Perkembangan Emosi Sepupu yang Orang Tua Bercerai
salam hormat.!!
saya punya sepupu umur 10 tahun.orang tuanya sudah bercerai,dan sepupu saya tinggal sama saya, kedua orang tuanya tidak mau mengasuhnya/merawatnya. sepupu saya itu laki2.setiap kli dia marah,kecewa,kesel,nangis
tidak pernah diungkapkan secara lisan di depan saya tapi malah pergi ke kamar berdiam diri dan meluapkan kekesalannya dengan cara nangis,atau pun melampiaskan kemarahannya dengan memukul barang yg ada di
sampingnya,tapi ketika saya liat dia langsung berhenti,dan pura2 tidak terjadi apa2.jika di tanya dia tidak pernah menjawab.
saya takut sepupu saya tuh punya kelainan di jiwanya yg dapat menyebabkan tidak stabilnya jiwa/emosinya,…..
yg saya ingin tanyakn bagaimana caranya mendidik sepupu saya itu/bagaimana caranya menghadapi dia saat sedang marah……….
atas penjelasannya saya haturkan banyak terimakasih………
SM


Yth Bu SM,
Kami salut dengan kasih tulus ibu kepada sepupu ibu. Walaupun bukan saudara kandung sendiri, namun, ibu memberikan perhatian yang besar terhadap sepupu ibu sebagai pengganti dari orang tua.
Hal ini merupakan dasar yang kuat untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri sepupu ibu bahwa ternyata ia masih memiliki seseorang yang mencintai dan memperhatikannya.
Krisis kepercayaan diri (perasaan tertolak dari salah satu atau malah kedua orang tua) inilah yang biasanya menghinggapi anak-anak korban perceraian keluarga sehingga mereka membutuhkan waktu dan usaha yang besar untuk beradaptasi.
Memang bisa dimaklumi gejolak emosi sepupu ibu yang baru berumur 10 tahun saat ini. Di usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa orang tuanya berpisah dan tak ada satupun yang bersedia mengasuhnya. Hal ini tentu di luar kemampuan anak berusia 10 tahun untuk mampu menerima kenyataan menyakitkan semacam ini.
Namun, untuk memastikan kekuatiran ibu apakah dia mengalami kelainan jiwa, tentu prosesnya cukup panjang dan harus dengan pengamatan ahli kejiwaan secara terus menerus.
Hanya saja, selama sepupu ibu masih mampu memberikan respon sesuai pertanyaan, seperti misalkan, ditanya A, jawabannya juga A, maka, berarti kontaknya terhadap realita masih stabil.
Ketidak-mauannya untuk menjawab dan menceritakan perasaannya belum tentu diakibatkan kelainan jiwa, melainkan, sangat mungkin sekali karena perceraian dan penolakan kedua orang tua kandung membuatnya sulit mempercayai bahwa akan ada orang yang memperhatikan dirinya dan memahami perasaannya.
Sedangkan ia mengurung diri dan melampiaskan kekesalan dengan memukul barang adalah wujud katarsis (yaitu suatu upaya untuk menyalurkan emosi kepada sesuatu benda). Sebenarnya, tindakan katarsis, dalam terapi psikologi merupakan hal yang wajar dan bahkan dalam kasus-kasus tertentu, justru disarankan daripada dipendam yang malah akan membuat jiwa semakin tidak stabil dan kelak, ketika meledak, akan dilampiaskan kepada orang lain secara agresif destruktif.
Jadi, tindakan katarsis sepupu ibu, bisa jadi, sebenarnya merupakan upaya untuk menyalurkan emosi saja. Hanya saja, bila perilaku tersebut dilakukan hingga cenderung melukai diri sendiri atau berpotensi mengganggu/ melukai orang lain, maka perlu dikendalikan.
Untuk itu, agar perhatian dan kasih sayang ibu yang tulus, tidak disalah-artikan oleh sepupu ibu (karena dia masih kecil dan juga mungkin sekali, masih sedang tergoncang emosinya sehingga mungkin sekali masih belum mampu mencerna maksud baik orang lain dengan proporsional), maka berikut ini kami ajukan beberapa saran:
1. Kata kuncinya adalah “Sabar”. Yang dimaksud dengan kesabaran dalam kasus sepupu ibu adalah memahami gejolak emosinya yang (mungkin sekali) sedang tergoncang dan kemudian, setahap demi setahap mulai menjadi sahabat yang mampu menerimanya apa adanya.
