Home » Kebiasaan Anak, Kedewasaan dan Kemandirian Anak, Perkembangan Emosi, Psikologi Anak Usia Sekolah, Psikologi Kepribadian

Permasalahan adik ipar

25 November 2010 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

Bu EK wrote:

Dear krue konsultasi Psikologi anak

Saya menikah baru 7 bln, suami saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik pertamanya bernama E (berusia 23 thn) dan adik keduanya bernama I (berusia 10 thn). Adik pertama sdh bekerja dan adik kedua masih SD kelas 4. I adalah anak kesayangan mertua saya, apa yg dia minta hampir semuanya terpenuhi.

Beberapa hal yg kurang saya sukai dr adik ipar saya I adalah :

1. Dia malas belajar, sukanya bermain hingga larut malam. Dalam 1 minggu mungkin hanya 1 hari dia belajar itupun dipaksa
2. Dia suka berbohong
3. Dia berani mengambil uang orang lain
4. Pelupa
5. Suka ngambek
6. Suka membangkang
7. Boros
8. Susah dinasehati
9. Cuek
10. Masih suka ngompol saat tidur
11. Klo ketahuan salah hanya diam

Dalam hal ini ayah mertua saya menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada ibu mertua dan tdk mau ikut andil dlm mendidik. Sedangkan ibu kurang tegas dlm menghadapi adik. Saya selaku menantu agak sungkan klo terlalu ikut campur dalam masalah ini. Pernah kami coba ajak bicara baik2 adik I untuk mengetahui akar dr permasalahannya tapi dianya diam seribu bahasa. Mohon bantuan sarannya.

Terima kasih


One Comment »

  1. Yth, Ibu EK.

    Kami dapat memahami kondisi yang ibu alami. Memang dalam hal ini, posisi ibu dalam keluarga besar suami, cukup lemah untuk turut campur secara langsung, meskipun sebenarnya maksud ibu baik adanya. Salah-salah, bukan tidak mungkin, maksud baik ibu malah menjadi bumerang bila ibu dianggap terlalu mencampuri urusan mertua.

    Namun, kami percaya, bahwa dengan strategi tertentu dan kesabaran yang tinggi, maka niat baik ibu terhadap perkembangan mental adik ipar, akan mendapat apresiasi dari mertua, adik ipar, bahkan suami ibu.

    Satu hal yang mungkin perlu ibu usahakan untuk membuat keluarga besar suami ibu paham, bahwa ibu bukanlah pengganti mertua dalam mengasuh adik ipar, melainkan, pendukung yang positif dan tulus untuk mengarahkan adik ipar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu.

    Untuk itu, berikut ini beberapa tips yang coba kami ajukan:

    1. Ibu menjadi menantu panutan bagi mertua, terutama mertua laki

    a. Panutan dalam hal ini berarti, ada kedekatan emosional yang cukup erat antara ibu sebagai menantu, dengan mertua, yang terjalin dari usaha pendekatan ibu untuk sabar dan berusaha memahami karakter mertua dan kemudian, memahami sela-sela yang memungkinkan untuk meluluhkan hati mertua ibu.

    b. Hal ini sangat berguna sebagai pondasi dasar dalam membentuk hubungan emosi yang erat antara diri ibu sebagai orang luar dengan keluarga suami ibu, termasuk suami ibu sendiri. Bila ibu disayang orang tua suami, kami yakin, otomatis, juga menambah rasa sayang suami kepada ibu sebagai istrinya.

    c. Dengan menjalin hubungan yang erat dalam keluarga besar, maka, nama dan suara ibu akan menjadi lebih mudah didengarkan dan diperhatikan dengan lebih seksama sebagai bagian dari keluarga sendiri.

    d. Figure mertua laki mungkin perlu pendekatan yang lebih sabar dan step by step, karena cenderung memiliki paradigma konvensial bahwa pendidikan anak, sepenuhnya diserahkan istri. Untuk itu, menaklukkan mertua laki ibu, bisa jadi, juga merupakan proses pembelajaran bagi ibu untuk menghadapi suami ibu kelak, ketika menghadapi masalah yang sama dengan mertua ibu.

