anak saya umur 9 th pintar bisa mengoprasikan komputer, tapi dia tidak mau sekolah malas menulis dan berhitung. pernah sekolah tapi akhirnya berhenti. pingin main terus susah dinasehati, gmn cara mengatasinya ?
Terima kasih atas kepercayaan bu RA kepada kami untuk memberikan saran terhadap masalah ibu.
Walaupun sayang sekali, data yang ibu ajukan terbatas, seperti ada berapa jumlah saudara anak ibu di rumah, bagaimana prestasi sebelumnya di sekolah dan sebagainya, namun, kami coba berikan saran semaksimal kami.
Memang teknologi bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, sangat bermanfaat bagi perkembangan wawasan individu di era serba modern ini, bahkan mampu menjadi ladang penghasilan yang sangat memadai. Di sisi lain, ada dampak negative bagi pengguna awam, terutama dalam hal perkembangan mental (kecanduan). Salah satu dampak negative yang seringkali dihadapi oleh usia anak remaja, memang adalah kecanduan game ataupun social networking semacam facebook.
Pada dasarnya, sekali lagi, semua itu dapat bermanfaat untuk mempersiapkan anak mengikuti perkembangan dunia, namun, bila sampai anak kecanduan seperti yang terjadi pada kasus anak ibu, bahkan membuatnya seolah-olah enggan bersentuhan dengan lingkungan social nyata yang lebih formal, maka ada beberapa kemungkinan yang mungkin dapat menjadi dasar dari perilaku anak ibu, yaitu:
A. Kemungkinan masalah gangguan belajar bawaan
Setiap permasalahan yang terkait dengan menulis maupun membaca konvensial, maka orang tua sebaiknya cermat terhadap gangguan ini. Dalam kebanyakan kasus yang pernah kami alami, seringkali hal ini luput dari perhatian dan menilai anak malas belajar atau bodoh dan sebagainya. Hal ini seringkali akan menghambat kepercayaan diri anak yang ujung-ujungnya membuat anak jadi malas sungguhan daripada terus menerus dicerca.
Gangguan belajar bawaan ini sendiri, pada dasarnya, masih dapat diatasi sedini mungkin dengan bantuan terapi yang tepat. Oleh karenanya, untuk memastikan apakah anak ibu memang betul-betul memiliki gangguan tersebut, ibu dapat menghubungi profesional terapis terdekat untuk memperoleh kepastian melalui tes untuk anak berkebutuhan khusus. Dengan begitu, ibu dan anak ibu akan mampu sama-sama memahami di mana letak hambatannya dan bagaimana mengatasinya.
Namun, bila ternyata anak ibu tidak mengidap gangguan belajar dalam bentuk apapun, maka, kami akan coba analisa melalui point B di bawah ini.
B. Kemungkinan masalah trauma dengan sekolah
School bullying (gangguan yang membuat traumatis baik selama di dalam sekolah maupun di luar sekolah dari teman ataupun guru, bisa berupa verbal ataupun fisik), merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh, terutama bila komunikasi orang tua dengan anak kurang lancar, sehingga anak cenderung memilih diam. Hal ini ada kemungkinan memunculkan tanda-tanda sakit setiap mau berangkat sekolah, malas sekali bangun pagi, dan sebagainya.
Bila ciri-ciri itu tampak setiap kali anak mau berangkat dan lebih memilih bermain di depan komputer, maka ibu dapat secara perlahan-lahan dengan nada suara yang bersahabat, bertanya kepada anak masalah yang dia hadapi di sekolah. Kemudian, ibu berkomunikasi dengan guru tanpa dibarengi anak (agar anak tidak semakin malu), sampai guru paham masalah yang sebenarnya. Baru bersama-sama anak, orang tua dan guru bisa berdiskusi mencari solusi bersama-sama. Tentu, ibu bersama suami tetap mendukung anak sebagai pengayom yang bersahabat dan terbuka (tanpa pemaksaan dan kekerasan)
Dengan begitu, anak akan mudah trust terhadap orang tua dan guru-pun juga paham kondisi anak ibu sehingga orang tua, anak dan guru dapat bekerja sama untuk mencari solusi yang termudah.
Namun, bila ternyata anak tidak memiliki trauma sama sekali dengan sekolah, maka kami akan coba analisa melalui point C di bawah ini.