2. Untuk itu, tantangan terbesar ibu, bisa jadi, adalah menjadi figur yang sangat digantungkan oleh sepupu ibu kelak. Menjadi figur yang digantungkan ada sisi keunggulan dan potensi kesulitannya.
Sisi keunggulannya adalah ibu memiliki kesempatan yang lebih besar dibandingkan orang lain untuk memberikan pengaruh kepadanya.
Namun, potensi kesulitannya adalah ibu mungkin sekali, akan menjadi figur yang paling nyaman baginya untuk menjadi sasaran emosi sekaligus kelekatan yang tinggi. Untuk itu, ketelatenan dan kesabaran ibu dalam membimbing sepupu ibu untuk tumbuh besar menjadi pria dewasa yang percaya diri dan mandiri, sangat dibutuhkan.
3. Langkah awal yang terbaik yang dapat kami sarankan adalah menjadi pendengar. Dari data yang ibu berikan, kami berasumsi bahwa sepupu ibu tidak tahu kepada siapa sebenarnya dia bisa mengungkapkan emosinya dan siapa orang yang akan memahami apa yang dia rasakan. Karena itu, dia membutuhkan seseorang yang dia yakin akan mampu mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi dia. Maka, Ibu bisa mengawali dengan kehadiran ibu dan menemaninya tanpa perlu memaksa dia mengatakan permasalahannya.
4. Sentuhan dan pelukan yang hangat merupakan salah satu sarana terbaik yang dibutuhkan untuk membuat seseorang merasa dekat dan diterima secara emosional. Hal ini berlaku untuk segala usia, terutama ketika di masa-masa kecil. Sepupu ibu yang masih kecil dan sedang tergoncang, tentu, membutuhkan penerimaan secara emosi yang dekat. Dan pelukan, sangat berpotensi mendukung upaya ibu untuk menjalin ikatan emosi secara kuat kepadanya.
5. Berikan kesempatan padanya untuk melampiaskan emosi di hadapan ibu tanpa dihakimi. Dan, setahap demi setahap, ibu mulai memberikan pengertian ketika emosinya sudah reda dengan nada yang lembut. Pemberian cerita-cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh besar yang masa lalunya juga kurang bahagia, juga dapat mendukung munculnya inspirasi di hati sepupu ibu bahwa dia adalah makhluk yang berharga, yang layak dicintai di mata Tuhan dan di mata ibu beserta keluarga ibu.
6. Dengan begitu, perlahan namun pasti, kepercayaan dirinya akan muncul dan ia akan menemukan sosok yang mencintainya dengan tulus dari ibu beserta keluarga ibu.
7. Menjadi keluarga panutan bagi sepupu ibu, terutama setelah orang tua kandung sudah terbilang “gagal” dalam menjalankan peran mereka. Dengan begitu, ibu dapat memberikan inspirasi baginya untuk tetap tumbuh menjadi anak yang berbakti, walaupun ditolak orang tua dan mampu memaafkan orang tua, terutama memaafkan diri sendiri.
8. Memperlakukan dia sebagai bagian dari keluarga sendiri sehingga dia tidak kehilangan perasaan sebagai anak dan sebagai saudara.
Demikian beberapa saran yang dapat kami ajukan berdasarkan data yang kami terima dari ibu.
Mungkin memang penerapannya tidak semudah yang dibayangkan dan membutuhkan kesabaran yang tinggi, namun, tidak ada satu manusia-pun yang tidak membutuhkan cinta dari sesamanya. Begitu pula dengan sepupu ibu tersebut.
Niscaya, kesabaran dan ketelatenan kita akan mendapatkan pahala yang indah, setidaknya, kita-pun mampu memahami arti kehidupan yang sesungguhnya dengan cinta yang tulus.
Semoga bermanfaat! ^_^
Tim Psikologi Anak
25 January 2011 at 1:35 pm