    e. Oleh sebab itu, langkah yang termudah bagi ibu untuk memahami karakter mertua laki adalah mencoba memperhatikan kemiripan karakter antara suami ibu dengan mertua laki dan kemudian memahami sela-sela yang dapat digunakan, sejauh batasan yang dapat dilakukan sebagai menantu.

    f. Tentu, dengan tetap mengajak dan melekatkan hubungan emosi dengan mertua perempuan dalam menjalankan strategi di atas.

    g. Sambil jalan, maka ibu juga dapat meneruskan usaha pendekatan ibu kepada adik ipar, dengan cara berikut ini:

    2. Ibu menjadi teman sekaligus panutan bagi adik ipar

    a. Menjadi figure teman adalah pendekatan yang efektif bagi kebanyakan hubungan. Jangankan anak kecil, bahkan orang dewasa sekalipun akan cenderung nyaman diperlakukan sebagai teman yang sejajar derajatnya, daripada sebagai orang yang lebih rendah posisinya (kecuali dalam konteks pekerjaan atau jabatan social). Dengan menjadi teman, maka seseorang akan mudah bersandar, berdiskusi, dan berbagi cerita dengan lebih bebas tanpa perlu takut dihukum ataupun dihakimi.

    b. Untuk itu, mungkin sekali, adik ipar masih tertutup kepada ibu karena konteks hubungan masih seperti atasan-bawahan, yang membuat adik ipar enggan untuk berbagi dikarenakan hal-hal yang dapat membuatnya terhukum atau terhakimi.

    c. Maka, ibu dapat meyakinkan adik ipar dan memperlakukannya seperti adik sendiri, dengan cara sering mengajaknya bermain dan bersama-sama suami ibu, mengajaknya sekali waktu keluar bareng.

    d. Hal ini bila dilakukan secara konsisten perlahan-lahan akan menumbuhkan kepercayaan adik ipar kepada ibu dan suami ibu. Namun, tetap ibu dan suami harus mampu membatasi agar adik ipar tidak menggantikan sosok orang tuanya kepada ibu dan suami (yang notabene kakaknya), melainkan tetap sebagai kakak yang mengayomi dan menjaga adik. Sekaligus juga, meyakinkan mertua bahwa ibu dan suami tidak sedang berusaha menggantikan peran beliau dalam mengasuh adik ipar.

    e. Sediakan waktu, energy, kesabaran, dan perhatian kepada adik ipar dalam proporsi yang sesuai. Seberapa tepatnya proporsi yang sesuai untuk melakukan peran ibu sebagai kakak ipar secara efektif, hanya ibu yang dapat mengukur kadarnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ibu beserta suami. Karena bagaimanapun juga ibu memiliki keluarga sendiri dan mungkin, akan segera menyambut si kecil dalam waktu dekat.

    3. Langkah ke-2 akan menjadi jauh lebih mudah dilakukan, bila langkah-1, sudah terbentuk dengan baik, karena berarti tugas pengasuhan adik ipar, tidak lagi menjadi beban ibu beserta suami semata, melainkan, menjadi beban kepedulian bersama-sama, dengan mertua ibu sebagai pusat kekuatan dan ibu sebagai motivator yang terefektif bagi semua pihak.

    Langkah 1 dan langkah 2, sangat mungkin sekali, tidak semudah seperti membalikkan tangan. Oleh sebab itu, kesabaran dan kepedulian yang tinggi, merupakan pondasi dasar untuk bertahan dalam menghadapi lika-liku yang ibu hadapi dalam menjalankan maksud baik ibu ini.

    Namun, tentu bila ibu mampu bertahan dan ternyata mampu menjadi motivator panutan bagi keluarga suami, bukan tidak mungkin, ke depannya, keluarga ibu akan menjadi keluarga panutan pula, di tengah masyarakat.

    Dari hal-hal kecil, kita mampu menghadapi masalah besar dengan lebih terarah.

    Semoga tips-tips kami bermanfaat bagi ibu.

    Selamat berjuang dan selamat belajar menjadi motivator keluarga, bu ^_^

    Hormat kami

    Tim Psikologi Anak

Have your say!

You must be logged in to post a comment.