Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku seksual Anak Angkat
Bpk. Hh wrote:
Salah seorang anak perempuan saya tidak dikaruniai anak setelah menikah 10 tahun. Ia mengambil anak angkat umur 7 tahun dari sebuah rumah bersalin (rsb). Sebut saja namanya M. Menurut keterangan kepala rsb yang menyerahkan anak tsb, M ditinggal pergi oleh ibunya sejak dilahirkan. M tinggal bersama kepala rsb, tetapi sehari-hari ia berada di rumah sakit. Ibaratnya rumah sakit (rsb tsb) telah menjadi rumahnya. Ia bergaul dengan pasien, para medis, karyawan rsb, satpam dsb.
M tsb kemudian dimasukkan sekolah di Sd. Kami sekeluarga telah menyayanginya sama dengan anak cucu kami yang lain. Tetapi masalahnya ia beberapa kali mengucapkan kata-kata yang seharusnya bukan kosakata yang diucapkan oleh anak-anak.
Suatu hari ia membuat kegemparan ketika cucu saya yang lain yang lebih muda darinya I (5th) mengucapkan kata (maaf) kontol. Kami semua terperanjat, dari mana ia mendengar kata-kata jorok itu. Ternyata dari M. Semula kami hanya bisa memarahi M dan I karena menduga mereka hanya mendengar kata-kata itu dari orang dewasa yang ada di lingkungan tempat tinggal kami.
Tapi kemaren kami sekeluarga dikejutkan oleh peristiwa yang lebih dramatis dan nyaris membuat kami shock.
Seorang anggota keluarga menemukan M dan I sedang main rumah-rumahan, keduanya ditemukan dalam keadaan bugil dan bertindihan. I di atas M di bawah, seperti posisi orang bersanggama. Semua anggota keluarga kami kaget, panik, bingung dan tak tahu apa yang akan dilakukan. Lebih nervous lagi ketika I ditanya oleh papa dan mamanya : Mengapa kamu melakukan yang seperti itu dengan kak M? Di luar dugaan I menjawab; Kak M yang ngajak, katanya, ayuk kita ngentot yuk. Lalu kata kak M, I juga harus telanjang, ma.
Kedua orang tuanya terperangah. Kami segera mengadakan rapat keluarga terbatas. Ada usul mengembalikan M ke rsb tempat ia diambil. Tetapi tidak ada yang setuju karena anak kami yang memungutnya dan suaminya (ayah angkat M) telah terlanjur sangat menyayangi M.
KAMI JUGA BEGITU. Tapi kami tidak tahu apa yang dapat kami lakukan.
Pertanyaan saya sbb :
1. Masih bisakah M diperbaiki kondisi kejiwaannya (yang menurut kami) telah terlanjur rusak ?
2. Apa tindakan preventif yang dapat kami lakukan ?
3. Dimanakah kami bisa mendapatkan jasa psikolog anak terdekat untuk berkonsulotasi intensif menanggulangi masalah ini (kami sekeluarga tinggal di Pekanbaru Riau.
Atas bantuan bantuan Bapak/Ibu/Sdr terlebih dulu kami aturkan terma kasih. Wassalam


Yth, Bpk Hh
Kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa cucu ibu. Kami berharap semoga cucu-cucu kesayangan ibu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik secara fisik dan mentalnya.
Persoalan yang dihadapi oleh cucu bpk yang bernama M, adalah tanggung jawab kita semua untuk bisa mengarahkan, membimbing dan menyayanginya agar ia paham akan segala resiko atas perilakunya. Kami sangat menghormati dengan keputusan orang tua angkat M, untuk terus mengasuh M, meskipun M telah berbuat kesalahan yang fatal dalam anggota keluarga. Hal ini menunjukkan, bahwa orang tua angkat M, sangat menyayangi dan menginginkan agar M bisa berubah menjadi anak yang lebih baik.
Memang betul, apa yang menjadi kesimpulan sementara ini, bahwa mengingat latar belakang M yang selama 7 tahun hidup di RS dan bebas bergaul dengan siapa saja dan akhirnya membentuk kepribadian M yang bebas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebenarnya dalam dirinya sendiri, M sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang seutuhnya. Masa-masa dimana ia membutuhkan dekapan kasih sayang dari ibu atau orang tuanya, M tidak pernah mendapatkannya. Ia tumbuh dengan sendirinya, mencari rasa aman dari lingkungannya agar ia bisa diterima. Sehingga segala informasi yang diterimanya, ia cobakan, tanpa tahu akibatnya dan juga tidak ada orang yang konsisten untuk membimbing dan mengarahkannya. Bisa saja apa yang M lakukan hanyalah meniru perilaku orang dewasa saja, ia tidak tahu arti dan tujuannya, ia melakukannya hanya sekedar supaya bisa diterima dan menyenangkan bagi lingkungannya.
