak orang tua dan mampu memaafkan orang tua, terutama memaafkan diri sendiri. </p>
<p>8. Memperlakukan dia sebagai bagian dari keluarga sendiri sehingga dia tidak kehilangan perasaan sebagai anak dan sebagai saudara.</p>
<p>Demikian beberapa saran yang dapat kami ajukan berdasarkan data yang kami terima dari ibu. </p>
<p>Mungkin memang penerapannya tidak semudah yang dibayangkan dan membutuhkan kesabaran yang tinggi, namun, tidak ada satu manusia-pun yang tidak membutuhkan cinta dari sesamanya. Begitu pula dengan sepupu ibu tersebut. </p>
<p>Niscaya, kesabaran dan ketelatenan kita akan mendapatkan pahala yang indah, setidaknya, kita-pun mampu memahami arti kehidupan yang sesungguhnya dengan cinta yang tulus.</p>
<p>Semoga bermanfaat! ^_^</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku seksual Anak Angkat by rini</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/pengaruh-lingkungan-terhadap-perilaku-seksual-anak-angkat/#comment-22</link>
		<dc:creator>rini</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 08:56:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=222#comment-22</guid>
		<description>Yth, Bpk Hh
Kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa cucu ibu. Kami berharap semoga cucu-cucu kesayangan ibu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik secara fisik dan mentalnya. 

Persoalan yang dihadapi oleh cucu bpk yang bernama M, adalah tanggung jawab kita semua untuk bisa mengarahkan, membimbing dan menyayanginya agar ia paham akan segala resiko atas perilakunya. Kami sangat menghormati dengan keputusan orang tua angkat M, untuk terus mengasuh M, meskipun M telah berbuat kesalahan yang fatal dalam anggota keluarga. Hal ini menunjukkan, bahwa orang tua angkat M, sangat menyayangi dan menginginkan agar M bisa berubah menjadi anak yang lebih baik.

Memang betul, apa yang menjadi kesimpulan sementara ini, bahwa mengingat latar belakang M yang selama 7 tahun hidup di RS dan bebas bergaul dengan siapa saja dan akhirnya membentuk kepribadian M yang bebas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebenarnya dalam dirinya sendiri, M sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang seutuhnya. Masa-masa dimana ia membutuhkan dekapan kasih sayang dari ibu atau orang tuanya, M tidak pernah mendapatkannya. Ia tumbuh dengan sendirinya, mencari rasa aman dari lingkungannya agar ia bisa diterima. Sehingga segala informasi yang diterimanya, ia cobakan, tanpa tahu akibatnya dan juga tidak ada orang yang konsisten untuk membimbing dan mengarahkannya. Bisa saja apa yang M lakukan hanyalah meniru perilaku orang dewasa saja, ia tidak tahu arti dan tujuannya, ia melakukannya hanya sekedar supaya bisa diterima dan menyenangkan bagi lingkungannya.

Sekarang, semua sudah terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membuat M kembali menjadi baik sesuai dengan usia perkembangannya. Kunci utama adalah cinta dan kasih sayang dari orang tua, keluarga dan orang-orang disekitarnya untuk menyayangi, membimbing dan memberikan rasa aman dan nyaman tinggal bersama dengan sebuah keluarga yang selama 7 tahun belum pernah ia dapatkain. Sungguh, untuk melakukan semua ini membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua dan keluarga.  Yang terpenting sebagai langkah awal adalah dimilikinya hati yang tulus,  penuh dengan cinta-kasih dan kesediaan untuk membimbing M tanpa ada rasa putus asa. Karena dengan limpahan kasih sayang yang diberikan pada M akan membuatkan merasa nyaman baik secara emosional maupun fisik akan keberadaannya di tengah-tengah keluarga barunya.

