Home » Kasus Unik, Seksualitas

Perilaku Seks pada Anak Balita

25 August 2010 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

Saya punya anak lelaki usia 6 tahun dan adiknya (perempuan) usia 1 tahun.

Ada 3 kejadian yang membuat saya takut dan khawatir dengan anak sulung saya.

Kejadian pertama : dengan pengasuhnya pernah kepergok menonton VCD porno pada saat kami kerja
Kejadian kedua : pernah memergoki kami sedang bercumbu
kejadian ketiga : pengasuhnya laporan ke saya kalo dia suka maksa adiknya utk menghisap kelaminnya.

Tolong bantu saya,
1. Apa anak sulung saya bisa disembuhkan ?
2. Bgm cara mengobatinya agar dia bisa hidup normal dan saya pun juga tenang bila meninggalkan mereka berdua ?
3. Bgm cara agar dia bisa melupakannya ?

Tolong bantu saya, terimakasih banyak atas perhatiannya.

Regards,
L (nama asli kami samarkan demi kerahasiaan klien)


One Comment »

  1. Dear bu L,

    Kami dapat memahami kecemasan ibu. Tentu orang tua normal manapun akan cemas menghadapi perkembangan anak yang kurang sesuai dengan nilai-nilai moral masyarakat, terutama di usia yang masih sangat dini.

    Kami harap saran-saran kami dapat bermanfaat untuk meringankan beban keluarga ibu.

    Hal yang sama pernah kami ulas di artikel Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak di http://www.infoanak.com

    Perkembangan anak di usia-usia sekitaran balita memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan, terutama perkembangan intelektualnya yang lebih bersifat menyerap apapun informasi yg diterima tanpa difilter, apalagi bila tanpa pemasukan nilai-nilai moral yg diharapkan dari pengasuh yang paling dekat secara emosional dengannya.

    Mengingat keterbatasan informasi (seperti misalnya: apakah pengasuh profesional, keluarga, atau tetangga, dll), kami upayakan saran kami sepraktis mungkin dengan menjawab pertanyaan ibu, berikut ini:

    1. Apa anak sulung saya bisa disembuhkan?

    Jawaban: Lebih tepatnya, bukan disembuhkan karena usia anak ibu masih terlalu dini untuk disebut telah berperilaku “Abnormal/ kegilaan.” Kami lebih nyaman menyebut perilaku anak ibu adalah “Perilaku Tiruan”.
    Karena tiruan, maka sangat mungkin sekali untuk dikendalikan (bukan dihapuskan sama sekali, karena perilaku tersebut sebenarnya wajar, bila waktunya sudah tiba kelak).
    Kenapa tiruan? karena kami asumsikan, tanpa adanya contoh dari orang dewasa, anak belum memiliki daya imajinasi sekompleks itu untuk dipraktekkan, teurutama imajinasi sekompleks seks oral.
    Dari informasi ibu, tiruan tersebut sangat mungkin sekali dimulai dari VCD porno yang ditayangkan pengasuh (bila demikian, bisa diasumsikan itu bukan hanya sekali saja) dan semakin diperkuat ketika melihat hubungan suami-istri orang tua.

    2. Bagaimana cara mengobatinya agar dia bisa hidup normal dan saya pun juga tenang bila meninggalkan mereka berdua?

    Jawaban: Dengan asumsi pengasuh adalah orang yang disewa dengan upah tertentu

    a. Mengganti pengasuh, bila pengasuhnya masih sama dengan yang kepergok dulu, karena pengasuh tersebut sudah tidak memiliki wibawa di hadapan anak, bukan tidak mungkin justru akan menimbulkan kebingungan dan kelak trauma bila pengasuh tersebut memaksakan dengan cara yang berlainan dari biasanya.
    > Mencari pengasuh memang susah susah gampang. Namun, tetap memungkinkan. Ibu dapat selalu mengecek ke anak ibu, bagaimana keseharian tadi dengan nada dan cara bicara yang sangat santai. Di usia yang masih sangat kecil, kemungkinan bohong akan lebih mudah dideteksi, bahkan bukan tidak mungkin, bila ibu menghadirkan sosok diri sebagai penyayang (dan bukan penghakim), maka anak akan mudah terbuka.
    > Menentukan pola asuh semacam apa yang ibu inginkan dari pengasuh yang disewa. Dengan begitu, ibu dapat menunjukkan bahwa ibu yang berkuasa dalam pengasuhan anak, dan pengasuh sebagai pelaksana harian.
    > Bila ibu mendapatkan laporan dari pengasuh, tentu langkah yang terbaik adalah crosschek dari anak (baik si sulung maupun si bungsu), dengan nada suara yang santai. Untuk itu, tentu baik ibu maupun suami ibu, harus menenangkan emosi terlebih dulu, baru bertindak. Bila sebaliknya, kemungkinan besar, si sulung akan menghindari jawaban yang benar, dan bukan tidak mungkin malah akan trauma bila dikerasi.
    > Tetap tenang walaupun si sulung membenarkan cerita pengasuh, dan kemudian ibu dapat memberikan masukan-masukan tetap dengan diusahakan lemah lembut, melalui dongeng ataupun cerita keluarga. Ibu dapat mengikuti alur seperti di artikel Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak di http://www.infoanak.com
    > Kemudian ibu menanyakan apa yang dilakukan oleh pengasuh sesudah mengetahui peristiwa itu. Ibu perlu crosschek dengan pengasuh, si sulung dan si bungsu, untuk dapat mengetahui indikator kekerasan atau justru pembiaran dari pengasuh.
    > Langkah terakhir terhadap pengasuh adalah menegaskan kepadanya bahwa ibu tidak menolerir segala bentuk kekerasan terhadap buah hati ibu tanpa seijin ibu, apapun alasannya, maupun melarang pengasuh untuk mengingatkan anak dengan perilaku tersebut (baik dengan mengolok-olok anak, maupun metode lain), karena hal itu justru akan memperkuat atau malah membuat anak jadi malu dan akhirnya trauma. Terakhir, pengasuh tetap wajib melaksanakan aturan main yang telah ibu tentukan dalam pengasuhan anak, termasuk penanaman nilai-nilai selama orang tua bekerja.