C. Kemungkinan masalah minat dan bakat
Tidak tertutup kemungkinan, bila anak ibu memang kurang tertarik dengan kondisi belajar-mengajar konvensional karena dikaruniai bakat yang lebih tinggi di atas rata-rata sehingga cepat bosan dengan kurikulum di sekolah yang kemungkinan terlalu mudah/ kurang disukai. Namun, tentu untuk memastikan apakah memang anak ibu memiliki bakat yang lebih tinggi (terutama di bidang komputer), maka tetap perlu orang tua pastikan dengan meminta bantuan profesional psikolog terdekat spesialis keberbakatan. Selain itu, orang tua juga cermati dalam sehari-hari apakah minat anak terhadap komputer hanya untuk bermain, atau sampai pada taraf membuat program dan sebagainya.
Di usia 9 tahun, bila sampai mampu membuat program komputer apalagi bila sangat antusias sekali setiap kali diajak berdiskusi tentang komputer beserta seluk beluknya, tentu merupakan tanda yang positif (namun tetap harus dipastikan terlebih dahulu). Bila memang seperti itu kejadian yang dialami anak ibu, maka orang tua (yakni ibu dan suami ibu) tetap mendukung dan mengarahkan agar bakat dan minat anak tidak tersia-siakan begitu saja. Selain itu, orang tua juga dapat mencari informasi mengenai sekolah unggulan untuk anak berbakat (catatan: khusus bila sudah teridentifikasi, karena resikonya adalah stress besar bagi orang tua dan anak, bila ternyata bukan seperti itu).
Bila teridentifikasi berbakat, namun, tidak memungkinkan menyekolahkan anak ke sekolah unggulan karena berbagai sebab, maka, orang tua dapat mengajak anak berkompromi dalam prestasi belajar mengajar di sekolah (artinya: tidak memaksa anak untuk harus mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran, yang penting, tetap konsisten belajar demi kesuksesan di masa depan, dengan tanpa mengurangi aktivitasnya dalam mengasah bakat di komputer).
Namun, bila ternyata, kasus yang menimpa anak ibu, hanyalah menghabiskan waktu untuk bermain (tidak lebih dan tidak kurang), maka kami coba analisa melalui poin D di bawah ini.
D. Kemungkinan kebiasaan
Habit yang sudah terbentuk, tanpa disiplin yang konsisten dalam keluarga, bisa jadi mendukung terbentuknya kepribadian anak secara permanen hingga masa dewasa. Dalam hal ini, orang tua perlu mencermati apakah kebiasaan anak yang kemudian merembet ke keengganan untuk berinteraksi dalam lingkungan sekolah formal, merupakan keasyikannya untuk bermain tanpa kontrol yang konsisten dan tegas. Di sini peran pola asuh dan komunikasi yang terjalin secara bersahabat antara anak dan orang tua menjadi sangat penting. Sehingga anak akan mudah menerima arahan orang tua (tanpa perasaan tertekan/ terpaksa, apalagi acuh tak acuh).
Karena anak sudah terlanjur berhenti sekolah, maka ibu dan suami ibu bisa memulai dengan mengajak anak diskusi dalam suasana yang sangat menyenangkan dan membuat anak yakin, bahwa orang tua bukanlah monster yang menakutkan, melainkan pengayom anak demi kebahagiaannya dan masa depannya. Tentu, mungkin sekali akan butuh waktu, tidak dapat langsung tampak hasilnya, terutama bila selama, komunikasi memang kurang terjalin dalam ikatan emosional yang erat. Di samping itu, orang tua juga dapat memberi kegiatan lain yang bertanggung jawab bagi anak, seperti misalkan jadwal membersihkan rumah, jadwal tidur, dan sebagainya.
Dengan begitu, anak mulai dapat belajar tentang jadwal yang terstruktur. Selain itu, orang tua-pun juga dapat sering mengajak anak bermain sekolah-sekolahan ataupun mengajak anak nonton bareng acara tv semacam Who Wants To Be A Millionaire dan sejenisnya. Dari sana, orang tua akan dapat memberikan masukan secara tidak langsung, fungsi pengetahuan umum yang diperoleh di sekolah untuk masa depan.
Kunci utamanya menurut kami adalah “Kepastian Masalah”, artinya, orang tua harus dapat memahami apa sebenarnya masalahnya, apakah gangguan belajar bawaan, apakah trauma, apakah masalah minat dan bakat, atau memang masalah kebiasaan. Dengan kejelasan masalah tersebut, maka tentu kita dapat lebih mudah mencari solusi dalam mengatasinya dan tidak perlu sampai keliru dalam mengarahkan potensi-potensi anak.
Demikian sementara saran yang kami berikan. Bila ada data selanjutnya yang lebih luas untuk memperjelas masalah, dengan senang hati, kami akan membantu.