Berikut ada beberapa alternative tindakan yang bisa dilakukan orang tua bersama dengan M, yaitu :
1.	Bangunlah rasa aman dan percaya pada diri anak ketika bersama dengan keluarga, pendekatan yang dilakukan adalah dengan menyediakan waktu luang yang lebih banyak dan aktif melibatkan diri dengan kegiatan M. Ketika orang tua ada untuk M, hendaknya secara aktif berkomunikasi dengan M agar ia terbiasa untuk berbicara dan mengungkapkan isi hatinya.
2.	Sertakanlah M dalam kegiatan bermanfaat dan positif, misalnya les musik, seni tari, olah raga atau aktivitas apa saja, sehingga waktu luangnya terisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Awalnya memang orang tua yang mengarahkan, untuk mencari kegiatan apa yang ia senang dan  mampu melakukannya. Setelah itu, biarkanlah ia memilih kegiatan apa yang ia sukai. Dengan memberikan kebebasan M untuk memilih dan memutuskan keinginannya dengan konsekuensi ia harus mengikuti dan menyelesaikannya sampai selesai (tidak setengah-setengah). Dengan begitu ia akan belajar untuk bertanggung-jawab atas pilihannya.
3.	Sering-seringlah mengajak anak berdiskusi sehingga jika anak mengalami masalah atau kebosanan dengan aktivitasnya saat ini, kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh anak.
4.	Berikanlah pendidan seks secara tepat agar anak tidak salah ketika mendapatkan informasi dan menjadi tahu mengenai seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan. 
5.	Biasakanlah kegiatan-kegiatan sehari-hari yang ada kaitannya dengan seksualitas hendaknya anak dibiasakan untuk menjaga kesopanannya. Sebagai contoh : 1.  Orang tua dapat pula mengajari anak untuk membersihkan alat kelaminnya sendiri. Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya. 2. Ketika anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orang tua bisa mencegahnya. Ajarkan anak untuk membuka celana di dalam kamar mandi kalau mau pipis.
6.	Berbarengan dengan hal tersebut, anak juga diajari dengan kesopanan dan norma- norma yang ada. Sebagai contoh, orang tua meminta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Bisa juga langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, kelak saat beranjak dewasa, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.
7.	Melalui pembelajaran pendidikan seks sedini mungkin diharapkan ada konsep diri positif. Dengan begitu anak berupaya menjaga dan menghargai diri dan lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai nama ilmiahnya. “Sebutkan saja bahasa latinnya vagina untuk alat kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki. Jika anak-anak sudah mulai dikenalkan sejak kecil saat beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan.  
8.	Melibatkan dalam aktivitas keluarga, misalnya rutin mengunjungi keluarga agar anak lebih luas mengenal keluarga barunya, sehingga tetanam pada dirinya akan kebersamaan di dalam keluarga yang bisa membuatnya nyaman dan menyenangkan bersama dengan keluarga.
9.	Dukungan dari keluarga besar sangatlah membantu dalam membimbing dan mengarahkan M pada hal-hal positif, penghargaan akan keberadaan dirinya bisa membuatnya lebih percaya diri untuk menampilkan hal-hal positif yang ada pada dirinya.
10.	Berikanlah perhatian dan pengawasan ekstra dalam aktivitasnya. Selain pengaruh lingkungan, pengaruh dari Media massa, teknologi dst juga bisa mempengaruhi perilaku anak.  Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun. Selengkapnya bacalah artikel “Media Massa, teknologi dan perkembangan mental anak” di www.infoanak.com
11.	Jika anak melakukan kesalahan atau melakukan perbuatan-perbuatan seperti sebelumnya, hendaknya tegurlah dengan kelembutan dan berikanlah pengertian akan dampak negatif dari perbutannya tersebut. Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.
12.	Milikilah keyakinan bahwa M adalah anak yang baik, manis dan bisa berubah menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan sehingga bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Untuk informasi mengenai jasa Psikologi di Pekanbaru-Riau, bapak atau ibu bisa menanyakan pada Universitas yang ada Fakultas Psikologinya, biasanya pasti menyediakan untuk layanan Psikologi atau rumah sakit-rumah sakit besar yang menyediakan layanan Psikologi.
Demikianlah beberapa informasi dan alternatif tindakan yang bisa dilakukan orang tua dan keluarga. Besar harapan kami agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semuanya. Semoga M, bisa menemukan kemabali masa-masa kebahagiannya bersama dengan keluarga barunya yang penuh dengan cinta kasih dan sangat menyayanginya. 