Sekarang, semua sudah terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membuat M kembali menjadi baik sesuai dengan usia perkembangannya. Kunci utama adalah cinta dan kasih sayang dari orang tua, keluarga dan orang-orang disekitarnya untuk menyayangi, membimbing dan memberikan rasa aman dan nyaman tinggal bersama dengan sebuah keluarga yang selama 7 tahun belum pernah ia dapatkain. Sungguh, untuk melakukan semua ini membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua dan keluarga. Yang terpenting sebagai langkah awal adalah dimilikinya hati yang tulus, penuh dengan cinta-kasih dan kesediaan untuk membimbing M tanpa ada rasa putus asa. Karena dengan limpahan kasih sayang yang diberikan pada M akan membuatkan merasa nyaman baik secara emosional maupun fisik akan keberadaannya di tengah-tengah keluarga barunya.
Berikut ada beberapa alternative tindakan yang bisa dilakukan orang tua bersama dengan M, yaitu :
1. Bangunlah rasa aman dan percaya pada diri anak ketika bersama dengan keluarga, pendekatan yang dilakukan adalah dengan menyediakan waktu luang yang lebih banyak dan aktif melibatkan diri dengan kegiatan M. Ketika orang tua ada untuk M, hendaknya secara aktif berkomunikasi dengan M agar ia terbiasa untuk berbicara dan mengungkapkan isi hatinya.
2. Sertakanlah M dalam kegiatan bermanfaat dan positif, misalnya les musik, seni tari, olah raga atau aktivitas apa saja, sehingga waktu luangnya terisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Awalnya memang orang tua yang mengarahkan, untuk mencari kegiatan apa yang ia senang dan mampu melakukannya. Setelah itu, biarkanlah ia memilih kegiatan apa yang ia sukai. Dengan memberikan kebebasan M untuk memilih dan memutuskan keinginannya dengan konsekuensi ia harus mengikuti dan menyelesaikannya sampai selesai (tidak setengah-setengah). Dengan begitu ia akan belajar untuk bertanggung-jawab atas pilihannya.
3. Sering-seringlah mengajak anak berdiskusi sehingga jika anak mengalami masalah atau kebosanan dengan aktivitasnya saat ini, kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh anak.
4. Berikanlah pendidan seks secara tepat agar anak tidak salah ketika mendapatkan informasi dan menjadi tahu mengenai seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan.
5. Biasakanlah kegiatan-kegiatan sehari-hari yang ada kaitannya dengan seksualitas hendaknya anak dibiasakan untuk menjaga kesopanannya. Sebagai contoh : 1. Orang tua dapat pula mengajari anak untuk membersihkan alat kelaminnya sendiri. Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya. 2. Ketika anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orang tua bisa mencegahnya. Ajarkan anak untuk membuka celana di dalam kamar mandi kalau mau pipis.
6. Berbarengan dengan hal tersebut, anak juga diajari dengan kesopanan dan norma- norma yang ada. Sebagai contoh, orang tua meminta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Bisa juga langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, kelak saat beranjak dewasa, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.
7. Melalui pembelajaran pendidikan seks sedini mungkin diharapkan ada konsep diri positif. Dengan begitu anak berupaya menjaga dan menghargai diri dan lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai nama ilmiahnya. “Sebutkan saja bahasa latinnya vagina untuk alat kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki. Jika anak-anak sudah mulai dikenalkan sejak kecil saat beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan.
8. Melibatkan dalam aktivitas keluarga, misalnya rutin mengunjungi keluarga agar anak lebih luas mengenal keluarga barunya, sehingga tetanam pada dirinya akan kebersamaan di dalam keluarga yang bisa membuatnya nyaman dan menyenangkan bersama dengan keluarga.
9. Dukungan dari keluarga besar sangatlah membantu dalam membimbing dan mengarahkan M pada hal-hal positif, penghargaan akan keberadaan dirinya bisa membuatnya lebih percaya diri untuk menampilkan hal-hal positif yang ada pada dirinya.
10. Berikanlah perhatian dan pengawasan ekstra dalam aktivitasnya. Selain pengaruh lingkungan, pengaruh dari Media massa, teknologi dst juga bisa mempengaruhi perilaku anak. Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun. Selengkapnya bacalah artikel “Media Massa, teknologi dan perkembangan mental anak” di http://www.infoanak.com
11. Jika anak melakukan kesalahan atau melakukan perbuatan-perbuatan seperti sebelumnya, hendaknya tegurlah dengan kelembutan dan berikanlah pengertian akan dampak negatif dari perbutannya tersebut. Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.
12. Milikilah keyakinan bahwa M adalah anak yang baik, manis dan bisa berubah menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan sehingga bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Untuk informasi mengenai jasa Psikologi di Pekanbaru-Riau, bapak atau ibu bisa menanyakan pada Universitas yang ada Fakultas Psikologinya, biasanya pasti menyediakan untuk layanan Psikologi atau rumah sakit-rumah sakit besar yang menyediakan layanan Psikologi.
Demikianlah beberapa informasi dan alternatif tindakan yang bisa dilakukan orang tua dan keluarga. Besar harapan kami agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semuanya. Semoga M, bisa menemukan kemabali masa-masa kebahagiannya bersama dengan keluarga barunya yang penuh dengan cinta kasih dan sangat menyayanginya.
Salam dari kami : Tim Psikologi Anak.
22 December 2010 at 3:56 pm