Yth Bu RA
Terima kasih atas kepercayaan bu RA kepada kami untuk memberikan saran terhadap masalah ibu.
Walaupun sayang sekali, data yang ibu ajukan terbatas, seperti ada berapa jumlah saudara anak ibu di rumah, bagaimana prestasi sebelumnya di sekolah dan sebagainya, namun, kami coba berikan saran semaksimal kami.
Memang teknologi bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, sangat bermanfaat bagi perkembangan wawasan individu di era serba modern ini, bahkan mampu menjadi ladang penghasilan yang sangat memadai. Di sisi lain, ada dampak negative bagi pengguna awam, terutama dalam hal perkembangan mental (kecanduan). Salah satu dampak negative yang seringkali dihadapi oleh usia anak remaja, memang adalah kecanduan game ataupun social networking semacam facebook.
Pada dasarnya, sekali lagi, semua itu dapat bermanfaat untuk mempersiapkan anak mengikuti perkembangan dunia, namun, bila sampai anak kecanduan seperti yang terjadi pada kasus anak ibu, bahkan membuatnya seolah-olah enggan bersentuhan dengan lingkungan social nyata yang lebih formal, maka ada beberapa kemungkinan yang mungkin dapat menjadi dasar dari perilaku anak ibu, yaitu:
A. Kemungkinan masalah gangguan belajar bawaan
Setiap permasalahan yang terkait dengan menulis maupun membaca konvensial, maka orang tua sebaiknya cermat terhadap gangguan ini. Dalam kebanyakan kasus yang pernah kami alami, seringkali hal ini luput dari perhatian dan menilai anak malas belajar atau bodoh dan sebagainya. Hal ini seringkali akan menghambat kepercayaan diri anak yang ujung-ujungnya membuat anak jadi malas sungguhan daripada terus menerus dicerca.
Gangguan belajar bawaan ini sendiri, pada dasarnya, masih dapat diatasi sedini mungkin dengan bantuan terapi yang tepat. Oleh karenanya, untuk memastikan apakah anak ibu memang betul-betul memiliki gangguan tersebut, ibu dapat menghubungi profesional terapis terdekat untuk memperoleh kepastian melalui tes untuk anak berkebutuhan khusus. Dengan begitu, ibu dan anak ibu akan mampu sama-sama memahami di mana letak hambatannya dan bagaimana mengatasinya.
Namun, bila ternyata anak ibu tidak mengidap gangguan belajar dalam bentuk apapun, maka, kami akan coba analisa melalui point B di bawah ini.
B. Kemungkinan masalah trauma dengan sekolah
School bullying (gangguan yang membuat traumatis baik selama di dalam sekolah maupun di luar sekolah dari teman ataupun guru, bisa berupa verbal ataupun fisik), merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh, terutama bila komunikasi orang tua dengan anak kurang lancar, sehingga anak cenderung memilih diam. Hal ini ada kemungkinan memunculkan tanda-tanda sakit setiap mau berangkat sekolah, malas sekali bangun pagi, dan sebagainya.
Bila ciri-ciri itu tampak setiap kali anak mau berangkat dan lebih memilih bermain di depan komputer, maka ibu dapat secara perlahan-lahan dengan nada suara yang bersahabat, bertanya kepada anak masalah yang dia hadapi di sekolah. Kemudian, ibu berkomunikasi dengan guru tanpa dibarengi anak (agar anak tidak semakin malu), sampai guru paham masalah yang sebenarnya. Baru bersama-sama anak, orang tua dan guru bisa berdiskusi mencari solusi bersama-sama. Tentu, ibu bersama suami tetap mendukung anak sebagai pengayom yang bersahabat dan terbuka (tanpa pemaksaan dan kekerasan)
Dengan begitu, anak akan mudah trust terhadap orang tua dan guru-pun juga paham kondisi anak ibu sehingga orang tua, anak dan guru dapat bekerja sama untuk mencari solusi yang termudah.
Namun, bila ternyata anak tidak memiliki trauma sama sekali dengan sekolah, maka kami akan coba analisa melalui point C di bawah ini.