Salam dari kami : Tim Psikologi Anak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth, Bpk Hh<br />
Kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa cucu ibu. Kami berharap semoga cucu-cucu kesayangan ibu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik secara fisik dan mentalnya. </p>
<p>Persoalan yang dihadapi oleh cucu bpk yang bernama M, adalah tanggung jawab kita semua untuk bisa mengarahkan, membimbing dan menyayanginya agar ia paham akan segala resiko atas perilakunya. Kami sangat menghormati dengan keputusan orang tua angkat M, untuk terus mengasuh M, meskipun M telah berbuat kesalahan yang fatal dalam anggota keluarga. Hal ini menunjukkan, bahwa orang tua angkat M, sangat menyayangi dan menginginkan agar M bisa berubah menjadi anak yang lebih baik.</p>
<p>Memang betul, apa yang menjadi kesimpulan sementara ini, bahwa mengingat latar belakang M yang selama 7 tahun hidup di RS dan bebas bergaul dengan siapa saja dan akhirnya membentuk kepribadian M yang bebas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebenarnya dalam dirinya sendiri, M sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang seutuhnya. Masa-masa dimana ia membutuhkan dekapan kasih sayang dari ibu atau orang tuanya, M tidak pernah mendapatkannya. Ia tumbuh dengan sendirinya, mencari rasa aman dari lingkungannya agar ia bisa diterima. Sehingga segala informasi yang diterimanya, ia cobakan, tanpa tahu akibatnya dan juga tidak ada orang yang konsisten untuk membimbing dan mengarahkannya. Bisa saja apa yang M lakukan hanyalah meniru perilaku orang dewasa saja, ia tidak tahu arti dan tujuannya, ia melakukannya hanya sekedar supaya bisa diterima dan menyenangkan bagi lingkungannya.</p>
<p>Sekarang, semua sudah terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membuat M kembali menjadi baik sesuai dengan usia perkembangannya. Kunci utama adalah cinta dan kasih sayang dari orang tua, keluarga dan orang-orang disekitarnya untuk menyayangi, membimbing dan memberikan rasa aman dan nyaman tinggal bersama dengan sebuah keluarga yang selama 7 tahun belum pernah ia dapatkain. Sungguh, untuk melakukan semua ini membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua dan keluarga.  Yang terpenting sebagai langkah awal adalah dimilikinya hati yang tulus,  penuh dengan cinta-kasih dan kesediaan untuk membimbing M tanpa ada rasa putus asa. Karena dengan limpahan kasih sayang yang diberikan pada M akan membuatkan merasa nyaman baik secara emosional maupun fisik akan keberadaannya di tengah-tengah keluarga barunya.</p>
<p>Berikut ada beberapa alternative tindakan yang bisa dilakukan orang tua bersama dengan M, yaitu :<br />
1.	Bangunlah rasa aman dan percaya pada diri anak ketika bersama dengan keluarga, pendekatan yang dilakukan adalah dengan menyediakan waktu luang yang lebih banyak dan aktif melibatkan diri dengan kegiatan M. Ketika orang tua ada untuk M, hendaknya secara aktif berkomunikasi dengan M agar ia terbiasa untuk berbicara dan mengungkapkan isi hatinya.<br />
2.	Sertakanlah M dalam kegiatan bermanfaat dan positif, misalnya les musik, seni tari, olah raga atau aktivitas apa saja, sehingga waktu luangnya terisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Awalnya memang orang tua yang mengarahkan, untuk mencari kegiatan apa yang ia senang dan  mampu melakukannya. Setelah itu, biarkanlah ia memilih kegiatan apa yang ia sukai. Dengan memberikan kebebasan M untuk memilih dan memutuskan keinginannya dengan konsekuensi ia harus mengikuti dan menyelesaikannya sampai selesai (tidak setengah-setengah). Dengan begitu ia akan belajar untuk bertanggung-jawab atas pilihannya.<br />
3.	Sering-seringlah mengajak anak berdiskusi sehingga jika anak mengalami masalah atau kebosanan dengan aktivitasnya saat ini, kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh anak.<br />
4.	Berikanlah pendidan seks secara tepat agar anak tidak salah ketika mendapatkan informasi dan menjadi tahu mengenai seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan.<br />
5.	Biasakanlah kegiatan-kegiatan sehari-hari yang ada kaitannya dengan seksualitas hendaknya anak dibiasakan untuk menjaga kesopanannya. Sebagai contoh : 1.  Orang tua dapat pula mengajari anak untuk membersihkan alat kelaminnya sendiri. Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya. 2. Ketika anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orang tua bisa mencegahnya. Ajarkan anak untuk membuka celana di dalam kamar mandi kalau mau pipis.<br />
6.	Berbarengan dengan hal tersebut, anak juga diajari dengan kesopanan dan norma- norma yang ada. Sebagai contoh, orang tua meminta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Bisa juga langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, kelak saat beranjak dewasa, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.<br />
7.	Melalui pembelajaran pendidikan seks sedini mungkin diharapkan ada konsep diri positif. Dengan begitu anak berupaya menjaga dan menghargai diri dan lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai nama ilmiahnya. “Sebutkan saja bahasa latinnya vagina untuk alat kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki. Jika anak-anak sudah mulai dikenalkan sejak kecil saat beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan.<br />
8.	Melibatkan dalam aktivitas keluarga, misalnya rutin mengunjungi keluarga agar anak lebih luas mengenal keluarga barunya, sehingga tetanam pada dirinya akan kebersamaan di dalam keluarga yang bisa membuatnya nyaman dan menyenangkan bersama dengan keluarga.<br />
9.	Dukungan dari keluarga besar sangatlah membantu dalam membimbing dan mengarahkan M pada hal-hal positif, penghargaan akan keberadaan dirinya bisa membuatnya lebih percaya diri untuk menampilkan hal-hal positif yang ada pada dirinya.<br />
10.	Berikanlah perhatian dan pengawasan ekstra dalam aktivitasnya. Selain pengaruh lingkungan, pengaruh dari Media massa, teknologi dst juga bisa mempengaruhi perilaku anak.  Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun. Selengkapnya bacalah artikel “Media Massa, teknologi dan perkembangan mental anak” di <a href="http://www.infoanak.com" rel="nofollow">http://www.infoanak.com</a><br />
11.	Jika anak melakukan kesalahan atau melakukan perbuatan-perbuatan seperti sebelumnya, hendaknya tegurlah dengan kelembutan dan berikanlah pengertian akan dampak negatif dari perbutannya tersebut. Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.<br />
12.	Milikilah keyakinan bahwa M adalah anak yang baik, manis dan bisa berubah menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan sehingga bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.<br />
Untuk informasi mengenai jasa Psikologi di Pekanbaru-Riau, bapak atau ibu bisa menanyakan pada Universitas yang ada Fakultas Psikologinya, biasanya pasti menyediakan untuk layanan Psikologi atau rumah sakit-rumah sakit besar yang menyediakan layanan Psikologi.<br />
Demikianlah beberapa informasi dan alternatif tindakan yang bisa dilakukan orang tua dan keluarga. Besar harapan kami agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semuanya. Semoga M, bisa menemukan kemabali masa-masa kebahagiannya bersama dengan keluarga barunya yang penuh dengan cinta kasih dan sangat menyayanginya. </p>
<p>Salam dari kami : Tim Psikologi Anak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Perpisahan Orang tua dan Dampaknya kepada anak by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/perpisahan-orang-tua-dan-dampaknya-kepada-anak/#comment-21</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 06:06:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=216#comment-21</guid>
		<description>Yth Pak JS

Kami turut sedih dengan permasalahan yang bapak alami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. 

