Home » Perkembangan Emosi

Perpisahan Orang tua dan Dampaknya kepada anak

13 December 2010 One CommentPrint Artikel Ini Print Artikel Ini

JS wrote:

saya mempunyai anak perempuan usia 5 thn. hubungan antara saya dan istri saat ini mulai renggang dan kami sudah pisah ranjang selama 4 bulan. kami memutuskan untuk pisah dan kedua orang tua kami masing-masing jg sudah menyetujuinya meski dengan berat. banyak teman kami yang menyayangkan keputusan kami. mereka selalu mengatakan apa kalian ga kasihan ma anak kalian??? dan masih banyak lagi saran yang mereka sampaikan tp kami tidak menghiraukan itu semua.

yang jadi pertanyaan saya,,

jika kami tetap bertahan (tidak pisah) tp kami masih dengan sikap kami yang sperti ini dan pura-pura di depan anak kami, apakah anak kami akan tetap tahu kepura-puraan kami? saat anak kami tahu tentang kepura-puraan ini apakah hal ini tidak menggangu anak kami?

terima kasih.


One Comment »

  1. Yth Pak JS

    Kami turut sedih dengan permasalahan yang bapak alami dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

    Memang apapun pilihan kedua orang tua dalam menjalani hidup berkeluarga, pasti berdampak kepada anak, baik dampak yang membahagiakan maupun menyakitkan. Tentu yang terbaik bagi anak, adalah kedua orang tua tetap rujuk dan mampu bersama-sama mengasuh serta membesarkannya sebagai keluarga yang utuh dan harmonis. Namun, tentu bukan berarti orang tua sebagai manusia biasa, harus memaksakan diri bila keadaan memang sudah sulit untuk dihadapi oleh kedua belah pihak karena hanya akan menimbulkan kehambaran (hasil dari kepura-puraan), yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi anak juga, apalagi bila kehambaran tersebut dipenuhi dengan dinginnya hubungan emosional antar orang tua.

    Seperti pepatah mengatakan, “Tidak ada gading yang tak retak.” demikian pula dengan sesempurnanya seseorang, tetap ada kelemahan yang menjadi resiko tidak cocok dengan orang lain. Hanya bapak dan istri bapak yang paham, apakah keutuhan rumah tangga memang sudah tidak memungkinkan untuk diatasi ataukah masih ada jalan yang dapat diupayakan untuk memperbaiki keadaan.

    Konon, menurut petuah bijak dari beberapa sesepuh yang pernah kami temui, rata-rata mengatakan bahwa pertengkaran/ perbedaan antar suami istri justru adalah bumbu penyedap dalam setiap perkawinan. Dua individu yang berbeda dengan satu visi misi yang sama, tentu membutuhkan penyesuaian terus menerus antar satu dengan yang lain untuk mencapai kesepakatan yang sama-sama menyenangkan kedua belah pihak. Dengan adanya pertengkaran, maka akan ada upaya untuk rujuk melalui komunikasi dari hati ke hati. Dan hasilnya, konon, membuat hubungan menjadi lebih mesra. Tentu, asal konfliknya tidak dengan menggunakan lempar piring, gelas pecah, maupun kekerasan fisik/ verbal yang berlebihan. Bila konfliknya sampai seperti ini, hanya akan membuat anak menjadi trauma, dan ujung-ujungnya dapat menjadi agresif juga kelak.

    Dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh kedua orang tualah termasuk cara orang tua menyelesaikan konflik dalam rumah tangga, anak belajar tentang arti sebuah “relationship”, di mana anak mampu belajar bahwa dalam setiap menjalin hubungan dengan orang lain, “konflik” akan selalu ada dan “komunikasi dari hati ke hati” selalu adalah cara terbaik untuk membuat konflik menjadi bumbu penyedap yang nikmat. Hal ini berlaku dalam semua jenis “relationship”, mulai dari yang paling sederhana, yaitu hubungan antar anak dengan orang tua, anak dengan saudara, anak dengan teman, hingga kelak, anak dengan pasangan intim yang dipilihnya ketika waktunya sudah tiba,

    Secara prinsip, semua penyelesaian masalah dalam kasus apapun, hanya terbagi dalam dua kategori saja, yaitu “menghadapi masalah” dan “melarikan diri dari masalah”. Sedangkan keputusan untuk berpisah, menyalahkan, berkomunikasi, dan sebagainya, itu hanyalah variasi teknis dari kedua kategori tersebut.

    Yang mana, yang dipelajari anak sejak dini (umumnya dari kedua orang tuanya), maka, kemungkinan besar, itu yang melekat dalam ingatan anak untuk pemecahan masalah kelak.

    Apapun itu, kami yakin, anda berdua sebagai orang tua, tetap adalah orang tua bagi anak. Ada mantan istri maupun mantan suami, namun, tidak pernah ada mantan ayah, mantan ibu, apalagi mantan anak. Bila perpisahan tidak lagi terelakkan, karena alasan-alasan prinsipiil yang tidak mungkin diatasi, maka meyakinkan dan mengkomitmenkan kepada anak, bahwa dia tidak kehilangan figur orang tua, adalah langkah yang tepat untuk meminimalkan dampak psikis anak.

    Langkah pertama yang dapat kami anjurkan untuk diupayakan oleh kedua orang tua bila harus berpisah adalah Perpisahan baik-baik, dengan kesepakatan yang dewasa antar orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua berpisah saja, sudah menyakitkan anak, apalagi bila perpisahannya dengan penuh konflik, rebutan harta gono gini, hingga rebutan anak.

    Kemudian, langkah kedua yang kami anjurkan adalah komitmen orang tua untuk saling bekerja sama, bergantian mengasuh anak secara berkala, serta mendukung anak dalam proses pendidikan, walaupun bukan lagi sebagai suami-istri dan walaupun kelak, masing-masing kedua orang tua sama-sama menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing.

    Langkah ketiga adalah tetap menjadi figur panutan bagi anak. Kebanyakan anak dari rumah tangga broken home, mengalami pergolakan yang luar biasa, karena dia tidak menemukan panutan yang mampu dijadikan sandaran. Hal ini bisa diperparah bila masing-masing orang tua menikah lagi dengan orang yang tidak mendukung kebutuhan emosional anak secara sehat, seperti yang ditunjukkan oleh film “Ratapan Anak Tiri”.

    Langkah berikutnya yang tak kalah pentingnya, adalah mengajak anggota keluarga yang lain, untuk mendukung anda berdua dan mendukung anak, dengan semampu mungkin, tidak mengungkit-ungkit status perceraian anda kepada anak, agar anak tidak minder, tidak marah, dan tidak benci kepada orang tua, kepada lingkungan sosial, dan terutama, kepada dirinya sendiri.

    Dukungan sosial terhadap anak, akan membantu anak dalam beradaptasi terhadap perubahan status sosialnya. Dan, tentu pada akhirnya, anak tetap mampu belajar menjadi pribadi yang optimis dan percaya diri terhadap nilai-nilai luhur sebuah “relationship”.

    Demikian saran dan masukan kami.

    Semoga bermanfaat bagi permasalahan keluarga bapak dan keluarga.

    Salam sejahtera,

    Tim Psikologi Anak

Have your say!

You must be logged in to post a comment.