C. Kemungkinan masalah minat dan bakat
Tidak tertutup kemungkinan, bila anak ibu memang kurang tertarik dengan kondisi belajar-mengajar konvensional karena dikaruniai bakat yang lebih tinggi di atas rata-rata sehingga cepat bosan dengan kurikulum di sekolah yang kemungkinan terlalu mudah/ kurang disukai. Namun, tentu untuk memastikan apakah memang anak ibu memiliki bakat yang lebih tinggi (terutama di bidang komputer), maka tetap perlu orang tua pastikan dengan meminta bantuan profesional psikolog terdekat spesialis keberbakatan. Selain itu, orang tua juga cermati dalam sehari-hari apakah minat anak terhadap komputer hanya untuk bermain, atau sampai pada taraf membuat program dan sebagainya.
Di usia 9 tahun, bila sampai mampu membuat program komputer apalagi bila sangat antusias sekali setiap kali diajak berdiskusi tentang komputer beserta seluk beluknya, tentu merupakan tanda yang positif (namun tetap harus dipastikan terlebih dahulu). Bila memang seperti itu kejadian yang dialami anak ibu, maka orang tua (yakni ibu dan suami ibu) tetap mendukung dan mengarahkan agar bakat dan minat anak tidak tersia-siakan begitu saja. Selain itu, orang tua juga dapat mencari informasi mengenai sekolah unggulan untuk anak berbakat (catatan: khusus bila sudah teridentifikasi, karena resikonya adalah stress besar bagi orang tua dan anak, bila ternyata bukan seperti itu).
Bila teridentifikasi berbakat, namun, tidak memungkinkan menyekolahkan anak ke sekolah unggulan karena berbagai sebab, maka, orang tua dapat mengajak anak berkompromi dalam prestasi belajar mengajar di sekolah (artinya: tidak memaksa anak untuk harus mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran, yang penting, tetap konsisten belajar demi kesuksesan di masa depan, dengan tanpa mengurangi aktivitasnya dalam mengasah bakat di komputer).
Namun, bila ternyata, kasus yang menimpa anak ibu, hanyalah menghabiskan waktu untuk bermain (tidak lebih dan tidak kurang), maka kami coba analisa melalui poin D di bawah ini.
D. Kemungkinan kebiasaan
Habit yang sudah terbentuk, tanpa disiplin yang konsisten dalam keluarga, bisa jadi mendukung terbentuknya kepribadian anak secara permanen hingga masa dewasa. Dalam hal ini, orang tua perlu mencermati apakah kebiasaan anak yang kemudian merembet ke keengganan untuk berinteraksi dalam lingkungan sekolah formal, merupakan keasyikannya untuk bermain tanpa kontrol yang konsisten dan tegas. Di sini peran pola asuh dan komunikasi yang terjalin secara bersahabat antara anak dan orang tua menjadi sangat penting. Sehingga anak akan mudah menerima arahan orang tua (tanpa perasaan tertekan/ terpaksa, apalagi acuh tak acuh).
Karena anak sudah terlanjur berhenti sekolah, maka ibu dan suami ibu bisa memulai dengan mengajak anak diskusi dalam suasana yang sangat menyenangkan dan membuat anak yakin, bahwa orang tua bukanlah monster yang menakutkan, melainkan pengayom anak demi kebahagiaannya dan masa depannya. Tentu, mungkin sekali akan butuh waktu, tidak dapat langsung tampak hasilnya, terutama bila selama, komunikasi memang kurang terjalin dalam ikatan emosional yang erat. Di samping itu, orang tua juga dapat memberi kegiatan lain yang bertanggung jawab bagi anak, seperti misalkan jadwal membersihkan rumah, jadwal tidur, dan sebagainya.
Dengan begitu, anak mulai dapat belajar tentang jadwal yang terstruktur. Selain itu, orang tua-pun juga dapat sering mengajak anak bermain sekolah-sekolahan ataupun mengajak anak nonton bareng acara tv semacam Who Wants To Be A Millionaire dan sejenisnya. Dari sana, orang tua akan dapat memberikan masukan secara tidak langsung, fungsi pengetahuan umum yang diperoleh di sekolah untuk masa depan.
Kunci utamanya menurut kami adalah “Kepastian Masalah”, artinya, orang tua harus dapat memahami apa sebenarnya masalahnya, apakah gangguan belajar bawaan, apakah trauma, apakah masalah minat dan bakat, atau memang masalah kebiasaan. Dengan kejelasan masalah tersebut, maka tentu kita dapat lebih mudah mencari solusi dalam mengatasinya dan tidak perlu sampai keliru dalam mengarahkan potensi-potensi anak.
Demikian sementara saran yang kami berikan. Bila ada data selanjutnya yang lebih luas untuk memperjelas masalah, dengan senang hati, kami akan membantu.
Semoga sukses bu!
Salam,
Tim Psikologianak.co.id
26 October 2010 at 1:58 pm