Memang apapun pilihan kedua orang tua dalam menjalani hidup berkeluarga, pasti berdampak kepada anak, baik dampak yang membahagiakan maupun menyakitkan. Tentu yang terbaik bagi anak, adalah kedua orang tua tetap rujuk dan mampu bersama-sama mengasuh serta membesarkannya sebagai keluarga yang utuh dan harmonis. Namun, tentu bukan berarti orang tua sebagai manusia biasa, harus memaksakan diri bila keadaan memang sudah sulit untuk dihadapi oleh kedua belah pihak karena hanya akan menimbulkan kehambaran (hasil dari kepura-puraan), yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi anak juga, apalagi bila kehambaran tersebut dipenuhi dengan dinginnya hubungan emosional antar orang tua.

Seperti pepatah mengatakan, &quot;Tidak ada gading yang tak retak.&quot; demikian pula dengan sesempurnanya seseorang, tetap ada kelemahan yang menjadi resiko tidak cocok dengan orang lain.  Hanya bapak dan istri bapak yang paham, apakah keutuhan rumah tangga memang sudah tidak memungkinkan untuk diatasi ataukah masih ada jalan yang dapat diupayakan untuk memperbaiki keadaan.

Konon, menurut petuah bijak dari beberapa sesepuh yang pernah kami temui, rata-rata mengatakan bahwa pertengkaran/ perbedaan antar suami istri justru adalah bumbu penyedap dalam setiap perkawinan. Dua individu yang berbeda dengan satu visi misi yang sama, tentu membutuhkan penyesuaian terus menerus antar satu dengan yang lain untuk mencapai kesepakatan yang sama-sama menyenangkan kedua belah pihak. Dengan adanya pertengkaran, maka akan ada upaya untuk rujuk melalui komunikasi dari hati ke hati. Dan hasilnya, konon, membuat hubungan menjadi lebih mesra. Tentu, asal konfliknya tidak dengan menggunakan lempar piring, gelas pecah, maupun kekerasan fisik/ verbal yang berlebihan. Bila konfliknya sampai seperti ini, hanya akan membuat anak menjadi trauma, dan ujung-ujungnya dapat menjadi agresif juga kelak.

Dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh kedua orang tualah termasuk cara orang tua menyelesaikan konflik dalam rumah tangga, anak belajar tentang arti sebuah &quot;relationship&quot;, di mana anak mampu belajar bahwa dalam setiap menjalin hubungan dengan orang lain, &quot;konflik&quot; akan selalu ada dan &quot;komunikasi dari hati ke hati&quot; selalu adalah cara terbaik untuk membuat konflik menjadi bumbu penyedap yang nikmat. Hal ini berlaku dalam semua jenis &quot;relationship&quot;, mulai dari yang paling sederhana, yaitu hubungan antar anak dengan orang tua, anak dengan saudara, anak dengan teman, hingga kelak, anak dengan pasangan intim yang dipilihnya ketika waktunya sudah tiba,  


Secara prinsip, semua penyelesaian masalah dalam kasus apapun, hanya terbagi dalam dua kategori saja, yaitu &quot;menghadapi masalah&quot; dan &quot;melarikan diri dari masalah&quot;. Sedangkan keputusan untuk berpisah, menyalahkan, berkomunikasi, dan sebagainya, itu hanyalah variasi teknis dari kedua kategori tersebut.

Yang mana, yang dipelajari anak sejak dini (umumnya dari kedua orang tuanya), maka, kemungkinan besar, itu yang melekat dalam ingatan anak untuk pemecahan masalah kelak.

Apapun itu, kami yakin, anda berdua sebagai orang tua, tetap adalah orang tua bagi anak. Ada mantan istri maupun mantan suami, namun, tidak pernah ada mantan ayah, mantan ibu, apalagi mantan anak. Bila perpisahan tidak lagi terelakkan, karena alasan-alasan prinsipiil yang tidak mungkin diatasi, maka meyakinkan dan mengkomitmenkan kepada anak, bahwa dia tidak kehilangan figur orang tua, adalah langkah yang tepat untuk meminimalkan dampak psikis anak. 

Langkah pertama yang dapat kami anjurkan untuk diupayakan oleh kedua orang tua bila harus berpisah adalah Perpisahan baik-baik, dengan kesepakatan yang dewasa antar orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua berpisah saja, sudah menyakitkan anak, apalagi bila perpisahannya dengan penuh konflik, rebutan harta gono gini, hingga rebutan anak. 

Kemudian, langkah kedua yang kami anjurkan adalah komitmen orang tua untuk saling bekerja sama, bergantian mengasuh anak secara berkala, serta mendukung anak dalam proses pendidikan, walaupun bukan lagi sebagai suami-istri dan walaupun kelak, masing-masing kedua orang tua sama-sama menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing.

Langkah ketiga adalah tetap menjadi figur panutan bagi anak. Kebanyakan anak dari rumah tangga broken home, mengalami pergolakan yang luar biasa, karena dia tidak menemukan panutan yang mampu dijadikan sandaran. Hal ini bisa diperparah bila masing-masing orang tua menikah lagi dengan orang yang tidak mendukung kebutuhan emosional anak secara sehat, seperti yang ditunjukkan oleh film &quot;Ratapan Anak Tiri&quot;.