    b. Setia meluangkan waktu sepenuhnya sebagai orang tua bagi anak-anak. Artinya, minimal dalam waktu satu hari, luangkan waktu satu jam secara konsisten utuh untuk anak (keterlibatan ayah sangat penting untuk melekatkan figur pria dewasa yang sejati). Cukup satu jam saja/ hari. Perkecualian hari minggu, yang tentu dapat lebih bebas lagi.
    c. Memposisikan diri sesuai dengan kebutuhan situasi. Ada saatnya anak mendapatkan hukuman, bila melakukan perilaku yang ringan kadarnya (Misalnya memecahkan gelas, membanting-banting dst), namun, bila perilaku tersebut kadarnya berat seperti permasalahan anak ibu saat ini, maka pendekatan komunikatif adalah metode yang sangat berpengaruh positif bagi keluarga ibu.
    (Semuanya lebih baik tanpa kekerasan baik fisik maupun verbal, karena hanya akan memperkuat perilaku atau justru mentraumakan anak)
    d. Penanaman nilai dapat secara tidak langsung, melalui cerita fable maupun cerita langsung dengan menunjukkan foto-foto keluarga dan kelahiran anak
    e. Mengajarkan kepada anak sulung untuk menghargai dan melindungi adiknya yang masih kecil, seperti orang tua yang menghargai dan melindungi anak-anaknya. Untuk itu perilaku memaksa adik seperti itu, sama saja dengan tidak menghargai dan sebagainya.
    f. Membuat anak paham, bahwa figur otoritas yang patut dijadikan panutan dan dipercaya adalah orang tua, bukan pengasuh maupun orang lain, sehingga anak mampu memahami bahwa nilai-nilai yang ditanamkan ibu adalah yang terbenar.
    g. Intinya adalah komunikasi, komunikasi, komunikasi dan konsistensi, konsistensi, konsistensi. Plus, nada suara, intonasi, bahasa tubuh yang hangat, tegas, berwibawa, namun, tidak kasar/ menakutkan, atau justru, malah kalah wibawa dari pengasuh.
    h. Mengatur emosi terlebih dulu, sebelum menghadapi anak yang baru saja melakukan perilaku kurang tepat bagi keluarga. Memang sulit sekali, terutama bila kondisi fisik dan batin orang tua sedang lelah/ jenuh. Oleh sebab itu, orang tua lebih baik menenangkan diri terlebih dulu dengan cara menjauh atau cara lain yang memungkinkan tergantung situasi.

    3. Bagaimana cara agar dia bisa melupakannya?

    Jawaban: Sama seperti jawaban ke-2, kita mengatur lingkungan dan waktu anak sedemikian rupa secara konsisten sehingga anak mampu mengenali aktivitas baru yang lebih menyenangkan dan lebih aktif, terutama bila aktivitas baru ini dilakukan bersama-sama dengan figur otoritas yang dekat secara emosional.
    > Ibu dan suami-pun juga lebih baik lebih berhati-hati dalam melakukan hubungan suami istri maupun menyimpan file-file yang terkait.
    > sayangnya, kami belum jelas mengenai waktu kejadian si sulung memaksa adiknya tersebut. Apakah hanya pada saat tidak ada orang tua saja? Dan sudah berapa kali hal itu dilakukan? Dan seperti apa tindakan yang sudah pernah diambil?
    Namun, dengan mengasumsikan si sulung sudah terlanjur mengenal sampai jauh sehingga dia sudah memperlakukan hal tersebut pada adiknya lebih dari sekali, maka pendampingan kepada psikolog atau profesional anak terdekat selama jam kerja merupakan langkah yang efektif, selain juga ibu maupun suami dapat sambil jalan mulai mengatur waktu untuk meluangkan waktu bersama-sama setiap hari bersama anak di sela-sela kesibukan.

    Kami percaya bahwa perilaku anak ibu, sangat dapat terkendalikan dengan dukungan total dari lingkungan di sekitar, termasuk ibu dan suami ibu. Kuncinya adalah pengendalian emosi, komunikasi dengan bahasa tubuh yang diarahkan bersifat mendidik (bukan menekan/ menghukum), dan konsistensi perilaku. Maka permasalahan anak, lebih mudah untuk dicarikan solusi yang efektif sesuai kebutuhan keluarga.

    Semoga saran-saran kami dapat bermanfaat bagi keluarga ibu.

    Semoga sukses!

    Tim Psikologi Anak

Have your say!

You must be logged in to post a comment.