Langkah berikutnya yang tak kalah pentingnya, adalah mengajak anggota keluarga yang lain, untuk mendukung anda berdua dan mendukung anak, dengan semampu mungkin, tidak mengungkit-ungkit status perceraian anda kepada anak, agar anak tidak minder, tidak marah, dan tidak benci kepada orang tua, kepada lingkungan sosial, dan terutama, kepada dirinya sendiri.


Dukungan sosial terhadap anak, akan membantu anak dalam beradaptasi terhadap perubahan status sosialnya. Dan, tentu pada akhirnya, anak tetap mampu belajar menjadi pribadi yang optimis dan percaya diri terhadap nilai-nilai luhur sebuah &quot;relationship&quot;.


Demikian saran dan masukan kami.

Semoga bermanfaat bagi permasalahan keluarga bapak dan keluarga.


Salam sejahtera,


Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth Pak JS</p>
<p>Kami turut sedih dengan permasalahan yang bapak alami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. </p>
<p>Memang apapun pilihan kedua orang tua dalam menjalani hidup berkeluarga, pasti berdampak kepada anak, baik dampak yang membahagiakan maupun menyakitkan. Tentu yang terbaik bagi anak, adalah kedua orang tua tetap rujuk dan mampu bersama-sama mengasuh serta membesarkannya sebagai keluarga yang utuh dan harmonis. Namun, tentu bukan berarti orang tua sebagai manusia biasa, harus memaksakan diri bila keadaan memang sudah sulit untuk dihadapi oleh kedua belah pihak karena hanya akan menimbulkan kehambaran (hasil dari kepura-puraan), yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi anak juga, apalagi bila kehambaran tersebut dipenuhi dengan dinginnya hubungan emosional antar orang tua.</p>
<p>Seperti pepatah mengatakan, &#8220;Tidak ada gading yang tak retak.&#8221; demikian pula dengan sesempurnanya seseorang, tetap ada kelemahan yang menjadi resiko tidak cocok dengan orang lain.  Hanya bapak dan istri bapak yang paham, apakah keutuhan rumah tangga memang sudah tidak memungkinkan untuk diatasi ataukah masih ada jalan yang dapat diupayakan untuk memperbaiki keadaan.</p>
<p>Konon, menurut petuah bijak dari beberapa sesepuh yang pernah kami temui, rata-rata mengatakan bahwa pertengkaran/ perbedaan antar suami istri justru adalah bumbu penyedap dalam setiap perkawinan. Dua individu yang berbeda dengan satu visi misi yang sama, tentu membutuhkan penyesuaian terus menerus antar satu dengan yang lain untuk mencapai kesepakatan yang sama-sama menyenangkan kedua belah pihak. Dengan adanya pertengkaran, maka akan ada upaya untuk rujuk melalui komunikasi dari hati ke hati. Dan hasilnya, konon, membuat hubungan menjadi lebih mesra. Tentu, asal konfliknya tidak dengan menggunakan lempar piring, gelas pecah, maupun kekerasan fisik/ verbal yang berlebihan. Bila konfliknya sampai seperti ini, hanya akan membuat anak menjadi trauma, dan ujung-ujungnya dapat menjadi agresif juga kelak.</p>
<p>Dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh kedua orang tualah termasuk cara orang tua menyelesaikan konflik dalam rumah tangga, anak belajar tentang arti sebuah &#8220;relationship&#8221;, di mana anak mampu belajar bahwa dalam setiap menjalin hubungan dengan orang lain, &#8220;konflik&#8221; akan selalu ada dan &#8220;komunikasi dari hati ke hati&#8221; selalu adalah cara terbaik untuk membuat konflik menjadi bumbu penyedap yang nikmat. Hal ini berlaku dalam semua jenis &#8220;relationship&#8221;, mulai dari yang paling sederhana, yaitu hubungan antar anak dengan orang tua, anak dengan saudara, anak dengan teman, hingga kelak, anak dengan pasangan intim yang dipilihnya ketika waktunya sudah tiba,  </p>
<p>Secara prinsip, semua penyelesaian masalah dalam kasus apapun, hanya terbagi dalam dua kategori saja, yaitu &#8220;menghadapi masalah&#8221; dan &#8220;melarikan diri dari masalah&#8221;. Sedangkan keputusan untuk berpisah, menyalahkan, berkomunikasi, dan sebagainya, itu hanyalah variasi teknis dari kedua kategori tersebut.</p>
<p>Yang mana, yang dipelajari anak sejak dini (umumnya dari kedua orang tuanya), maka, kemungkinan besar, itu yang melekat dalam ingatan anak untuk pemecahan masalah kelak.</p>
<p>Apapun itu, kami yakin, anda berdua sebagai orang tua, tetap adalah orang tua bagi anak. Ada mantan istri maupun mantan suami, namun, tidak pernah ada mantan ayah, mantan ibu, apalagi mantan anak. Bila perpisahan tidak lagi terelakkan, karena alasan-alasan prinsipiil yang tidak mungkin diatasi, maka meyakinkan dan mengkomitmenkan kepada anak, bahwa dia tidak kehilangan figur orang tua, adalah langkah yang tepat untuk meminimalkan dampak psikis anak. </p>
<p>Langkah pertama yang dapat kami anjurkan untuk diupayakan oleh kedua orang tua bila harus berpisah adalah Perpisahan baik-baik, dengan kesepakatan yang dewasa antar orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua berpisah saja, sudah menyakitkan anak, apalagi bila perpisahannya dengan penuh konflik, rebutan harta gono gini, hingga rebutan anak. </p>
<p>Kemudian, langkah kedua yang kami anjurkan adalah komitmen orang tua untuk saling bekerja sama, bergantian mengasuh anak secara berkala, serta mendukung anak dalam proses pendidikan, walaupun bukan lagi sebagai suami-istri dan walaupun kelak, masing-masing kedua orang tua sama-sama menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing.</p>
<p>Langkah ketiga adalah tetap menjadi figur panutan bagi anak. Kebanyakan anak dari rumah tangga broken home, mengalami pergolakan yang luar biasa, karena dia tidak menemukan panutan yang mampu dijadikan sandaran. Hal ini bisa diperparah bila masing-masing orang tua menikah lagi dengan orang yang tidak mendukung kebutuhan emosional anak secara sehat, seperti yang ditunjukkan oleh film &#8220;Ratapan Anak Tiri&#8221;.</p>
<p>Langkah berikutnya yang tak kalah pentingnya, adalah mengajak anggota keluarga yang lain, untuk mendukung anda berdua dan mendukung anak, dengan semampu mungkin, tidak mengungkit-ungkit status perceraian anda kepada anak, agar anak tidak minder, tidak marah, dan tidak benci kepada orang tua, kepada lingkungan sosial, dan terutama, kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Dukungan sosial terhadap anak, akan membantu anak dalam beradaptasi terhadap perubahan status sosialnya. Dan, tentu pada akhirnya, anak tetap mampu belajar menjadi pribadi yang optimis dan percaya diri terhadap nilai-nilai luhur sebuah &#8220;relationship&#8221;.</p>
<p>Demikian saran dan masukan kami.</p>
<p>Semoga bermanfaat bagi permasalahan keluarga bapak dan keluarga.</p>
<p>Salam sejahtera,</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Permasalahan adik ipar by suwito</title>
		<link>http://www.psikoanak.com/permasalahan-adik-ipar/#comment-20</link>
		<dc:creator>suwito</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 07:58:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.psikoanak.com/?p=213#comment-20</guid>
		<description>Yth, Ibu EK. 

Kami dapat memahami kondisi yang ibu alami. Memang dalam hal ini, posisi ibu dalam keluarga besar suami, cukup lemah untuk turut campur secara langsung, meskipun sebenarnya maksud ibu baik adanya. Salah-salah, bukan tidak mungkin, maksud baik ibu malah menjadi bumerang bila ibu dianggap terlalu mencampuri urusan mertua. 

Namun, kami percaya, bahwa dengan strategi tertentu dan kesabaran yang tinggi, maka niat baik ibu terhadap perkembangan mental adik ipar, akan mendapat apresiasi dari mertua, adik ipar, bahkan suami ibu.

Satu hal yang mungkin perlu ibu usahakan untuk membuat keluarga besar suami ibu paham, bahwa ibu bukanlah pengganti mertua dalam mengasuh adik ipar, melainkan, pendukung yang positif dan tulus untuk mengarahkan adik ipar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu. 

Untuk itu, berikut ini beberapa tips yang coba kami ajukan:

1. Ibu menjadi menantu panutan bagi mertua, terutama mertua laki

a. Panutan dalam hal ini berarti, ada kedekatan emosional yang cukup erat antara ibu sebagai menantu, dengan mertua, yang terjalin dari usaha pendekatan ibu untuk sabar dan berusaha memahami karakter mertua dan kemudian, memahami sela-sela yang memungkinkan untuk meluluhkan hati mertua ibu.

b. Hal ini sangat berguna sebagai pondasi dasar dalam membentuk hubungan emosi yang erat antara diri ibu sebagai orang luar dengan keluarga suami ibu, termasuk suami ibu sendiri. Bila ibu disayang orang tua suami, kami yakin, otomatis, juga menambah rasa sayang suami kepada ibu sebagai istrinya.

c. Dengan menjalin hubungan yang erat dalam keluarga besar, maka, nama dan suara ibu akan menjadi lebih mudah didengarkan dan diperhatikan dengan lebih seksama sebagai bagian dari keluarga sendiri.

d. Figure mertua laki mungkin perlu pendekatan yang lebih sabar dan step by step, karena cenderung memiliki paradigma konvensial bahwa pendidikan anak, sepenuhnya diserahkan istri. Untuk itu, menaklukkan mertua laki ibu, bisa jadi, juga merupakan proses pembelajaran bagi ibu untuk menghadapi suami ibu kelak, ketika menghadapi masalah yang sama dengan mertua ibu.

e. Oleh sebab itu, langkah yang termudah bagi ibu untuk memahami karakter mertua laki adalah mencoba memperhatikan kemiripan karakter antara suami ibu dengan mertua laki dan kemudian memahami sela-sela yang dapat digunakan, sejauh batasan yang dapat dilakukan sebagai menantu.

f. Tentu, dengan tetap mengajak dan melekatkan hubungan emosi dengan mertua perempuan dalam menjalankan strategi di atas.

g. Sambil jalan, maka ibu juga dapat meneruskan usaha pendekatan ibu kepada adik ipar, dengan cara berikut ini:

2. Ibu menjadi teman sekaligus panutan bagi adik ipar

a. Menjadi figure teman adalah pendekatan yang efektif bagi kebanyakan hubungan. Jangankan anak kecil, bahkan orang dewasa sekalipun akan cenderung nyaman diperlakukan sebagai teman yang sejajar derajatnya, daripada sebagai orang yang lebih rendah posisinya (kecuali dalam konteks pekerjaan atau jabatan social). Dengan menjadi teman, maka seseorang akan mudah bersandar, berdiskusi, dan berbagi cerita dengan lebih bebas tanpa perlu takut dihukum ataupun dihakimi.

b. Untuk itu, mungkin sekali, adik ipar masih tertutup kepada ibu karena konteks hubungan masih seperti atasan-bawahan, yang membuat adik ipar enggan untuk berbagi dikarenakan hal-hal yang dapat membuatnya terhukum atau terhakimi.

c. Maka, ibu dapat meyakinkan adik ipar dan memperlakukannya seperti adik sendiri, dengan cara sering mengajaknya bermain dan bersama-sama suami ibu, mengajaknya sekali waktu keluar bareng. 

d. Hal ini bila dilakukan secara konsisten perlahan-lahan akan menumbuhkan kepercayaan adik ipar kepada ibu dan suami ibu. Namun, tetap ibu dan suami harus mampu membatasi agar adik ipar tidak menggantikan sosok orang tuanya kepada ibu dan suami (yang notabene kakaknya), melainkan tetap sebagai kakak yang mengayomi dan menjaga adik. Sekaligus juga, meyakinkan mertua bahwa ibu dan suami tidak sedang berusaha menggantikan peran beliau dalam mengasuh adik ipar.

e. Sediakan waktu, energy, kesabaran, dan perhatian kepada adik ipar dalam proporsi yang sesuai. Seberapa tepatnya proporsi yang sesuai untuk melakukan peran ibu sebagai kakak ipar secara efektif, hanya ibu yang dapat mengukur kadarnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ibu beserta suami. Karena bagaimanapun juga ibu memiliki keluarga sendiri dan mungkin, akan segera menyambut si kecil dalam waktu dekat.

3. Langkah ke-2 akan menjadi jauh lebih mudah dilakukan, bila langkah-1, sudah terbentuk dengan baik, karena berarti tugas pengasuhan adik ipar, tidak lagi menjadi beban ibu beserta suami semata, melainkan, menjadi beban kepedulian bersama-sama, dengan mertua ibu sebagai pusat kekuatan dan ibu sebagai motivator yang terefektif bagi semua pihak.

Langkah 1 dan langkah 2, sangat mungkin sekali, tidak semudah seperti membalikkan tangan. Oleh sebab itu, kesabaran dan kepedulian yang tinggi, merupakan pondasi dasar untuk bertahan dalam menghadapi lika-liku yang ibu hadapi dalam menjalankan maksud baik ibu ini. 

Namun, tentu bila ibu mampu bertahan dan ternyata mampu menjadi motivator panutan bagi keluarga suami, bukan tidak mungkin, ke depannya, keluarga ibu akan menjadi keluarga panutan pula, di tengah masyarakat.

Dari hal-hal kecil, kita mampu menghadapi masalah besar dengan lebih terarah.


Semoga tips-tips kami bermanfaat bagi ibu.

Selamat berjuang dan selamat belajar menjadi motivator keluarga, bu ^_^

Hormat kami


Tim Psikologi Anak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth, Ibu EK. </p>
<p>Kami dapat memahami kondisi yang ibu alami. Memang dalam hal ini, posisi ibu dalam keluarga besar suami, cukup lemah untuk turut campur secara langsung, meskipun sebenarnya maksud ibu baik adanya. Salah-salah, bukan tidak mungkin, maksud baik ibu malah menjadi bumerang bila ibu dianggap terlalu mencampuri urusan mertua. </p>
<p>Namun, kami percaya, bahwa dengan strategi tertentu dan kesabaran yang tinggi, maka niat baik ibu terhadap perkembangan mental adik ipar, akan mendapat apresiasi dari mertua, adik ipar, bahkan suami ibu.</p>
<p>Satu hal yang mungkin perlu ibu usahakan untuk membuat keluarga besar suami ibu paham, bahwa ibu bukanlah pengganti mertua dalam mengasuh adik ipar, melainkan, pendukung yang positif dan tulus untuk mengarahkan adik ipar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu. </p>
<p>Untuk itu, berikut ini beberapa tips yang coba kami ajukan:</p>
<p>1. Ibu menjadi menantu panutan bagi mertua, terutama mertua laki</p>
<p>a. Panutan dalam hal ini berarti, ada kedekatan emosional yang cukup erat antara ibu sebagai menantu, dengan mertua, yang terjalin dari usaha pendekatan ibu untuk sabar dan berusaha memahami karakter mertua dan kemudian, memahami sela-sela yang memungkinkan untuk meluluhkan hati mertua ibu.</p>
<p>b. Hal ini sangat berguna sebagai pondasi dasar dalam membentuk hubungan emosi yang erat antara diri ibu sebagai orang luar dengan keluarga suami ibu, termasuk suami ibu sendiri. Bila ibu disayang orang tua suami, kami yakin, otomatis, juga menambah rasa sayang suami kepada ibu sebagai istrinya.</p>
<p>c. Dengan menjalin hubungan yang erat dalam keluarga besar, maka, nama dan suara ibu akan menjadi lebih mudah didengarkan dan diperhatikan dengan lebih seksama sebagai bagian dari keluarga sendiri.</p>
<p>d. Figure mertua laki mungkin perlu pendekatan yang lebih sabar dan step by step, karena cenderung memiliki paradigma konvensial bahwa pendidikan anak, sepenuhnya diserahkan istri. Untuk itu, menaklukkan mertua laki ibu, bisa jadi, juga merupakan proses pembelajaran bagi ibu untuk menghadapi suami ibu kelak, ketika menghadapi masalah yang sama dengan mertua ibu.</p>
<p>e. Oleh sebab itu, langkah yang termudah bagi ibu untuk memahami karakter mertua laki adalah mencoba memperhatikan kemiripan karakter antara suami ibu dengan mertua laki dan kemudian memahami sela-sela yang dapat digunakan, sejauh batasan yang dapat dilakukan sebagai menantu.</p>
<p>f. Tentu, dengan tetap mengajak dan melekatkan hubungan emosi dengan mertua perempuan dalam menjalankan strategi di atas.</p>
<p>g. Sambil jalan, maka ibu juga dapat meneruskan usaha pendekatan ibu kepada adik ipar, dengan cara berikut ini:</p>
<p>2. Ibu menjadi teman sekaligus panutan bagi adik ipar</p>
<p>a. Menjadi figure teman adalah pendekatan yang efektif bagi kebanyakan hubungan. Jangankan anak kecil, bahkan orang dewasa sekalipun akan cenderung nyaman diperlakukan sebagai teman yang sejajar derajatnya, daripada sebagai orang yang lebih rendah posisinya (kecuali dalam konteks pekerjaan atau jabatan social). Dengan menjadi teman, maka seseorang akan mudah bersandar, berdiskusi, dan berbagi cerita dengan lebih bebas tanpa perlu takut dihukum ataupun dihakimi.</p>
<p>b. Untuk itu, mungkin sekali, adik ipar masih tertutup kepada ibu karena konteks hubungan masih seperti atasan-bawahan, yang membuat adik ipar enggan untuk berbagi dikarenakan hal-hal yang dapat membuatnya terhukum atau terhakimi.</p>
<p>c. Maka, ibu dapat meyakinkan adik ipar dan memperlakukannya seperti adik sendiri, dengan cara sering mengajaknya bermain dan bersama-sama suami ibu, mengajaknya sekali waktu keluar bareng. </p>
<p>d. Hal ini bila dilakukan secara konsisten perlahan-lahan akan menumbuhkan kepercayaan adik ipar kepada ibu dan suami ibu. Namun, tetap ibu dan suami harus mampu membatasi agar adik ipar tidak menggantikan sosok orang tuanya kepada ibu dan suami (yang notabene kakaknya), melainkan tetap sebagai kakak yang mengayomi dan menjaga adik. Sekaligus juga, meyakinkan mertua bahwa ibu dan suami tidak sedang berusaha menggantikan peran beliau dalam mengasuh adik ipar.</p>
<p>e. Sediakan waktu, energy, kesabaran, dan perhatian kepada adik ipar dalam proporsi yang sesuai. Seberapa tepatnya proporsi yang sesuai untuk melakukan peran ibu sebagai kakak ipar secara efektif, hanya ibu yang dapat mengukur kadarnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ibu beserta suami. Karena bagaimanapun juga ibu memiliki keluarga sendiri dan mungkin, akan segera menyambut si kecil dalam waktu dekat.</p>
<p>3. Langkah ke-2 akan menjadi jauh lebih mudah dilakukan, bila langkah-1, sudah terbentuk dengan baik, karena berarti tugas pengasuhan adik ipar, tidak lagi menjadi beban ibu beserta suami semata, melainkan, menjadi beban kepedulian bersama-sama, dengan mertua ibu sebagai pusat kekuatan dan ibu sebagai motivator yang terefektif bagi semua pihak.</p>
<p>Langkah 1 dan langkah 2, sangat mungkin sekali, tidak semudah seperti membalikkan tangan. Oleh sebab itu, kesabaran dan kepedulian yang tinggi, merupakan pondasi dasar untuk bertahan dalam menghadapi lika-liku yang ibu hadapi dalam menjalankan maksud baik ibu ini. </p>
<p>Namun, tentu bila ibu mampu bertahan dan ternyata mampu menjadi motivator panutan bagi keluarga suami, bukan tidak mungkin, ke depannya, keluarga ibu akan menjadi keluarga panutan pula, di tengah masyarakat.</p>
<p>Dari hal-hal kecil, kita mampu menghadapi masalah besar dengan lebih terarah.</p>
<p>Semoga tips-tips kami bermanfaat bagi ibu.</p>
<p>Selamat berjuang dan selamat belajar menjadi motivator keluarga, bu ^_^</p>
<p>Hormat kami</p>
<p>Tim Psikologi Anak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

